Muntah dan gumoh pada bayi adalah dua hal yang berbeda.
Ketahui penyebab bayi muntah dan bedanya dengan gumoh.

Mengurus bayi menjadi masa-masa yang penuh pembelajaran bagi orangtua. Selain hal-hal yang menggemaskan dari tumbuh kembang si bayi, banyak juga hal-hal yang menimbulkan kekhawatiran, misalnya saat bayi sering muntah.

Wajar saja kondisi tersebut membuat khawatir, karena cukup susah bagi orangtua untuk mengetahui dengan pasti apa yang menjadi penyebab bayi muntah. Demikian pula dengan cara mengatasi sekaligus mencegahnya.

[[artikel-terkait]]

Perbedaan gumoh dan muntah

Umumnya, bayi sering muntah atau gumoh setelah diberi susu. Muntah dan gumoh sebenarnya dua hal yang berbeda. Bayi dikatakan gumoh jika hanya mengeluarkan sedikit susu bercampur asam dari mulutnya saat selesai diberi susu atau ketika ia bersendawa.

Istilah medis dari gumoh adalah gastroesophageal reflux. Kondisi ini terjadi karena katup otot di bagian bawah kerongkongan bayi masih belum kuat untuk menahan makanan di dalam lambung.

Sebagai akibatnya, sedikit susu bercampur asam lambung seringkali mengalir balik ke kerongkongan saat lambungnya penuh. Hal ini lazim terjadi dan umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Frekuensi gumoh akan berkurang seiring bertambahnya usia.

Bayi dikatakan muntah jika isi lambungnya keluar lewat mulut karena adanya kontraksi dari otot perut dan diafragma. Penyebab bayi muntah pada umumnya adalah masalah pemberian makan, misalnya bayi diberi susu sampai kekenyangan atau bayi langsung aktif bergerak sesudah diberi makan.

Sederet penyebab bayi muntah

Meski masalah pemberian makanan umumnya menjadi penyebab bayi muntah, tak ada salahnya orang tua tetap waspada. Pasalnya, muntah (terutama yang terjadi berulang kali) bisa jadi merupakan gejala gangguan kesehatan pada bayi Anda.

Berikut beberapa kondisi penyebab bayi muntah yang perlu Anda waspadai:

Infeksi tertentu

Infeksi pada perut (gastroenteritis) yang disebabkan oleh virus atau bakteri biasanya menimbulkan gejala berupa muntah-muntah pada bayi. Selain muntah, kondisi ini juga menyebabkan diare dan demam ringan.

Pada bayi, gastroenteritis biasanya menular lewat makanan atau peralatan makan yang tercemar virus atau bakteri. Namun penularannya juga bisa terjadi saat bayi menyentuh benda atau permukaan barang yang sudah terkontaminasi dan memasukkan tangannya ke mulut.

Muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi virus umumnya akan berangsur-angsur berkurang dan membaik dalam beberapa hari walau tidak diobati. Jika gastroenteritis menjadi penyebab bayi muntah, pastikan buah hati tidak sampai dehidrasi.

Berikan banyak minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Jangan ragu untuk menghubungi dokter apabila bayi selalu muntah dan diare setiap kali diberi minum maupun makan. Pasalnya, bayi dikhawatirkan mengalami kekurangan cairan tubuh.

Gastroenteritis mudah sekali menular. Karena itu, Anda wajib mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir sebelum menyiapkan makanan dan memberi makan pada bayi.

Makanan bayi juga sebaiknya dimasak hingga benar-benar matang dan gunakan peralatan makan yang sudah dicuci dan melalui proses steril. Jika dirasa perlu, gunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan benda-benda yang sering disentuh oleh bayi Anda.

Anda juga bisa mengurangi risiko infeksi rotavirus yang menyebabkan gastroenteritis. Caranya adalah dengan vaksinasi yang bisa dilakukan pada bayi di bawah enam bulan.

Stenosis pilorus

Kemungkinan lain dari penyebab bayi muntah adalah stenosis pilorus. Kondisi ini adalah jenis obstruksi saluran pencernaan berupa penebalan otot bagian bawah lambung (pilorus) yang terhubung dengan usus halus.

Karena penebalan otot tersebut, makanan sulit atau bahkan tidak bisa memasuki usus halus. Akibatnya, bayi akan sering muntah.

Gejala-gejala stenosis pilorus akan terlihat pada bayi usia tiga minggu hingga tiga bulan dan bisa berupa:

  • Sering muntah beberapa saat setelah diberi susu.
  • Bayi sering merasa lapar.
  • Tampak gerakan otot seperti gelombang di perut bayi bagian atas setelah bayi disusui.
  • Gangguan buang air besar (BAB), seperti jarang BAB, bentuk tinja yang lebih kecil dan jumlahnya yang lebih sedikit, atau konstipasi.
  • Berat badan bayi tidak naik atau bahkan mengalami penurunan.
  • Dehidrasi yang ditandai dengan bayi menjadi lesu atau kurang aktif bergerak dibanding biasanya, jarang buang air kecil (popok bayi tetap kering selama empat sampai enam jam), menangis tanpa keluar air mata, dan kulitnya terlihat agak keriput.

Stenosis pilorus merupakan kondisi yang memerlukan penanganan medis secepatnya. Segera periksakan buah hati ke dokter jika mengalami gejala-gejala di atas.

Untuk mengatasi stenosis pilorus, diperlukan tindakan pembedahan untuk mengurangi ketebalan otot pilorus agar saluran ke usus halus bisa terbuka. Tindakan bedah bisa dilakukan dengan prosedur laparoskopi yang hanya membutuhkan sayatan kecil.

Alergi tertentu

Faktor lain yang menjadi penyebab bayi muntah adalah alergi terhadap susu atau makanan tertentu. Gejala alergi umumnya meliputi muntah, gangguan pencernaan, atau gatal-gatal.

Gejala tersebut bisa muncul dalam hitungan beberapa menit hingga beberapa jam setelah bayi diberi makanan tertentu, dan merupakan reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu zat yang terkandung dalam makanan maupun susu yang dikonsumsi.

Jika Anda mencurigai alergi sebagai penyebab buah hati muntah, segera hentikan pemberian makanan atau susu tersebut pada bayi. Ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan alergi serta menyusun menu makanan yang cocok untuk Si Kecil.

Untuk mendeteksi dan mencegah reaksi alergi, berikan satu jenis makanan saja tiap kali Anda memberi makan bayi. Apabila muncul reaksi alergi, hindari pemberian makanan tersebut pada buah hati.

Tips mencegah bayi sering muntah

Terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan orangtua untuk menangani bayi sering muntah atau gumoh setelah makan. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Kurangi sedikit porsi susu bayi, tapi berikan dengan frekuensi lebih sering.
  • Jika bayi menyusu lewat botol, pastikan lubang dotnya tidak terlalu besar sehingga susu mengalir dengan kecepatan dan jumlah yang pas untuk bayi.
  • Susui bayi dengan posisi bayi sedikit tegak.
  • Jangan lupa untuk membuat agar bayi Anda bersendawa setelah diberi susu. Caranya adalah dengan menggendongnya tegak bersandar pada dada Anda sambil mennepuk-nepuk lembut punggungnya.
  • Sandarkan bayi pada posisi duduk atau sedikit tegak selama sekitar 30 menit setelah diberi susu. Hindari menimang-nimang atau meletakkan bayi pada bouncy chair setelah makan.

Kekhawatiran memang sulit untuk dihindari saat melihat bayi Anda muntah. Tapi orang tua perlu tetap tenang untuk bisa menangani kondisi bayi sekaligus mewaspadai gejala-gejala tersebut di atas yang bisa memberi petunjuk apa yang menjadi penyebab bayi muntah.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infant-acid-reflux/symptoms-causes/syc-20351408

Diakses pada 10 Mei 2019

Baby Center. https://www.babycenter.com/0_vomiting-in-babies_9955.bc

Diakses pada 10 Mei 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/pyloric-stenosis.html

Diakses pada 10 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pyloric-stenosis/symptoms-causes/syc-20351416 
Diakses pada 10 Mei 2019

NHS Inform. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/stomach-liver-and-gastrointestinal-tract/gastroenteritis 
Diakses pada 11 Juni 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/milk-allergy/symptoms-causes/syc-20375101
Diakses pada 11 Juni 2019

Banner Telemed