Penyebab Cerebral Palsy dan Cara Efektif Mengenali Gejalanya pada Anak

Cerebral palsy adalah gangguan lumpuh otak yang dapat terjadi sejak bayi masih di dalam kandungan
Kerusakan otak pada cerebral palsy menyebabkan kemampuan motorik penderitanya terganggu

Tidak ada orangtua yang berharap anaknya lahir dengan cacat bawaan seperti cerebral palsy. Sayangnya, sebagian besar kondisi ini tidak bisa dihindari karena penyebab cerebral palsy sendiri tidak diketahui secara pasti.

Cerebral palsy, yang juga sering disebut sebagai lumpuh otak, adalah kelainan fungsi tubuh yang mengganggu perkembangan otot dan kemampuan motorik seseorang. Kondisi ini membuat penderitanya mengalami keterbatasan dalam bergerak dan menjaga keseimbangan.

Cerebral palsy juga bisa memengaruhi fungsi tubuh lain yang membutuhkan koordinasi otot dan saraf motorik, misalnya bernapas, buang air kecil dan besar, makan, hingga bicara. Sebagian besar kasus cerebral palsy terjadi di awal-awal kelahiran bayi hingga anak berusia 5 tahun.

Apa penyebab cerebral palsy?

Mayoritas penyebab cerebral palsy adalah kerusakan otak atau disebut juga sebagai lumpuh otak. Kondisi ini bahkan bisa terjadi sejak bayi masih di dalam kandungan sehingga dinamakan sebagai cerebral palsy kongenital.

Meskipun demikian, penyebab cerebral palsy kongenital itu sendiri tidak diketahui secara pasti. Hanya saja, bayi berisiko mengalami kelumpuhan otak ketika:

  • Lahir dengan berat badan terlalu kecil
  • Lahir belum cukup bulan (prematur)
  • Memiliki saudara di dalam kandungan (kembar dua atau lebih)
  • Ibu hamil lewat program in vitro (bayi tabung)
  • Ibu hamil terkena infeksi tertentu
  • Terkena kernikterus, yakni jaundice (penyakit kuning) yang tidak ditangani segera
  • Mengalami komplikasi saat melahirkan

Bagi sebagian kecil pasien, penyebab cerebral palsy berupa kerusakan otak yang terjadi lebih dari 28 hari setelah melahirkan. Kondisi ini disebut sebagai acquired cerebral palsy dengan faktor risiko sebagai berikut:

  • Bayi atau anak terkena infeksi, misalnya meningitis
  • Bayi atau anak mengalami cedera kepala yang serius

Jenis cerebral palsy

Penyebab cerebral palsy berupa kelumpuhan otak tersebut bisa mengakibatkan tiga hal, yakni:

  • Kaku otot (spastis)
  • Pergerakan yang tidak bisa dikontrol (diskinesia)
  • Keseimbangan dan koordinasi yang buruk (ataxia)

Tiga jenis kelumpuhan otak di atas menghasilkan empat tipe cerebral palsy, yaitu:

  • Cerebral palsy spastik: tipe yang paling awam terjadi, yakni hingga 80% penderita cerebral palsy adalah spastik. Tipe ini membuat penderitanya mengalami kaku otot.
  • Cerebral palsy diskinetik: penderitanya mengalami pergerakan otot yang tidak bisa dikontrol sehingga menyulitkannya untuk berjalan bahkan duduk. Kondisi ini juga sering memengaruhi otot muka sehingga mimik wajah penderitanya bisa berubah-ubah.
  • Cerebral palsy ataksik: penderitanya kesulitan melakukan pergerakan yang butuh koordinasi otot tingkat tinggi, misalnya menulis atau bergerak cepat.
  • Cerebral palsy campuran: seseorang bisa mengalami lebih dari satu tipe cerebral palsy, biasanya spastik-diskinektik.

Bagaimana gejala cerebral palsy pada anak?

Selain mewaspadai faktor risiko dan penyebab cerebral palsy, sangat penting bagi orangtua untuk selalu memantau perkembangan bayi, terutama di tahun pertamanya. Terdapat beberapa target gerakan, disebut juga milestone, yang menandakan perkembangan saraf motorik anak, seperti berguling, berdiri, dan berjalan.

Terjadinya penundaan pada pencapaian milestone itu bisa jadi merupakan tanda terjadinya cerebral palsy pada anak. Berikut beberapa gejala cerebral palsy yang bisa Anda perhatikan pada anak:

1. Gejala cerebral palsy pada bayi 3-6 bulan

  • Kepala bayi terkulai ke belakang ketika digendong dari posisi tidur
  • Otot bayi terasa kaku
  • Bayi terlihat lemas
  • Terlihat seperti meregangkan punggung atau leher ketika digendong dalam pelukan seseorang
  • Kaki terlihat menyilang ketika diangkat

2. Gejala cerebral palsy pada bayi di atas 6 bulan

  • Tidak bisa berguling
  • Tidak bisa mengangkat tangannya
  • Kesulitan mengangkat tangan ke mulut
  • Menjangkau dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terlihat mengepal

3. Gejala cerebral palsy pada bayi di atas 10 bulan

  • Merangkak dengan posisi miring, tepatnya bertumpu dengan satu tangan dan kaki, sedangkan tangan dan kaki di sisi yang lain terlihat seperti diseret.
  • Menjelajah lingkungan dengan menggunakan bokong atau lutut, tapi tidak bisa merangkak dengan kedua tangan dan kedua kaki.

Perlu diingat bahwa tidak semua anak yang menunjukkan gejala, faktor risiko, dan penyebab cerebral palsy akan otomatis menderita kelainan ini. Untuk menegakkan diagnosis cerebral palsy, bawa anak ke dokter dan lakukan pemeriksaan menyeluruh.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/cerebral-palsy.html
Diakses pada 23 Juli 2019

CDC. https://www.cdc.gov/features/cerebral-palsy-11-things/index.html
Diakses pada 23 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed