Waspadai Penyebab dan Gejala Tetanus pada Anak Berikut Ini

Seperti halnya orang dewasa, tetanus pada anak juga disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani
Tetanus bukanlah penyakit menular dan dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sejak bayi.

Tetanus merupakan suatu penyakit serius yang dapat menyebabkan gangguan pada otot serta sistem saraf pusat. Pada kondisi yang parah, penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian.

Bahaya tetanus dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Karena itu, penting bagi orangtua, untuk mengenali gejala tetanus, agar dapat segera mencari perawatan yang tepat.

Tetanus bukanlah penyakit menular dan dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sejak bayi berusia 2 bulan. Melihat bahaya yang dapat ditimbulkannya, vaksin tetanus masuk sebagai salah satu imunisasi dasar yang perlu dipenuhi.

Bahaya tetanus disebabkan oleh bakteri di tanah

Sama seperti pada orang dewasa, bahaya tetanus pada anak juga disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini biasa terdapat di tanah dan dapat mengeluarkan racun yang dapat menempel di saraf yang berada di sekitar area tubuh yang terluka.

Kemudian, racun ini menyebar ke saraf yang berada di otak dan tulang belakang. Setelah menyebar hingga ke otak, bakteri tersebut dapat mengganggu fungsi saraf, terutama bagian saraf motorik yang mengatur otot.

Seorang anak dapat terserang tetanus saat mengalami luka tusuk yang terkontaminasi, misalnya akibat seperti menginjak paku secara tidak sengaja.

Luka lain yang tidak segera dibersihkan sehingga terkontaminasi tanah, kotoran, atau air liur, juga dapat menjadi pemicu timbulnya tetanus. Penyakit tetanus juga dapat terjadi pada bayi. Tetanus pada bayi disebut sebagai tetanus neonatal.

Neonatal tetanus merupakan infeksi tetanus yang muncul akibat penggunaan alat yang kurang steril saat proses persalinan. Umumnya, infeksi berasal dari alat pemotong tali pusar, yang tidak steril.

Selain itu, memberikan bahan tradisional yang tidak steril pada benjolan yang muncul setelah dipotongnya tali pusar, dapat memicu timbulnya infeksi ini.

Pada kasus tertentu, neonatal tetanus terjadi karena proses kelahiran dibantu oleh orang lain yang tidak dalam keadaan steril, atau proses persalinan berlangsung di tempat yang tidak steril.

Kenali gejala tetanus pada anak berikut ini

Gejala tetanus akan mulai muncul 3-21 hari setelah seorang anak terpapar bakteri penyebab tetanus. Sementara pada bayi, gejala akan mulai muncul 3-14 hari setelah terjadinya paparan.

Kondisi yang dapat ditandai sebagai gejala tetanus dapat bersifat individual. Berikut ini gejala yang paling umum muncul pada penderita tetanus.

  • Rahang menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan
  • Perut dan punggung kaku
  • Otot wajah mengalami kontraksi
  • Detak jantung menjadi cepat
  • Kejang
  • Demam
  • Muncul banyak keringat
  • Kram otot yang terasa nyeri di area sekitar luka. Apabila kram ini terjadi pada laring (kotak suara) atau dada, anak mungkin akan kesulitan untuk bernapas.
  • Kesulitan menelan

Sementara itu pada tetanus neonatal, gejala umumnya akan muncul 3-28 hari setelah bayi lahir, dengan waktu rata-rata kemunculan setelah 7 hari.

Kondisi yang dapat menjadi penanda awal munculnya gejala tetanus ini adalah ketidakmampuan bayi untuk mengisap maupun menyusu, dan menangis terus-menerus.

Selain itu, muncul gejala khas tetanus seperti kontraksi otot wajah dan kaku rahang, sehingga bayi tidak dapat membuka mulut.

Posisi tulang belakang yang melengkung juga bisa menandakan gejala tetanus neonatal pada tubuh bayi.

Gejala-gejala tetanus bisa menyerupai kondisi penyakit lainnya. Karena itu, saat anak menunjukkan salah satu atau beberapa kondisi di atas, segera hubungi dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, serta perawatan yang efektif.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/tetanus.html
Diakses pada 25 April 2019

University of Rochester Medical Centre. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=p02549
Diakses pada 25 April 2019

Standford’s Children Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=tetanus-in-children-90-P02549
Diakses pada 25 April 2019

World Health Organization. https://www.who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/WHO_SurveillanceVaccinePreventable_14_NeonatalTetanus_R1.pdf
Diakses pada 25 April 2019

Ikatan Dokter Anak Indonesia. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
Diakses pada 25 April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed