Benarkah Penyakit Malaria Bisa Kambuh Lagi? Deteksi Gejala Malaria

16 Agt 2019 | Oleh
Nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi Plasmodium dapat menyebarkan penyakit malaria pada manusia
Gigitan nyamuk Anopheles betina yang sudah terinfeksi Plasmodium dapat menyebarkan penyakit malaria

Gigitan nyamuk biasanya tidak menimbulkan bahaya terhadap tubuh, selain bentol-bentol yang gatal. Namun, lain jika gigitan nyamuk tersebut berasal dari nyamuk malaria atau nyamuk Anopheles betina yang sudah terinfeksi dengan parasit penyebab malaria.

Selain menyebabkan sakit kepala dan demam, nyamuk malaria yang menyebarkan Plasmodium atau parasit yang pemicu gejala malaria dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang lebih berbahaya.

Hal yang lebih menyeramkan lagi, ketika Anda sudah pernah terinfeksi dengan parasit dalam tubuh tersebut, Anda tetap berpotensi untuk mengalami kambuhnya malaria.

Mengapa malaria bisa kambuh kembali? 

Jenis parasit Plasmodium falciparum yang memicu malaria tropika tidak berpotensi menyebabkan kambuh, tetapi berbeda kasusnya jika Anda terinfeksi dengan jenis Plasmodium vivax atau jenis Plasmodium ovale

Parasit Plasmodium vivax merupakan jenis parasit penyebab malaria yang banyak ditemukan di luar Afrika, khususnya di daerah Amerika Latin dan Asia. Sementara parasit Plasmodium ovale lebih sering ditemukan di daerah Afrika.

Kedua jenis parasit penyebab malaria ini mampu hidup dorman atau tidak aktif dalam organ hati. Sewaktu-waktu, parasit dalam tubuh yang dorman tersebut bisa aktif kembali dan memunculkan gejala malaria.

Parasit Plasmodium yang tidak aktif tidak akan menimbulkan gejala malaria, tetapi beberapa bulan atau bahkan tahun setelah sudah sembuh dari infeksi penyakit malaria, penyakit malaria tetap bisa kambuh kembali.

Bagaimana cara menghindari kambuhnya penyakit malaria? 

Penyakit malaria awalnya ditularkan melalui sarana nyamuk malaria atau nyamuk Anopheles betina yang membawa parasit penyebab gejala malaria. Tentunya menghindari terinfeksi penyakit malaria bisa dengan menggunakan pestisida antinyamuk, dan sebagainya.

Namun, apakah ada cara untuk menghindari kambuhnya penyakit malaria akibat infeksi parasit Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale? Penurunan risiko kambuhnya penyakit malaria dapat dilakukan dengan pemberian obat dari dokter seusai penanganan penyakit malaria yang awal.

Umumnya, dokter akan memberikan obat jenis primaquine selama 14 hari dengan dosis sehari sekali untuk mencegah kambuhnya malaria. Dalam sehari, dosis primaquine yang bisa diberikan sebanyak 0,25 mg/kgBB atau 0,5 mg/kgBB.

Namun, sebuah riset mencoba untuk mempersingkat waktu konsumsi obat dengan memberikan dosis obat primaquine sebesar 0,5 mg/kgBB per harinya selama tujuh hari. 

Penelitian tersebut menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kambuh antara meminum obat primaquine selama 14 hari ataupun selama tujuh hari. Meskipun demikian, penelitian ini masih memerlukan riset lebih lanjut.

Alternatif obat antimalaria lain yang sedang diteliti untuk dijadikan obat pencegah kambuhnya malaria adalah tafenoquine. Berbeda dengan primaquine, tafenoquine cukup dikonsumsi sekali saja.

Sebuah riset menunjukkan bahwa obat antimalaria tafenoquine dapat berfungsi dengan baik dalam menurunkan kemungkinan kambuhnya penyakit malaria. Serupa dengan penelitian sebelumnya, studi ini juga memerlukan penelitian lebih lanjut.

Deteksi dini kambuhnya penyakit malaria dengan mengenali gejala malaria

Serupa dengan mendeteksi malaria secara umumnya, salah satu cara deteksi dini yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali gejala malaria. Selain penyebab sakit kepala dan demam, gejala malaria yang bisa muncul adalah:

Bila Anda atau kerabat sudah pernah terjangkit malaria, maka Anda atau kerabat perlu untuk memeriksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih pasti.

Bagaimana dokter dapat mengetahui penyakit malaria yang kambuh?

Tes darah adalah satu-satunya pemeriksaan yang bisa mengonfirmasi penyakit malaria. Pemeriksaan darah bisa dilakukan dengan mengecek antibodi malaria dan melalui apus darah yang diliat di bawah mikroskop. Selain tes darah, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan melihat riwayat pasien di rekam medis. 

Tes darah tidak hanya dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya parasit Plasmodium dalam darah, tetapi juga untuk mengecek parasit penyebab malaria tersebut secara spesifik. 

Tes darah mampu mengetahui jenis parasit Plasmodium apa yang menyebabkan penyakit malaria yang dialami dan  apakah parasit yang menjadi penyebab malaria yang dimiliki kebal terhadap obat antimalaria tertentu.

Hasil dari tes darah bisa muncul kurang dari 15 menit, tetapi ada juga yang memerlukan waktu hingga berhari-hari untuk mengetahui hasil pemeriksaannya. 

Oleh karenanya, apabila Anda atau kerabat mengalami gejala malaria, segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya.

Referensi

CDC. https://www.cdc.gov/malaria/about/disease.html
Diakses pada 08 Agustus 2019

Cochrane Library. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD012656.pub2/full
Diakses pada 08 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/malaria/diagnosis-treatment/drc-20351190
Diakses pada 08 Agustus 2019

ScienceDirect. https://www.sciencedirect.com/topics/immunology-and-microbiology/plasmodium-ovale
Diakses pada 08 Agustus 2019

The New England Journal of Medicine. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1710775
Diakses pada 08 Agustus 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/malaria-symptoms#1
Diakses pada 08 Agustus 2019

WHO. https://www.who.int/malaria/news/2019/new-opportunities-to-prevent-vivax-malaria-relapse/en/
Diakses pada 08 Agustus 2019

Yang juga penting untuk Anda
Baca Juga
Diskusi Terkait:
Lihat pertanyaan lainnya
Back to Top