4 Penyakit yang Menyerang Sistem Koordinasi pada Manusia

Sistem koordinasi pada manusia mengatur saraf motorik untuk menggerakkan anggota tubuh
Saraf motorik diatur oleh otak kecil dalam sistem koordinasi pada manusia

Perkembangan sistem koordinasi pada manusia harus selalu dipantau, mulai dari bayi hingga Anda masuk usia lanjut. Sistem koordinasi pada manusia adalah kemampuan seseorang untuk mengoordinasikan otot tubuhnya untuk mencapai tujuan tertentu.

Contoh mudahnya adalah ketika ingin menekan tombol di ponsel pintar, maka Anda harus mengoordinasikan otot ibu jari dengan tujuan menekan tombol tersebut.

Terdengar sederhana, bukan? Well, faktanya di balik gerakan sederhana tersebut terdapat koordinasi antara otak dan otot yang tidak sesederhana yang Anda bayangkan.

Jika ada sedikit saja gangguan perkembangan sistem koordinasi pada manusia, maka Anda akan menderita berbagai masalah kesehatan.

Proses sistem koordinasi pada manusia

Dalam perkembangan sistem koordinasi pada manusia, otak kecil (cerebellum) memainkan peranan penting. Organ ini berfungsi mengatur kerja saraf motorik, memperbaikinya bila ada kekurangan, serta merencanakan gerakan Anda selanjutnya.

Otak kecil menerima informasi dari sistem sensor manusia, sumsum tulang belakang, dan bagian lain dari otak, kemudian mengatur pergerakan saraf motorik Anda.

Otak kecil juga mengatur postur tubuh, keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan Anda berbicara. Dengan kata lain, otak kecil sangat berpengaruh dalam perkembangan sistem koordinasi pada manusia.

Kerusakan pada otak kecil memang tidak akan mengakibatkan Anda lumpuh atau mengalami keterbelakangan mental. Meski demikian, Anda akan mengalami ketidakseimbangan, pergerakan yang lebih lambat dari normal, dan gemetar (tremor) sehingga melakukan kegiatan sehari-hari yang seharusnya mudah menjadi sangat sulit diselesaikan.

Masalah perkembangan sistem motorik pada manusia

Banyak hal yang dapat mengganggu sistem motorik pada manusia, baik secara genetik maupun gaya hidup. Salah satu hal yang paling banyak ditemukan adalah overdosis alkohol yang secara permanen dapat menyebabkan kerusakan pada otak kecil.

Pemberian obat tertentu (misalnya obat antikejang), terutama dalam dosis tinggi, juga dapat menyebabkan gangguan yang sama. Namun, penderitanya dapat kembali normal ketika pemberian obat tersebut dihentikan.

Berikut beberapa masalah sistem motorik pada manusia yang dapat terjadi:

  • Ataksia

Ataksia adalah kelainan degeneratif yang memengaruhi otak, batang otak, dan sumsum tulang belakang. Penderitanya akan sering mengalami kikuk, salah gerakan, tidak stabil, limbung, tremor, atau sulit berkoordinasi dalam melakukan gerakan tertentu.

Pergerakan orang yang mengalami ataksia juga akan terlihat kaku dan tidak selaras. Ia pun kerap jatuh, terbata-bata dalam berbicara, serta memiliki pergerakan otot mata yang tidak sama.

Ataksia dapat terjadi karena keturunan, atau disebut dengan Ataksia Friedreich, yang didapat oleh seorang anak karena kedua orangtuanya memiliki gen tersebut dan menurunkannya pada anak.

Penyakit ini biasanya ditandai dengan anak yang lahir dengan kondisi kaki pekuk (clubfoot), tulang belakang bengkok (skoliosis), atau keduanya.

Masalah sistem motorik pada manusia ini bersifat progresif. Anak mulai akan limbung saat usianya 5-15 tahun, kemudian pergerakannya tidak terkendali, dan ucapannya sulit dipahami.

Saat anak berusia 20 tahun, ia mungkin sudah harus duduk di kursi roda dan berisiko mengalami serangan jantung di usia pertengahan.

  • Tremor

Tremor adalah gemetar yang tidak dapat dikontrol oleh tubuh, dan biasanya terjadi pada salah satu atau kedua tangan. Kondisi ini dapat memburuk ketika penderitanya mencoba melakukan gerakan tertentu.

Penderita masalah pada sistem motorik pada manusia ini biasanya adalah orang tua yang berusia di atas 65 tahun, dan 50 persen di antaranya memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.

Tremor biasanya tidak mengakibatkan komplikasi serius, tapi dapat menghambat seseorang dalam beraktivitas sehari-hari.

  • Penyakit Huntington

Penyakit Huntington adalah penyakit fatal yang bersifat progresif dan generatif, serta disebabkan oleh kerusakan sel saraf tertentu pada otak.

Gejala penyakit ini meliputi suka menyentak; gerakan anggota badan, batang tubuh, dan wajah yang tidak terkendali; hilangnya kemampuan mental secara progresif; dan masalah kejiwaan lainnya.

Ironisnya, seorang anak dengan satu orangtua yang terkena penyakit Huntington berpeluang 50 persen untuk terkena penyakit yang sama.

  • Parkinson

Penyakit Parkinson adalah kelainan progresif yang disebabkan oleh degenerasi sel saraf pada bagian otak yang disebut substantia nigra. Sel saraf ini mengalami kerusakan atau mati sehingga bagian tersebut tidak bisa memproduksi dopamine.

Gejala penyakit ini adalah tremor, kaku otot, kekakuan anggota badan, hilangnya gerakan spontan secara bertahap yang sering kali mengarah pada penurunan keterampilan mental atau waktu reaksi. Penyakit ini umumnya menyerang lansia.

Penderita juga akan mengalami perubahan suara atau penurunan ekspresi wajah, serta hilangnya gerakan refleks secara bertahap (misalnya berkedip, menelan, dan mengeluarkan air liur).

Sementara dari segi fisik, postur tubuh penderita Parkinson akan bungkuk, bagian tubuh menekuk di area siku, lutut dan pinggul, tidak stabil saat berjalan. Penderitanya juga rawan mengalami depresi atau demensia.

Masih banyak penyakit gangguan sistem koordinasi pada manusia yang lebih jarang terjadi di Indonesia, tapi bukan tidak mungkin menyerang Anda.

Jika Anda merasa memiliki masalah ketika berjalan atau memerintahkan bagian tubuh tertentu untuk melakukan tugasnya, segera periksakan kondisi Anda pada dokter ahli saraf.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4350769/
Diakses pada 19 November 2019

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/motor-coordination
Diakses pada 19 November 2019

Healthline. https://www.healthline.com/human-body-maps/cerebellum
Diakses pada 19 November 2019

Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Movement-Disorders
Diakses pada 19 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed