Salah satu penyebab depresi adalah ketidakseimbangan zat kimia di otak
Orang yang menderita depresi mengalami kesedihan yang sangat mendalam

Kondisi depresi menjadi gangguan mental yang serius. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, prevalensi masyarakat yang mengalami depresi diperkirakan mencapai 6% dari total populasi, pada tahun 2018.

Depresi merupakan gangguan mental yang sangat kompleks. Depresi memengaruhi mood, sehingga penderitanya dilingkupi rasa sedih yang amat mendalam, serta kehilangan minat untuk melakukan berbagai aktivitas. Perlu digarisbawahi, depresi bukanlah rasa sedih yang biasa, dan dapat berpotensi pada bunuh diri.

Penyebab depresi yang diyakini para ahli

Sebenarnya, belum diketahui penyebab depresi yang pasti. Walau begitu, para ahli menduga ada faktor genetis dan ketidakseimbangan zat kimia di tubuh, yang dapat memicu kondisi ini.
Berikut ini penyebab depresi yang diyakini oleh para ahli.

  • Faktor genetis atau keturunan

Berbagai penelitian telah berusaha menghubungkan depresi dengan faktor genetis. Ilmuwan meyakini, seseorang bisa berisiko untuk menderita depresi, apabila ia memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa. Faktor genetik diperkirakan berkontribusi terhadap 40% penyebab depresi.

Depresi menjadi penyakit keturunan, termasuk dari orangtua ke anak

Hingga saat ini, jenis gen pemicu kondisi depresi masih belum diketahui. Namun, diyakini ada banyak jenis gen yang berkontribusi terhadap gangguan ini.

  • Ketidakseimbangan zat kimia di otak

Beberapa orang depresi menunjukkan adanya perubahan kondisi kimiawi di dalam organ otak mereka. Penderita depresi memiliki ketidakseimbangan neurotransmiter, yaitu senyawa kimia yang berperan dalam komunikasi antar bagian otak, serta terlibat dalam pengaturan mood dan perasaan bahagia manusia.

Menurut teori, neurotransmiter, seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin yang terlalu sedikit atau malah berlebihan di otak, dapat menjadi penyebab depresi, atau setidaknya berkontribusi terhadap kondisi ini. Teori ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, karena belum dapat menggambarkan kompleksnya kondisi depresi.

Beberapa obat, yang dikenal sebagai antidepresan, telah digunakan untuk mengobati gangguan tersebut. Antidepresan terdiri atas beberapa golongan, yang bekerja untuk memastikan kecukupan neurotransmiter di otak.

  • Perubahan hormon

Bukan hanya ketidakseimbangan neurotransmiter yang menjadi penyebab depresi. Para ahli juga menilai, perubahan produksi dan fungsi hormon, dapat berujung pada kondisi mental ini.

Perubahan keadaan hormon tersebut, bisa disebabkan oleh gangguan medis yang terjadi pada Anda. Misalnya, menopause, persalinan, atau gangguan tiroid. Depresi postpartum, merupakan salah satu gangguan psikologis karena perubahan hormon, yang terjadi pascapersalinan.

  • Kejadian pahit

Penyebab depresi lainnya yakni kejadian dan peristiwa dalam hidup. Ada banyak momen pahit, yang membuat seseorang mengalami depresi. Beberapa contoh kejadian tersebut, misalnya kehilangan seseorang yang disayangi, dipecat dari pekerjaan, atau memiliki masalah finansial.

Selain itu, pelecehan dan kekerasan seksual, kekerasan fisik, dan kekerasan emosional di masa lalu, juga bisa menjadi penyebab depresi.

Selain penyebabnya, ketahui pula faktor risiko depresi ini

Selain penyebab depresi di atas, ada pula beberapa beberapa faktor risiko, yang dapat mengakibatkan depresi. Beberapa faktor risiko tersebut, meliputi:

  • Jenis kelamin. Perempuan memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami depresi daripada laki-laki
  • Menyukai sesama jenis (homoseksual), menyukai perempuan dan laki-laki (biseksual), dan memiliki identitas seksual yang berbeda dengan jenis kelamin (transgender). Dalam pengertian sempit, kelompok ini dikenal sebagai lesbian, gay, biseksual, transgender atau kelompok LGBT
  • Memiliki rasa percaya diri yang rendah
  • Melakukan penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat tidur
  • Menderita penyakit kronis
  • Menderita penyakit mental lainnya, seperti gangguan kecemasan dan gangguan bipolar
Seseorang dengan orientasi seksual menyukai sesama jenis berisiko untuk mengalami depresi

Cari pertolongan medis, jika menunjukkan gejala depresi

Depresi dapat terjadi pada semua orang dari berbagai kalangan, tak terkecuali anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia. Apabila Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala depresi, terlebih dapat mengindentifikasi penyebabnya, segera cari bantuan ahli kejiwaan.

Depresi dapat mengintai orang-orang terdekat Anda

Beberapa gejala depresi yang umum yakni terus-menerus bersedih, merasa tidak bahagia, frustrasi, hingga tidak lagi tertarik untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk yang menyenangkan sekalipun. Gejala depresi lainnya yakni mudah marah, selalu merasa lelah, gangguan tidur, hingga memiliki keinginan bunuh diri.

Hanya dokter yang bisa mendiagnosis kondisi depresi pada diri seorang. Hindari diagnosis diri sendiri, karena berisiko terhadap kesalahan diagnosis hingga penanganan yang keliru.

Untuk penanganan depresi, dokter mungkin akan merekomendasikan psikoterapi, pemberian obat antidepresan, atau kombinasi keduanya. Penanganan depresi juga akan bergantung pada kondisi tiap kasus, karena penyebab depresi dan gejalanya dapat berbeda, antara satu orang dengan yang lainnya.

Healthline. https://www.healthline.com/health/depression/causes
Diakses pada 23 Agustus 2019

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/common-causes-of-depression-1066772
Diakses pada 23 Agustus 2019

Web MD. https://www.webmd.com/depression/guide/causes-depression
Diakses pada 23 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed