5 Fakta Kusta, Penyakit yang Penularannya Seakan Tak Kasat Mata

Penyakit kusta bisa menimbulkan kerusakan saraf, apabila tidak segera ditangani
Meski sangat menular, penyakit kusta dapat disembuhkan.

Penyakit kusta atau yang juga dikenal dengan lepra adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penderita kusta bisa mengalami gangguan pada saraf, kulit, mata, dan bagian dalam mukosa hidung.

Penyakit ini merupakan penyakit menular yang dapat disembuhkan. Namun, apabila dibiarkan, kerusakan saraf yang terjadi dapat menyebabkan kelumpuhan tangan dan kaki hingga kebutaan.

[[artikel-terkait]]

Waspadai penyakit kusta, agar dapat menghindarinya

Meski sudah sering terdengar, kewaspadaan mengenai penyakit ini masih belum populer. Oleh karena itu, kenali 5 fakta tentang penyakit kusta agar Anda dapat terhindar dari dampak buruk penyakit ini.

1. Pola penularan penyakit kusta belum diketahui

Proses pasti penularan penyakit kusta hingga saat ini belum diketahui. Secara umum, penularan penyakit ini diduga terjadi melalui kontak langsung, antara penderita kusta dengan individu yang sehat.

Selain itu, saluran pernapasan juga dapat menjadi alur penularan kusta. Bahkan, muncul juga anggapan bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui serangga. Namun, pernyataan ini masih memerlukan penelitian lanjutan.

2. Gejala penyakit kusta dapat terlihat pada kulit

Salah satu gejala utama dari penyakit kusta adalah munculnya luka di kulit. Luka tersebut timbul akibat berkurangnya kemampuan kulit untuk merasakan sakit, sentuhan, maupun. Kondisi ini umumnya tidak akan sembuh, meski sudah muncul selama beberapa minggu.

Ciri lain yang muncul pada kulit penderita kusta adalah:

    • Berubahnya warna kulit pada area tertentu menjadi lebih terang dari kulit sekitarnya atau bercak putih.
    • Muncul benjolan pada kulit
    • Kulit menjadi keras, kaku, atau kering
    • Muncul luka pada area tumit dan kaki yang tidak terasa sakit
    • Pembengkakan pada wajah atau daun telinga
    • Rontoknya alis serta bulu mata

3. Penyakit kusta dapat menyerang sistem saraf

Selain kulit, penyakit ini juga dapat menyerang sistem saraf dan menimbulkan gejala berupa:

  • Rasa kebas pada area kulit yang terinfeksi
  • Lemah otot hingga kelumpuhan, terutama pada tangan dan kaki
  • Pembesaran saraf (terutama pada area siku serta lutut dan bagian pinggir dari leher)
  • Gangguan pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan, apabila saraf fasial pada wajah juga terinfeksi.

4. Kemunculan gejala penyakit kusta memerlukan waktu lama

Umumnya, gejala dan tanda penyakit kusta baru akan muncul setelah 3-5 tahun setelah tubuh berkontak dengan bakteri penyebabnya. Pada beberapa orang, gejala bahkan baru muncul setelah 20 tahun. Oleh karena itu, sulit untuk mendeteksi waktu dan tempat terjadinya penularan infeksi penyakit kusta.

Ada 3 Tipe Penyakit Kusta

Perbedaan tipe penyakit kusta (lepra) dapat dilihat dari respons imun yang diberikan oleh tubuh penderita, dan dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu:

  • Tuberculoid leprosy. Pada tipe ini, respons imun tubuh masih baik. Luka yang muncul pada tubuh hanya sedikit dan risiko menularnya rendah.
  • Lepromatous leprosy. Pada tipe ini, respons imun tubuh sudah tidak baik. Selain kulit, tipe ini juga menyerang saraf dan organ lainnya. Terdapat luka yang luas serta benjolan-benjolan yang lebih banyak, dan lebih menular.
  • Borderline leprosy. Memiliki ciri seperti jenis pertama dan kedua. Tipe ini berada di antara kedua tipe tersebut.

Setelah mengetahui berbagai fakta tentang penyakit kusta, segera periksakan diri ke dokter apabila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala-gejalanya. Semakin cepat penanganan dilakukan, maka tentu saja akan lebih baik.

Centre For Disease Control and Prevention (CDC). https://www.cdc.gov/leprosy/index.html
Diakses pada Februari 2019

World Health Organization (WHO). https://www.who.int/lep/disease/en/
Diakses pada Februari 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/leprosy#symptoms
Diakses pada Februari 2019

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symptoms-treatments-history#1
Diakses pada Februari 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed