Waspadai 4 Penyebab Kecemasan atau Anxiety Disorder Ini


Penyebab kecemasan atau anxiety disorder cukup beragam. Mulai dari faktor genetik dan biologis, kondisi medis tertentu, hingga obat-obatan bisa jadi pemicunya.

(0)
11 Apr 2019|Anita Djie
Penyebab kecemasan atau anxiety disorderAnxiety disorder dapat menimbulkan rasa cemas atau takut berlebihan terhadap sesuatu.
Rasa cemas merupakan respon tubuh yang normal alamiah. Semua orang pasti pernah merasakan rasa cemas atau takut. Rasa cemas penting untuk kelangsungan hidup dan mempersiapkan Anda terhadap ancaman atau stres yang dirasakan.Namun, apa yang terjadi jika respon tubuh yang alamiah malah mengganggu kehidupan sehari-hari Anda? Gangguan tersebut disebut dengan istilah anxiety disorder atau gangguan kecemasan. Saat Anda mengalami anxiety disorder, Anda dapat merasakan rasa cemas atau takut yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kondisi yang seharusnya.Anxiety disorder dapat menimbulkan rasa cemas atau takut terhadap suatu hal atau objek yang seharusnya tidak ditakuti, seperti balon, badut, dan sebagainya.Anxiety disorder memiliki beragam jenis, tergantung dari objek atau kondisi yang menimbulkan rasa cemas tersebut. Beberapa contoh jenisnya adalah gangguan panik, agorafobia, dan sebagainya.

Penyebab kecemasan atau anxiety disorder

Rasa cemas dan takut yang dirasakan saat mengalami anxiety disorder dapat menimbulkan reaksi fisik (seperti berkeringat secara berlebihan, sesak napas, dan sebagainya) dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, penyebab dari anxiety disorder belum diketahui secara pasti.Namun, terdapat beberapa hal yang mungkin dapat menyebabkan anxiety disorder, yaitu:

1. Genetik dan biologis

Anxiety disorder bisa jadi diturunkan dalam keluarga, karenanya jika Anda memiliki anggota keluarga yang mengalami anxiety disorder, Anda lebih mungkin untuk mengalaminya juga. Selain genetik, kemungkinan penyebab lainnya adalah karena ketidakseimbangan hormon atau sinyal otak yang tidak teratur.

2. Kondisi medis tertentu

Terkadang anxiety disorder merupakan gejala dari kondisi medis tertentu. Beberapa kondisi medis yang dapat mengakibatkan anxiety disorder adalah diabetes, gangguan tiroid, gangguan jantung, gangguan pernapasan, dan sebagainya.

3. Obat-obatan tertentu

Beberapa obat-obatan tertentu dapat mengakibatkan anxiety disorder. Selain itu, penggunaan narkotika dan alkohol juga dapat menyebabkan dan memperparah anxiety disorder.

4. Trauma dan stres

Individu yang pernah mengalami trauma, dilecehkan, atau menyaksikan kejadian traumatis di masa kecilnya rentan mengalami anxiety disorder. Stres yang berat dan berkepanjangan juga dapat membuat seseorang rentan mengalami anxiety disorder.

Gejala gangguan kecemasan atau anxiety disorder

Gejala gangguan kecemasan cukup beragam. Hal ini dapat memengaruhi kondisi kesehatan pengidapnya, baik secara fisik maupun psikis. Berikut adalah gejala yang bisa muncul saat mengalami gangguan kecemasan:
  • Merasa selalu tegang.
  • Merasa cemas, bahkan untuk hal yang sepele.
  • Merasa mual dan ingin muntah.
  • Merasa sakit perut.
  • Merasa uring-uringan.
  • Merasa resah dan tidak bisa tenang.
  • Merasa selalu ketakutan.
  • Merasa sulit konsentrasi.
  • Merasa sakit kepala.
  • Detak jantung berdetak lebih cepat.
  • Keluar keringat yang berlebihan.
  • Badan gemetar.
  • Otot di sekujur tubuh terasa tegang.
  • Menjadi mudah terkejut.
  • Napas menjadi pendek.
Pada beberapa kasus, gangguan kecemasan dapat memengaruhi jam tidur karena insomnia yang dialami. Rasa cemas adalah hal yang wajar terjadi pada semua orang. Namun, apabila hal ini terjadi secara berlebihan, efeknya bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari, bahkan pada pergaulan dan lingkungan sekitar Anda.

Mengatasi anxiety disorder

Mayo Clinic memberikan beberapa tips yang dapat Anda gunakan jika Anda mengalami anxiety disorder, yaitu:

1. Psikoterapi

Bertemu dengan profesional mungkin bisa jadi salah satu pertimbangan Anda. Kegiatan ini umumnya akan melibatkan diskusi tentang pikiran, perasaan, dan perilaku Anda untuk membantu menentukan diagnosis dan memeriksa komplikasi terkait.Gangguan kecemasan sering terjadi bersamaan dengan masalah kesehatan mental lainnya - seperti depresi atau penyalahgunaan zat - dapat membuat diagnosis menjadi lebih sulit.Terapi perilaku kognitif adalah bentuk psikoterapi yang paling efektif untuk mengatasi gangguan kecemasan. Umumnya pengobatan jangka pendek ini berfokus pada pengajaran keterampilan khusus untuk memperbaiki gejala Anda dan secara bertahap kembali ke aktivitas yang telah Anda hindari karena kecemasan.Menurut National Institute of Mental Health, terapi perilaku kognitif termasuk terapi eksposur, di mana Anda secara bertahap menghadapi objek atau situasi yang memicu kecemasan Anda sehingga Anda membangun kepercayaan diri bahwa Anda dapat mengelola situasi dan gejala kecemasan.

2. Obat

Beberapa jenis obat juga digunakan oleh dokter untuk membantu meredakan gejala kecemasan. Hal ini tergantung pada jenis gangguan kecemasan yang Anda alami dan apakah Anda juga memiliki masalah kesehatan mental atau fisik lainnya. Beberapa diantaranya adalah:Antidepresan dan obat anti kecemasan yang disebut buspirone mungkin diresepkan oleh dokter. Dalam keadaan tertentu, dokter mungkin akan meresepkan obat lain, seperti obat penenang (benzodiazepin) atau beta blocker.Obat-obatan ini kerap diresepkan oleh dokter untuk menghilangkan gejala kecemasan jangka pendek dan tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam jangka panjang.

3. Manajemen stres

Gunakan manajemen stres dan teknik relaksasi. Teknik visualisasi, meditasi dan yoga adalah contoh teknik relaksasi yang dapat meredakan kecemasan Anda.Jika anxiety disorder muncul, Anda dapat mengatur pernapasan dan berhitung satu sampai 10 (atau bahkan 20) hingga Anda menjadi lebih rileks.Berkonsultasilah dengan dokter dan ahli kesehatan mental, jika Anda merasa anxiety disorder telah mengganggu kehidupan sehari-hari Anda.
gangguan kecemasangangguan panikkesehatan mentaltrauma
Anxiety and Depression Association of America. https://adaa.org/tips-manage-anxiety-and-stress
Diakses pada 08 Maret 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anxiety/symptoms-causes/syc-20350961
Diakses pada 08 Maret 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323454.php
Diakses pada 08 Maret 2019
NIH. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/anxiety-disorders/index.shtmlDiakses pada 29 Oktober 2020WebMD. https://www.webmd.com/anxiety-panic/qa/what-are-anxiety-disordersDiakses pada 29 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait