Tidak Mau Disunat? Siap-Siap Terkena Fimosis dan 3 Penyakit Penis Ini

Penis yang tidak disunat dapat meningkatkan risiko kanker penis
Penis yang tidak disunat bisa mengundang berbagai gangguan pada kesehatan Anda.

Melakukan pemotongan lapisan kulit di kepala penis (kulup) alias sunat merupakan pilihan tiap individu. Meski demikian, penis tidak disunat lebih berisiko terkena masalah kesehatan.

Dari fungsinya, penis yang disunat dengan penis yang tidak disunat, tak memiliki perbedaan mendasar. Penis tetap dapat memproduksi sperma untuk reproduksi dan memiliki ukuran yang sama ketika ereksi sehingga tidak mengganggu aktivitas seksual Anda.

[[artikel-terkait]]

4 Penyakit akibat penis tidak disunat

Hanya saja, penis tidak disunat berpotensi mengalami berbagai gangguan kesehatan. Beberapa di antaranya meliputi:

1. Fimosis

Salah satu alasan untuk melakukan pembersihan kulup ialah mencegah fimosis. Penyakit ini terjadi ketika kulup tidak bisa ditarik sehingga kepala penis tidak bisa muncul. Selain kulup yang menempel, gejala lainnya bisa berupa kemerahan, bengkak, hingga rasa sakit ketika buang air kecil.

Pada bayi, fimosis merupakan kasus yang kerap terjadi. Pasalnya, kulup pada penis anak-anak memang masih menempel di kepala penis. Meski demikian, dokter biasanya tetap mengambil langkah sunat sebagai upaya pengobatan fimosis yang menimbulkan rasa sakit atau bahkan demam pada bayi.

Sementara pada pria dewasa, fimosis biasanya terjadi pada penis tidak disunat yang mengalami infeksi akibat penyakit menular seksual (PMS). Di samping PMS, ada pula sejumlah kondisi yang dapat memicu fimosis. Di antaranya adalah eksim, psoriasis, lichen planus, serta lichen sclerosus.

Fimosis akan membuat kehidupan seks Anda terganggu. Selain menurunkan tingkat sensitivitas penis, kondisi ini juga dapat memicu munculnya rasa sakit di penis serta kulit kulup yang pecah-pecah.

2. Smegma dan balanitis

Penis yang kulupnya tidak dibuang harus dibersihkan lebih menyeluruh karena rawan terkena infeksi. Jika tidak, sel kulit mati, bakteri, maupun minyak yang menumpuk di sekitar area penis akan memunculkan smegma.

Smegma adalah cairan kental dan berminyak, yang berbau tidak sedap. Cairan ini bahkan bisa menyebabkan iritasi pada kulup. 

Ketika smegma makin menumpuk, ujung penis akan mengalami peradangan. Munculnya warna kemerahan dan bengkak merupakan gejalanya.

Kondisi ujung penis yang memerah dan bengkak tersebut dikenal dengan istilah balantis dalam dunia medis. Balantis akan membuat Anda merasa sakit ketika buang air kecil.

3. Infeksi saluran kemih

Penelitian menunjukkan bahwa penis tidak disunat lebih rentan terkena infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada bayi di bawah usia satu tahun. Satu-satunya jalan untuk menghindari penyakit ini ialah dengan meningkatkan kebersihan pada area penis.

4. Kanker penis

Kulup yang tidak higienis dapat mempertinggi kemungkinan Anda untuk menderita kanker penis. Peningkatan risiko ini muncul akibat adanya smegma maupun fimosis yang terus dibiarkan tanpa penanganan yang memadai.

Meski kanker penis tergolong sangat langka, kemungkinannya tetap ada. Namun Anda tetap bisa mencegahnya dengan langkah sederhana, yaitu memastikan penis dan area di sekitarnya selalu bersih.

Pada akhirnya, jika Anda tetap memilih untuk tidak disunat, memerhatikan dan menjaga kesehatan penis harus diutamakan. Jangan sampai penis tidak disunat malah membahayakan kesehatan maupun kehidupan Anda.

Healthline. https://www.healthline.com/health/mens-health/circumcised-vs-uncircumcised
Diakses pada 8 Mei 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/phimosis/
Diakses pada 8 Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/circumcision-what-expect#1
Diakses pada 8 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed