Penyebab Gigi Anak Rusak dan Cara Merawatnya, Orangtua Perlu Tahu

(0)
07 Oct 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Gigi anak rusak bisa disebabkan karena gigi berlubang, benturan, dan penyakit lainnyaGigi anak rusak bisa memberikan efek jangka panjang bahkan hingga ia dewasa
Ayah dan Bunda, gigi anak rusak tidaklah boleh disepelekan. Meski gigi tersebut nantinya akan copot dan digantikan oleh gigi permanen, gigi susu yang rusak bisa memberikan dampak dalam jangka panjang, bahkan saat anak dewasa.Ada banyak penyebab gigi anak rusak dan sebagian besar sebenarnya bisa dicegah. Sementara itu untuk gigi anak yang sudah terlanjur berlubang, kotor, maupun copot sebelum waktunya, ada langkah perawatan yang dapat dilakukan untuk merawatnya.

Penyebab gigi anak rusak dan cara merawatnya

Gigi berlubang, gusi bengkak, hingga benjolan di gusi adalah masalah yang umum dialami anak-anak Indonesia. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan gigi rusak, berikut di antaranya.

1. Kebiasaan minum susu sebelum tidur

Penyebab gigi anak rusak salah satunya karena minum susu sebelum tidur
Minum susu sebelum tidur bisa membuat gigi anak rusak
Seringkali anak tidur dalam kondisi masih mengisap susu dari botol. Hal ini, meski umum terjadi, bisa menyebabkan terjadinya baby bottle tooth decay alias gigis.Anak yang gigis, gigi bagian depannya (biasanya dari gigi seri hingga taring) akan terlihat habis karena rusak dan berlubang.Tidak hanya menjadikan anak terlihat gigis, kebiasaan ini juga akan membuat gigi anak yang lain, berlubang besar.

Cara mengatasinya:

Gigi yang gigis pada anak-anak, sebisa mungkin jangan dicabut. Gigi susu yang masih bisa dipertahankan, harus dijaga hingga waktunya tanggal.Gigi gigis bisa dirawat dengan ditambal. Pada kondisi gigis yang sudah parah, dokter gigi mungkin akan menyarankan perawatan saluran akar.Untuk menutupi penampakan gigi yang kecoeklatan, setelah perawatan saluran akar dokter bisa menutup gigi dengan memasang mahkota jaket atau dental crown.

2. Sering mengisap ibu jari

Mengisap ibu jari bisa membuat gigi anak rusak
Kebiasaan mengisap jempol bisa membuat gigi anak rusak
Anak kecil memiliki kebiasaan mengisap ibu jari memang bukan hal yang aneh. Namun, jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan bahkan hingga masuk usia balita atau lebih, maka hal ini bisa menyebabkan susunan gigi anak berantakan.Sering mengisap jari membuat gigi anak berisiko bergerak lebih maju dari yang seharusnya alias tonggos.Apabila gigi susunya maju, susunan gigi permanen anak pun berisiko jadi berantakan.

Cara mengatasinya:

Untuk menghilangkan kebiasaan anak mengisap ibu jari, orangtua disarankan untuk memberikan reward atau melakukan positive reinforcement. Artinya, Anda dapat memberikan hadiah atau pujian, ketika anak berhasil menahan diri untuk tidak mengisap ibu jari.Omelan dan ketegasan dianggap kurang berguna untuk menghentikan kebiasaan ini. Sebab, mengisap ibu jari biasanya adalah bagian dari cara anak mempertahankan diri dari rasa stres, takut, dan emosi negatif lainnya.Anda juga bisa berkonsultasi ke dokter gigi soal hal ini. Dokter dapat membuatkan alat yang dipasang di rongga mulut untuk membuat anak menghentikan kebiasaan ini.Sementara itu untuk mengatasi susunan gigi yang berantakan akibat kebiasaan ini, anak bisa mulai menggunakan kawat gigi, memasuki usia remaja remaja.Baca Juga: Cara mencabut gigi anak di rumah yang tepat dan aman

3. Tidak sikat gigi dengan baik dan benar

Tidak rajin sikat gigi bisa membuat gigi anak rusak
Gigi anak rusak akibat tidak rajin sikat gigi
Anak harus dibiasakan menyikat gigi dengan baik dan benar sejak dini, bahkan sebelum gigi susunya mulai tumbuh.
Saat bayi, orangtua perlu membersihkan gusi dan lidah anak dengan lap khusus yang saat ini banyak tersedia di pasaran. Hal ini perlu dilakukan karena sisa susu yang menempel, bisa menjadi ladang makanan untuk bakteri.
Lalu, setelah gigi mulai tumbuh, orangtua harus langsung mengenalkannya pada aktivitas sikat gigi.Anak yang tidak pernah atau jarang sikat gigi, giginya bisa lebih mudah berlubang. Selain itu, bau mulut dan radang gusi pun jadi lebih mudah menyerang.

Cara mengatasinya:

Anak perlu dibiasakan untuk sikat gigi mulai dari bayi. Gunakan pasta gigi ber fluoride yang khusus dibuat untuk bayi.
Saat menyikat gigi, gunakan pasta gigi sedikit saja (sebesar 1 bulir beras) dan pilih sikat yang sesuai dengan usia dan jumlah gigi bayi.
Di usia 2 tahun, mulai ajarkan anak untuk mengeluarkan air liur dan sisa-sisa pasta gigi setelah sikat gigi. Lalu mulai usia 3 tahun, ia sudah mulai bisa menggunakan pasta gigi berfluoride sebesar kacang polong sekali sikat gigi.

4. Membiarkan gigi copot sebelum waktunya

Gigi copot sebelum waktunya bisa bikin susunan gigi anak rusak
Gigi yang copot sebelum waktunya bisa membuat susunan gigi anak rusak
Copotnya gigi susu, secara normal mengikuti siklus sesuai usia. Seperti gigi seri bawah, misalnya, secara normal akan copot begitu anak memasuki usia 6-7 tahun. Setelah itu, gigi permanennya akan mulai muncul sebagai pengganti.Jika gigi seri bawah itu sudah copot saat anak berusia 3 atau 4 tahun, maka hal ini bisa menimbulkan masalah. Sebab, salah satu fungsi gigi susu adalah sebagai “penjaga ruang” untuk tumbuhnya gigi permanen.Secara medis, kondisi ini disebut sebagai premature loss.Jika ruang itu tidak dijaga, maka gusi yang kosong karena ditinggalkan oleh gigi itu akan diisi oleh gigi-gigi di sebelahnya yang bergeser. Akibatnya, gigi permanen tidak memiliki cukup ruang saat tumbuh, dan susunan gigi menjadi berantakan.Memiliki gigi yang berantakan, membuat risiko anak mengalami gigi berlubang maupun masalah gusi, lebih besar.

Cara mengatasinya:

Untuk menjaga ruang yang ditinggalkan gigi yang copot sebelum waktunya, dokter gigi akan membuatkan alat bernama space maintainer. Alat ini hampir mirip dengan kawat gigi lepasan dan perlu dipasang hingga gigi permanen mulai tumbuh.

5. Membiarkan gigi susu bertahan lebih lama dari seharusnya

Gigi permanen tumbuh di belakang gigi susu, tanda gigi anak rusak
Gigi permanen tumbuh di belakang gigi susu akibat persistensi gigi
Kebalikan dari kondisi premature loss adalah persistensi gigi susu. Persistensi adalah kondisi saat gigi sudah waktunya copot, tapi tidak kunjung lepas dengan sendirinya.Pada banyak kasus persistensi, gigi susu yang telat lepas, akan didahului oleh tumbuhnya gigi permanen.

Misalnya:

Gigi susu seri bawah harusnya copot antara usia 6-7 tahun. Lalu, saat anak sudah berusia lebih dari 7 tahun, gigi susu bawahnya belum juga lepas.Namun, karena di usia ini gigi permanen sudah waktunya tumbuh, maka ia akan tetap tumbuh, tapi menumpuk di belakang atau depan gigi susu yang masih bertahan. Sehingga, susunan gigi permanennya berantakan.

Cara mengatasinya:

Gigi yang persisten harus segera dicabut agar gigi permanen yang tumbuh bisa mendapatkan ruang yang diperlukan. Jika diperlukan, gigi persisten dapat segera segera dicabut sebelum gigi permanen tumbuh sepenuhnya.Baca Juga: Urutan pertumbuhan gigi susu anak sesuai usia

6. Trauma fisik

Trauma fisik seperti benturan juga bisa membuat gigi anak rusak. Pada beberapa kasus, benturan yang diterima gigi anak selain bisa membuat gigi patah dan retak, juga dapat mengganggu pertumbuhan gigi permanen kelak.

Cara mengatasinya:

Jika gigi anak mengalami patah atau retak akibat benturan, maka dokter bisa melakukan penambalan.
Sementara itu jika yang tersisa hanya tinggal akar gigi dan gigi tersebut belum waktunya copot, maka anak bisa menjalani perawatan saluran akar dilanjutkan dengan pemasangan mahkota jaket.

Cara mencegah gigi anak agar tidak rusak

Anda dapat mengikuti langkah-langkah di bawah untuk mencegah kerusakan pada gigi anak.
  • Sikat gigi anak dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur, menggunakan pasta gigi berfluoride dan sikat gigi berbulu halus.
  • Cegah anak mengonsumsi terlalu banyak makanan manis dan lengket.
  • Lakukan kunjungan ke dokter gigi minimal setiap enam bulan sekali .
Bila perlu, dokter dapat memberikan perawatan tambahan dengan mengoleskan fluoride di gigi anak untuk mencegah gigi berlubang.Saat ini, mungkin ada orangtua yang khawatir akan penggunaan fluoride pada anak-anaknya karena merasa bisa berlebihan. Namun, fluoride yang ada di pasta gigi, sejauh ini aman untuk digunakan dan tidak memicu fluorosis (perubahan enamel gigi).Fluoride sangat penting untuk mencegah gigi berlubang pada anak maupun dewasa. Jika gigi anak berlubang, maka berbagai gangguan lain seperti gusi bengkak hingga bau mulut juga akan dengan mudah menghampirinya.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar cara merawat gigi anak yang rusak, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tumbuh gigi pada bayikesehatan gigiabses gigigigi berlubang
WebMD. https://www.webmd.com/oral-health/oral-health-problems-children#1
Diakses pada 22 September 2020
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/healthy.html
Diakses pada 22 September 2020
University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P01848
Diakses pada 22 September 2020
CDC. https://www.cdc.gov/oralhealth/basics/childrens-oral-health/fl_caries.htm
Diakses pada 22 September 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5944594/
Diakses pada 22 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait