Penyakit Tidak Menular Ini Sering Berujung pada Kematian

Terdapat beragam penyakit tidak menular yang bisa berakibat fatal, termasuk serangan jantung
Serangan jantung termasuk salah satu penyakit tidak menular yang bisa berujung fatal

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), istilah penyakit tidak menular merujuk pada penyakit yang diidap dalam jangka panjang dan berkembang atau bertambah parah secara perlahan. Penyakit tidak menular terbagi menjadi empat kelompok berikut:

Masih berdasarkan data dari WHO, penyakit tidak menular adalah penyebab kematian nomor satu di dunia. Tiap tahun, lebih dari 60% kematian penduduk dunia disebabkan oleh penyakit jenis ini.

Diperkirakan lebih dari 36 juta orang meninggal akibat penyakit tidak menular setiap tahunnya. 80% dari kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang serta negara tertinggal.

Oleh sebab itu, penyakit tidak menular perlu mendapatkan perhatian dan kewaspadaaan yanglebih tinggi lagi.

Faktor risiko mengenai penyakit tidak menular 

Penyakit-penyakit tidak menular secara umum memiliki kesamaan faktor risiko. Mulai dari kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik atau olahraga, dan penggunaan alkohol yang berlebihan. 

Seandainya semua faktor risiko tersebut berhasil dijauhi, bukannya tidak mungkin sekitar tiga perempat kasus sakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2 di dunia akan berhasil dicegah. Sementara 40% kasus kanker juga bisa dihindari. 

Penyakit tidak menular yang sering menyebabkan kematian

Berikut ini adalah penyakit tidak menular yang sering berakibat fatal dan cukup banyak diderita oleh masyarakat Indonesia:

1. Tekanan darah tinggi

Seseorang dianggap mengidap hipertensi ketika tekanan darahnya berada di atas 130/90 mmHG. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari keturunan dan usia, pola makan tinggi lemak, kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, hingga jarang berolahraga.

Hipertensi kerap dianggap sebagai pembunuh diam-diam atau silent killer. Pasalnya, kondisi ini umumnya tidak menimbulkan gejala apapun sampai akhirnya terjadi komplikasi berupa nyeri dada, stroke, serangan jantung, hingga gagal jantung.

Untuk menghindari komplikasi berakibat fatal, Anda sebaiknya memeriksakan tekanan darah secara berkala ke dokter atau klinik kesehatan terdekat. Jangan sampai silent killer ini mengincar Anda.

2. Serangan jantung

Serangan jantung terjadi saat aliran darah yang menyuplai oksigen ke jantung berkurang secara signifikan atau bahkan terputus. Ketiadaan asupan oksigen akan membuat otot jantung rusak dan mati hingga berujung pada munculnya serangan jantung.

Suplai darah ke jantung akan terganggu bila pembuluh darah arteri koroner menyempit akibat penumpukan lemak dan kolesterol yang disebut plak. Penumpukan plak di dinding pembuluh darah juga bisa pecah dam membentuk gumpalan. Gumpalan ini kemudian bisa menyumbat aliran darah ke jantung. 

Proses penumpukan plak yang disebut aterosklerosis tersebut biasanya berlangsung sangat lama. Misalnya, mungkin saja penumpukan plak dimulai sejak remaja hingga terjadi serangan jantung di usia 45 tahun.

Aterosklerosis sering tidak menimbulkan gejala. Pasalnya, saat arteri koroner menyempit, pembuluh darah jantung lainnya kadangkala melebar untuk membantu jantung. Inilah kenapa kondisi ini kerap terlambat disadari.

3. Stroke

Stroke muncul ketika aliran darah ke bagian otak tersumbat. Akibat kekurangan suplai oksigen, sel-sel otak bisa mati dalam hitungan menit.

Jenis stroke sendiri terbagi dalam dua kelompok, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik.

Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang lebih banyak terjadi. Penyebabnya adalah aliran darah ke otak tersumbat oleh gumpalan plak yang pecah dari dinding pembuluh darah. Faktor risiko utama dari stroke iskemik meliputi aterosklerosis yang juga merupakan faktor risiko serangan jantung. 

Sementara stroke hemoragik terjadi saat ada pembuluh darah di otak yang membesar dan pecah, sehingga darah menggenangi otak. Stroke jenis ini umumnya disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol. 

Seperti yang telah disebutkan di atas, tekanan darah dianggap tinggi bila angkanya mencapai 130/90mmHg atau lebih. Dalam kondisi ini, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh cara tepat dalam mengontrol tekanan darah. Bila perlu, dokter akan memberi obat penurun tekanan darah.

4. Penyakit paru-paru obstruktif kronis

Penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK) adalah istilah untuk beberapa kondisi paru-paru yang menyebabkan kesulitan bernapas. Yang termasuk dalam PPOK antara lain emfisema (kerusakan pada kantung-kantung udara di paru-paru) dan bronkitis kronis (peradangan jangka panjang pada saluran pernapasan).

PPOK merupakan penyakit yang banyak diderita oleh perokok berusia paruh baya. Gejala awalnya berupa batuk berdahak yang tidak sembuh-sembuh, infeksi paru yang terjadi berkali-kali, mengi, dan napas sering tersengal-sengal (terutama saat beraktivitas fisik).

Makin lama, gangguan pernapasan cenderung memburuk sampai menghalangi aktivitas normal sehari-hari. 

Penyebab utama dari PPOK adalah kebiasaan merokok dan paparan polusi udara berbahaya dalam jangka waktu lama. Kerusakan paru-paru pada penderita PPOK bersifat permanen dan cenderung bertambah parah.

Walau tidak bisa dipulihkan, perkembangan PPOK bisa diperlambat dengan penggunaan obat-obatan dari dokter.

5. Diabetes melitus 

Diabetes melitus terjadi akibat produksi insulin yang terlalu sedikit atau tubuh tidak lagi sensitif terhadap insulin. Sebagai akibatnya, tubuh tidak bisa menggunakan insulin dengan efektif. Kondisi ini disebut resistensi insulin.

Ketika resistensi insulin terjadi, glukosa tidak bisa masuk ke sel-sel tubuh untuk digunakan, sehingga menumpuk di dalam darah. Dampak selanjutnya adalah kerusakan pada saraf tepi dan sel-sel tubuh.

Penyakit diabetes sendiri tidak menyebabkan kematian. Tetapi komplikasi diabetes sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Sakit jantung, sakit ginjal, serta stroke merupakan sebagian dari komplikasi penyakit diabetes. 

Faktor risiko yang cukup signifikan pada diabetes adalah faktor genetik. Ini berarti, kemungkinan Anda untuk terkena diabetes lebih besar jika orangtua Anda juga mengidap penyakit yang sama.

Sedangkan faktor risiko diebetes lainnya yang juga sangat berpengaruh adalah hipertensi, kadar kolesterol tinggi, gaya hidup sedenter (minim gerak), pola makan tinggi karbohidrat dan lemak, serta konsumsi alkohol berlebihan.

Kegemukan dan obesitas juga menjadi faktor risiko diabetes. Namun faktanya, cukup banyak orang yang tidak menderita obesitas, tapi juga terkena diabetes. 

6. Kanker

Kanker bisa menyerang bagian tubuh manapun. Penyakit ini terjadi akibat perkembangan abnormal atau mutasi pada sel-sel tubuh, yang kemudian menghancurkan sel-sel tubuh yang sehat.

Selain itu, sel-sel kanker juga punya kemampuan menyebar ke bagian-bagian tubuh lain di luar tempat awalnya berkembang serta merusaknya. 

Faktor gaya hidup dan lingkungan termasuk faktor risiko kanker. Merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan, paparan sinar matahari, serta menghirup udara berpolusi merupakan hal-hal yang berisiko menyebabkan timbulnya kanker di kemudian hari. 

Penyakit tidak menular memang memiliki faktor risiko yang tidak bisa diubah, yaitu usia, faktor genetik, jenis kelamin, dan ras.

Meski demikian, Anda bisa memperbaiki faktor-faktor gaya hidup masih bisa diubah sebagai upaya pencegahan penyakit. Mulai dari tidak merokok, mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang, mencegah kegemukan, berolahraga, dan tidak membatasi atau berhenti mengonsumsi alkohol.

Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cancer/symptoms-causes/syc-20370588
Diakses pada 19 september 2019

WebMD. https://www.webmd.com/diabetes/diabetes-causes#1
Diakses pada 19 september 2019

WebMD. https://www.webmd.com/stroke/guide/stroke-causes-risks#1
Diakses pada 19 September 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd/
Diakses pada 19 September 2019

American Heart Association. https://www.heart.org/en/health-topics/heart-attack/about-heart-attacks
Diakses pada 19 September 2019

WHO. https://www.who.int/features/factfiles/noncommunicable_diseases/en/
Diakses pada 19 september 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension
Diakses pada 23 september 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed