Penyakit Lupus Menular kepada Orang Lain? Simak Penjelasannya

Lupus tidak dapat disebarkan baik lewat udara ataupun kontak langsung
Lupus merupakan sebuah penyakit autoimun yang menyerang jaringan tubuh mereka sendiri

Pernahkah anda mendengar penyakit lupus? Lupus adalah sebuah penyakit autoimun yang muncul karena sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ di dalam tubuhnya sendiri. Penyakit ini melibatkan berbagai organ, di antaranya kulit, persendian, ginjal, paru, sistem saraf pusat, dan hematopoiesis (pembentukan darah).

Penyebab pasti dari penyakit lupus belum diketahui. Penyakit ini menyebabkan inflamasi atau peradangan pada jaringan konektif, seperti kartilago (tulang lunak) dan dinding pembuluh darah. Jaringan konektif berperan memberikan kekuatan dan fleksibilitas pada berbagai struktur dalam tubuh.

Benarkah Lupus Menular?

Lupus tidak dapat disebarkan baik lewat udara, kontak langsung, maupun cairan tubuh manusia. Jadi, asumsi tentang lupus menular dapat dipatahkan. Akan tetapi, faktor genetik diketahui berperan dalam terjadinya penyakit ini. Anak yang kembar monozigot memiliki risiko terkena lupus sebanyak 10 kali lipat dibandingkan kembar dzigot.

Selain itu, risiko penyakit lupus juga lebih besar 8-20 kali lipat apabila memiliki saudara kandung yang juga mengalami penyakit ini. Variasi genetik yang menyebabkan terjadinya mutasi gen tertentu turut berperan dalam terjadinya lupus.

Tidak semua orang dengan kecenderungan genetik akan mengalami lupus. Lupus terjadi akibat kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Kondisi lingkungan berperan aktif dalam merangsang terjadinya penyakit autoimun ini.

Adanya kerentanan secara genetik dan rangsangan lingkungan menyebabkan aktivasi berlebihan dari sel imun tubuh, serta mengganggu mekanisme toleransi tubuh. Kondisi ini menyebabkan tubuh memproduksi autoantibodi. Sistem kekebalan tubuh akan mengenali sel tubuhnya sebagai benda asing, lalu membentuk kompleks imun. Proses ini menghancurkan sel yang berikatan dengan antibodi.

Faktor lingkungan yang memengaruhi lupus, antara lain: paparan sinar ultraviolet, terutama ultraviolet B, infeksi, dan toksin dapat memicu awal mula serta eksarsebasi dari penyakit lupus.

Paparan sinar ultraviolet berlebih akan meningkatkan jumlah paparan antigen pada sistem imun sehingga terjadi kematian sel abnormal. Infeksi terhadap virus Epstein Barr juga diduga berperan dalam merangsang terjadinya lupus. Infeksi pada individu yang memiliki kecenderungan genetik akan mengaktifkan autoantibodi tubuh.

Perubahan hormonal saat pubertas juga ikut memengaruhi. Penyakit lupus diketahui lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pria. Oleh karena itu, ada dugaan bahwa estrogen dan hormon seks lainnya menyebabkan manifestasi lupus. Hormon estrogen berperan memperpanjang autoreaktivitas dari sel limfosit (sel darah putih). Kromosom X juga diketahui bermutasi pada penyakit lupus.

[[artikel-terkait]]

Penemuan Penyakit lupus

Seseorang patut mencurigai adanya penyakit lupus apabila ditemukan tiga gejala berupa demam, nyeri otot, dan bercak merah, terutama pada perempuan. Selain itu, gejala klinis ditambah riwayat penyakit autoimun pada keluarga juga meningkatkan kecurigaan adanya penyakit lupus.

Gejala penyakit lupus dapat muncul tiba-tiba, umumnya di antara usia remaja hingga umur 30 tahun. Gejala ini seringkali juga diikuti periode remisi. Gejala lupus bisa menyerupai gejala-gejala penyakit lain. Oleh karena itu, apabila ditemukan gejala awal pada anak anda, diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis penyakitnya.

Penyakit lupus merupakan penyakit yang berisiko tinggi menyebabkan kerusakan organ vital maupun nonvital. Penemuan lupus sejak dini bermanfaat dalam mencegah terjadinya kesakitan dan kematian akibat penyakit lupus.

Tiga komplikasi utama pada lupus yang perlu diperhatikan adalah gangguan ginjal, serangan jantung, dan penyakit jantung koroner. Selain itu, kejadian lupus juga bisa meningkatkan risiko keganasan (kanker).

Pengobatan Penyakit Lupus

Pengobatan anak dengan lupus dilakukan dengan cara menekan sistem kekebalan tubuh menggunakan steroid. Obat ini dapat meringankan gejala lupus yang dialami dan mencegah kerusakan organ. Akan tetapi, diperlukan kontrol ketat oleh dokter karena adanya berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan, seperti contohnya infeksi.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14796-systemic-lupus-erythematosus-sle-in-children
Diakses pada Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1008066-overview
Diakses pada Mei 2019

Harry O, Yasin S, Brunner H. Childhood-Onset Systemic Lupus Erythematosus: A Review and Update. The Journal of Pediatrics. 2018 May;196:22-30.e2.

Artikel Terkait

Banner Telemed