5 Penyakit Mata yang Paling Umum Terjadi di Indonesia

(0)
Penyakit mata konjungtivitis ditandai dengan mata merahPenyakit mata konjungtivitis menyebabkan mata merah, gatal, dan berair
Penyakit mata ada banyak macam, mulai dari konjungtivitis (mata merah gatal dan berair) hingga katarak dan glaukoma. Penyakit pada mata tentu dapat mengganggu penglihatan. Umumnya, pandangan menjadi buram, menyempit, bertambah gelap, hingga kebutaan. Namun, masalah pada mata juga bisa memengaruhi kondisi fisik.Lantas, apa saja penyakit mata yang paling banyak ada di Indonesia

Jenis penyakit mata paling umum di Indonesia

Ada beberapa macam penyakit mata yang banyak diidap oleh penduduk di Indonesia. Umumnya, Indonesia memiliki kecenderungan memiliki penyakit mata akibat gangguan penglihatan.Berdasarkan data yang dikutip dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2018, Indonesia termasuk ke dalam lima negara dengan penderita gangguan penglihatan terbanyak.Berikut adalah lima macam penyakit mata yang umum terjadi di Indonesia

1. Konjungtivitis

Meski bukan penyakit mata yang mengganggu penglihatan, konjungtivitis kerap diderita banyak orang Indonesia.
Konjungtivis ditandai dengan kemerahan pada mata
Konjungtivitis atau "pink eye" adalah pembengkakan atau peradangan pada konjungtiva. Konjungtiva adalah lapisan jaringan tipis di permukaan bagian dalam kelopak mata.Menurut Pusdatin Kemenkes 2009, Di Indonesia, dari 135.749 kunjungan ke poliklinik mata, jumlah kasus penyakit mata konjungtivitis dan gangguan lain pada konjungtiva sebanyak 99.195 kasus. Artinya, sebanyak 73,5% penduduk Indonesia berkunjung untuk mendapatkan pertolongan di mata akibat konjungtivitis.Ada banyak macam penyebab pada konjungtivitis, yaitu alergi, mata yang kemasukan benda asing, hingga infeksi bakteri dan virus. Umumnya, bakteri pemicu infeksi adalah staphylococcal atau streptococcal.Cara membersihkan make up mata yang tidak benar, tidak mencuci tangan sebelum memegang mata atau bersentuhan dengan orang lain, hingga paparan serangga pun juga memicu penyebab infeksi pada mata.Selain itu, penyakit mata ini dapat diakibatkan oleh paparan zat kimia. Biasanya, hal ini terjadi ketika berada di lingkungan dengan polusi udara tinggi, berenang dengan kandungan klorin tinggi, atau terpapar bahan kimia berbahaya.Konjungtivitis juga rentan dialami oleh orang yang jarang mengganti lensa kontak dan pasca operasi mata.Bagaimana cara mengobati konjungtivitis? Pengobatan akan tergantung dari penyebabnya. Jika disebabkan oleh alergi, jauhkan mata dari pemicu alergi dan segera minum obat alergi.Jika disebabkan infeksi bakteri, penderita biasanya diberikan resep obat tetes antibiotik atau oles. Beri kompres dingin dan obat tetes mata untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Pada kasus penyakit mata yang lebih parah, dokter mata akan memberikan obat antiradang nonsteroid dan antihistamin.Ketika peradangan sudah semakin parah, dokter biasanya meresepkan obat tetes steroid untuk mengurangi rasa tidak nyaman.Jika mata terpapar bahan kimia yang berbahaya, segera bilas mata dengan air bersih mengalir yang banyak selama beberapa menit. Segera ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

2. Katarak

Pusdatin Kemenkes 2014 menunjukkan, setiap tahun ada satu penderita katarak baru di antara seribu orang di Indonesia.
Katarak ditandai dengan pandangan yang keruh
Penyakit mata ini biasanya menjangkiti orang lanjut usia. Namun, penduduk Indonesia cenderung menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropis. Sekitar 16-22% penderita katarak yang mendapat tindakan operasi berusia di bawah 55 tahun.Pada penderita penyakit mata katarak, lensa mata mengalami kekeruhan akibat adanya perubahan protein dan serat pada lensa mata. Hal ini membuat lensa mata tidak bisa fokus dengan optimal sehingga pandangan terganggu.Ada beragam faktor yang membuat risiko terkena katarak meningkat, yaitu:
  • Penderita diabetes mellitus: risikonya 60% lebih besar jika Anda memiliki diabetes.
  • Obat-obatan: efek samping kortikosteroid, chlorpromazine, dan phenothiazine dapat menyebabkan katarak.
  • Paparan sinar ultraviolet: Sinar UV dapat merusak protein lensa mata akibat stres oksidatif.
  • Merokok: Merokok membuat sel-sel pada lensa mata teroksidasi. Rokok juga membuat lensa mata terpapar logam berat, seperti kadmium
  • Alkohol: orang yang berlebihan mengonsumsi alkohol berisiko lebih tinggi mengalami katarak dibandingkan yang mengonsumsi alkohol lebih sedikit atau tidak sama sekali.
  • Kekurangan gizi: Kekurangan asupan antioksidan seperti vitamin C, E, dan karotenoid mampu meningkatkan risiko katarak.
  • Genetik: Jika ada keluarga yang pernah mengalami katarak sebelumnya, kemungkinan besar Anda juga berisiko mengalaminya.

3. Glaukoma

Jumlah glaukoma sepanjang 10 tahun belakangan meningkat. Pada tahun 2010, jumlah orang dengan glaukoma sebesar 60,5 juta jiwa. 
Laser dipilih untuk mengurangi jika obat tidak efektif
Glaukoma adalah kerusakan pada saraf mata yang membuat pandangan menyempit. Penyakit mata ini terjadi akibat tekanan pada saraf di bola mata meningkat.Tekanan yang terjadi diakibatkan oleh cairan mata (aquos humor) terus diproduksi, tetapi tidak bisa dikeluarkan kembali.Glaukoma tidak memiliki gejala yang jelas. Bahkan, jika tidak ditangani, glaukoma mampu menurunkan kemampuan penglihatan permanen hingga kebutaan. Ada beragam faktor penyebab glaukoma, yaitu:
  • Keturunan: risiko meningkat 6x lebih tinggi jika memiliki anggota keluarga inti (kakak-adik atau orangtua-anak) yang mengidap glaukoma.
  • Ras: orang Asia lebih rentan terkena glaukoma sudut tertutup.
  • Penyakit degeneratif: memiliki diabetes, hipertensi, bahkan hipotensi membuat risiko terkena penyakit mata glaukoma meningkat.
  • Menggunakan alat bantu penglihatan: Orang yang menggunakan kacamata atau lensa kontak dengan ukuran lensa tinggi lebih rentan terkena penyakit mata ini.
  • Cedera mata
  • Mengonsumsi obat steroid jangka panjang
  • Berusia 40 tahun ke atas
  • Penderita migrain
  • Memiliki penyempitan pembuluh darah
Sejauh ini, belum ditemukan obat atau cara untuk menyembuhkan penyakit mata glaukoma sepenuhnya. Pengobatan yang dilakukan biasanya mengurangi jumlah cairan pada bola mata atau operasi dengan laser.Biasanya, operasi dilakukan pada penderita glaukoma dengan kerusakan saraf pusat mata yang meningkat dari waktu ke waktu.

4. Gangguan refraksi

Menurut Kemenkes, jumlah penderita masalah mata berupa kelainan refraksi sebesar 22,1% dari seluruh penduduk di Indonesia. Bahkan, 15% dari penderita adalah usia sekolah. Orang dengan kelainan refraksi berisiko mengalami kebutaan.
Orang dengan gangguan refraksi membutuhkan kacamata khusus
Gangguan refraksi adalah masalah mata yang terkait dengan gangguan penglihatan. Hal ini membuat pandangan tidak jelas. Penyebabnya adalah bentuk mata tertentu membuat cahaya tidak jatuh tepat pada retina. Jenis gangguan refraksi ada 4 jenis, yaitu:
  • Miopi (rabun jauh): penderita tidak dapat melihat objek yang jauh dari mata dengan jelas. Objek jarak jauh pun terlihat buram. Istilah awam untuk kondisi ini adalah mata minus.
  • Hipermetropi (rabun dekat atau mata plus): Penderita kesulitan melihat objek dari dekat. Penderita rabun dekat memiliki kornea datar ataupun bola mata yang terlalu pendek. Hal ini membuat objek yang di dekat mata menjadi buram.
  • Astigmatisme (mata silinder): Pada penderita penyakit mata astigmatisme, lensa mata atau kornea memiliki lekukan yang tidak beraturan. Hal ini memengaruhi cahaya yang masuk ke retina mata sehingga pandangan menjadi kabur atau terdistorsi.
  • Presbiopi (rabun tua): masalah fokus mata yang terjadi pada orang lanjut usia. Lensa mata sudah tidak lagi lentur sehingga tidak lagi mampu untuk cepat fokus pada objek yang dekat. Akhirnya, penglihatan pun menjadi tidak jelas (rabun).
Secara umum, penyebab utama penyakit mata gangguan refraksi adalah anatomi atau bentuk mata. Mulai dari bola mata yang terlalu panjang atau pendek atau retina yang terlalu cekung atau cembung.Keadaan lensa mata pun juga memengaruhi. Lensa yang tidak beraturan, hingga kurangnya kelenturan pada lensa mata menyebabkan pandangan terganggu.Keturunan pun turut memengaruhi seseorang berisiko terkena penyakit mata gangguan refraksi. Selain itu, cedera pada mata ataupun riwayat operasi mata juga meningkatkan kerentanan gangguan refraksi.Masalah pada mata berupa gangguan refraksi secara umum dapat ditangani dengan menggunakan kacamata atau kontak lensa yang sudah diresepkan.Biasanya, dokter meresepkan kacamata minus untuk rabun dekat, kacamata plus untuk rabun jauh, dan kacamata silinder untuk astigmatisme. Untuk mata presbiopi, lensa yang digunakan bisa berupa lensa bifokal, progresif, ataupun trifokal.Pemberian obat tetes atropin untuk melebarkan pupil mata atau operasi LASIK pun bisa menjadi pilihan lain guna mengatasi gangguan refraksi. LASIK bekerja dengan mengubah lengkungan kornea agar cahaya bisa tepat jatuh di retina.

5. Retinopati diabetik

Penyakit mata lainnya yang kerap ditemukan di Indonesia adalah retinopati diabetik. Menurut jurnal yang diterbitkan American Journal of Ophthalmology, prevalensi retinopati diabetik dan retinopati diabetik yang mengancam penglihatan cukup tinggi.
Kadar gula darah tinggi memicu retinopati diabetik
Kecenderungan ini ditemukan pada orang dewasa pengidap diabetes tipe 2 di daerah perkotaan dan pedesaan.Ada satu dari empat orang dewasa dengan diabetes memiliki retinopati diabetik yang mengancam penglihatan.Sementara itu, 1 dari 12 penderita retinopati diabetik yang mengancam penglihatan mengalami kebutaan bilateral.Penyakit mata ini terjadi pada penderita diabetes. Ketika gula darah di tubuh meningkat, hal ini akan merusak pembuluh darah yang ada di retina.Penyakit mata ini tidak bisa sembuh atau teratasi sepenuhnya. Namun, ada cara agar tidak memperparah keadaan.Cara yang biasa dilakukan adalah operasi. Selain itu jika mata sudah mengalami komplikasi, dokter akan melakukan prosedur vitrektomi.Vitrektomi adalah tindakan menyayat kecil bagian mata untuk mengeluarkan darah yang ada dalam mata. Dokter juga memberikan obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal.Untuk mencegah penyakit mata ini, yang bisa dilakukan adalah mengurangi risiko diabetes dengan mengontrol kadar gula darah, mengonsumsi makanan dengan glikemik indeks rendah, tidak menyantap makanan dengan kolesterol jahat, serta olahraga rutin.

Catatan dari SehatQ

Ada lima penyakit mata yang umum ditemukan di Indonesia. Sebagian besar masalah mata ini mampu menurunkan fungsi penglihatan. Macam penyakit mata ini tidak memandang usia. Usia anak sekolah hingga usia lanjut pun bisa berisiko penyakit mata tersebut. Bahkan, jika masalah mata tersebut tidak ditangani segera, hal ini bisa memicu kebutaanPenyakit mata seperti gangguan refraksi bisa disembuhkan dengan operasi LASIK. Namun, ada pula gangguan mata yang tidak bisa sembuh seumur hidup. Yang bisa dilakukan adalah kondisi agar tidak makin parah.Selalu jaga gaya hidup agar senantiasa sehat untuk mencegah terjadinya penyakit pada mata. Cara menjaga kesehatan mata bisa dilakukan dengan cara mengonsumsi makanan sehat, hindari paparan radiasi langsung ke mata, hingga mendapat paparan cahaya matahari yang cukupJika mengalami keluhan pada mata, segera konsultasi ke dokter mata terdekat untuk mendapatkan pertolongan yang sesuai.
kesehatan matakatarakglaukomarabun jauh
Kementerian Kesehatan. https://pusdatin.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-Gangguan-penglihatan-2018.pdf (Diakses pada 5 September 2020)Kementerian Kesehatan. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2009.pdf (Diakses pada 5 September 2020)American Academy of Ophthalmology. https://www.aoa.org/healthy-eyes/eye-and-vision-conditions/conjunctivitis?sso=yKementerian Kesehatan. https://pusdatin.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-penglihatan.pdf (Diakses pada 5 September 2020)Diabetes.co.uk. https://www.diabetes.co.uk/diabetes-complications/cataracts.html (Diakses pada 5 September 2020)American Optometric Association. https://www.aoa.org/healthy-eyes/eye-and-vision-conditions/cataract?sso=y (Diakses pada 5 September 2020)National Eye Institute of The United States. https://www.nei.nih.gov/about/news-and-events/news/new-research-sheds-light-how-uv-rays-may-contribute-cataract (Diakses pada 5 September 2020)Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/vision-center/the-aging-eye/tips/smoking-ups-risk-for-age-related-vision-loss.aspx (Diakses pada 5 September 2020)Kementerian Kesehatan. https://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infoDatin_glaukoma_2019.pdf (Diakses pada 5 September 2020)Glaucoma.org. https://www.glaucoma.org/gleams/glaucoma-in-asian-populations.php (Diakses pada 5 September 2020)Kementerian Kesehatan. https://www.kemkes.go.id/article/view/2082/mata-sehat-di-segala-usia-untuk-peningkatan-kualitas-hidup-masyarakat-indonesia.html (Diakses pada 5 September 2020)Healthline. https://www.healthline.com/health/nearsightedness (Diakses pada 5 September 2020)Healthline. https://www.healthline.com/health/farsightedness (Diakses pada 5 September 2020)Healthline. https://www.healthline.com/health/presbyopia (Diakses pada 5 September 2020)Healthline. https://www.healthline.com/health/astigmatism (Diakses pada 5 September 2020)Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nearsightedness/diagnosis-treatment/drc-20375561 (Diakses pada 5 September 2020)American Journal of Ophthalmology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28669781/ (Diakses pada 5 September 2020)American Academy of Ophthalmology. https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-diabetic-retinopathy (Diakses pada 5 September 2020)Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetic-retinopathy/diagnosis-treatment/drc-20371617 (Diakses pada 5 September 2020)
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait