Apakah Buta Warna Parsial Menurun ke Anak? Ketahui Apa Penyebabnya

Buta warna parsial terjadi karena faktor keturunan dari keluarga dengan kelainan fotopigmen
Dengan melakukan tes, Anda dapat mengetahui apakah mengalami buta warna parsial

Apa rasanya hidup tanpa bisa melihat warna? Sebenarnya, buta warna tidak selalu berarti tak bisa melihat warna apapun. Ada yang disebut buta warna parsial.

Dalam kondisi ini, seseorang cenderung tidak bisa melihat warna-warna tertentu dan gradasinya.

Mari simak lebih jauh tentang buta warna parsial.

[[artikel-terkait]]

Cara mata melihat warna?

Bunga mawar berwarna merah, bunga melati berwarna putih. Lewat mata, kita bisa melihat dan mempersepsikan warna. Ketika cahaya mengenai sebuah objek, ada refleksi sehingga gelombang warnanya bisa kita lihat.

Bagian yang paling berjasa dalam hal ini adalah kerucut, sel-sel sangat kecil yang ada di dalam retina. Kerucut ini adalah jenis fotoreseptor yang merespons pada cahaya.

Mayoritas manusia memiliki 6-7 juta kerucut dan terkonsentrasi di bagian dalam retina bernama fovea centralis.

Mengapa buta warna parsial terjadi?

Sejatinya, kerucut dalam mata merespons pada warna berbeda. Sebagian besar merespons pada warna merah, sebagian kecil pada warna hijau, dan sedikit bagian merespons pada warna biru.

Pada orang dengan buta warna parsial, sel-sel kerucut ini mengalami kerusakan. Mereka masih bisa mendeteksi warna, namun persepsinya tidak 100 persen benar. Contohnya, tertukar antara warna satu dengan lainnya.

Lalu, mengapa buta warna parsial terjadi?

  • Keturunan

Biasanya, buta warna parsial terjadi karena faktor keturunan dari keluarga dengan kelainan fotopigmen. Gen yang menurunkan buta warna parsial adalah kromosom X.

Itu sebabnya buta warna parsial lebih banyak ditemukan terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita.

  • Retinopati diabetik

Penyakit degenerasi makula dan retinopati diabetik menyebabkan kerusakan pada retina tempat sel kerucut berada. Hal ini yang menyebabkan orang dengan diabetes bisa saja mengalami buta warna parsial.

  • Penyakit otak

Penderita Alzheimer maupun Parkinson juga memiliki kecenderungan mengalami buta warna parsial. Selain itu, orang-orang yang menderita demensia menghadapi kesulitan dengan persepsi penglihatan hingga salah menginterpretasi warna yang dimaksud.

  • Kecelakaan

Dalam kasus lain, kecelakaan atau cedera berat juga bisa mengakibatkan sel kerucut dalam retina mengalami kerusakan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami buta warna parsial.

Mungkinkah buta warna parsial menurun ke anak?

Salah satu penyebab terjadinya buta warna parsial adalah faktor genetik. Ketidakmampuan melihat warna merah, hijau, dan biru biasanya diturunkan dari orangtua lewat kromosom X.

Bagaimana kemungkinan buta warna parsial secara genetik terjadi?

Pertama-tama, kita tahu kromosom yang dapat menurunkan buta warna parsial adalah kromosom X. Artinya untuk anak perempuan dengan kromosom XX, apabila hanya satu kromosom yang terkena, maka ia akan menjadi carrier saja.

Sementara bagi anak laki-laki yang memiliki kromosom XY, apabila mendapatkan kromosom X dengan kasus buta warna, maka ia akan mendapatkan buta warna turunan.

Namun seorang ayah yang buta warna sekalipun tidak bisa menurunkan ke anak laki-lakinya karena kromosom X dari ayah hanya turun ke anak perempuan.

Itu sebabnya, buta warna parsial untuk warna merah/hijau lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita. Sementara buta warna untuk biru cukup setara antara pria dan wanita karena terbawa di kromosom non-sex.

Health Line. https://www.healthline.com/symptom/color-blindness
Diakses 11 Mei 2019

Live Science. https://www.livescience.com/32559-why-do-we-see-in-color.html
Diakses 11 Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/color-blindness#1
Diakses 11 Mei 2019

Colour Blind Awareness. http://www.colourblindawareness.org/colour-blindness/inherited-colour-vision-deficiency/
Diakses 11 Mei 2019

American Optometric Association. https://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-problems/glossary-of-eye-and-vision-conditions/color-deficiency
Diakses 11 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed