Waspadai 12 Penyakit Ini Dapat Muncul Akibat Kelebihan Berat Badan dan Obesitas

Penderita kelebihan berat badan dan obesitas rentang mengalami diabetes melitus dan hipertensi
Kelebihan berat badan dan obesitas dapat memicu berbagai penyakit berbahaya.

Dalam beberapa dekade terakhir, kelebihan berat badan dan obesitas secara global mengalami peningkatan drastis. Pada tahun 2016, data WHO menunjukkan lebih dari 1,9 milyar orang dewasa berusia >18 tahun memiliki kelebihan berat badan, dengan 650 juta di antaranya masuk dalam kategori obesitas. Tingginya angka penderita kelebihan berat badan dan obesitas menyebabkan peningkatan angka kematian akibat penyakit tidak menular, yang merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia berdasarkan Depkes RI.

Penyakit-penyakit Tidak Menular Akibat Kelebihan Berat Badan dan Obesitas

Berikut adalah 12 penyakit kelebihan berat badan dan obesitas yang sering menyerang:

1. Diabetes Melitus

Pada obesitas, terjadi proses peradangan kronis yang berperan dalam menyebabkan resistensi insulin. Insulin merupakan hormon yang diperlukan untuk mengatur kadar gula darah agar tidak berlebihan. Resistensi insulin merupakan faktor determinan terjadinya sindrom metabolik. Obesitas menyebabkan penurunan respons sel beta pankreas terhadap peningkatan glukosa darah, serta jumlah reseptor insulin berkurang dan resptor yang ada juga menjadi kurang sensitif sehingga glukosa dalam darah meningkat.

2. Hipertensi

Obesitas pada dewasa dan anak merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi. Risiko hipertensi meningkat hingga tiga kali lipat pada anak dengan obesitas dibandingkan anak yang memiliki berat badan ideal. Timbunan lemak darah dalam tubuh berkorelasi dengan peningkatan jumlah kolesterol, sel lemak mudah lepas dan memasuki pembuluh darah sehingga menyebabkan sumbatan pembuluh darah yang pada akhirnya menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan berujung menjadi hipertensi. Pada penderita hipertensi dengan obesitas, penurunan berat badan berkaitan dengan terjadinya penurunan tekanan darah.

3. Dislipidemia

Pada obesitas, kandungan lemak dalam tubuh mengalami peningkatan. Hal ini berdampak pada metabolisme dalam tubuh. Kadar low density lipoprotein cholestrol (LDL), very low density lipoprotein cholestrol (VLDL), dan trigliserida akan mengalami peningkatan; sedangkan kolestrol yang bersifat protektif, high density lipoprotein (HDL), akan mengalami penurunan. Dislipidemia dapat menyebabkan berbagai penyakit vaskular akibat pembentukan plak yang menyumbat pembuluh darah.

4. Penyakit Jantung Koroner dan Gagal Jantung

Obesitas berkaitan erat dengan terjadinya hipertensi dan dislipidemia. Apa bila kedua kondisi tersebut dibiarkan tidak terkontrol, maka dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, yaitu sumbatan pada pembuluh darah jantung. Penyakit jantung koroner bisa menyebabkan serangan jantung tiba-tiba yang mengancam nyawa. Selain itu, penyakit gagal jantung juga dapat terjadi karena kerja jantung yang semakin berat akibat hipertensi dan penyakit jantung koroner.

5. Stroke

Seseorang dengan obesitas memiliki risiko dua kali lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan orang dengan indeks massa tunuh normal. Stroke yang terjadi dapat berupa stroke iskemik (terdapat penyumbatan pembuluh darah otak) ataupun hemoragik (akibat pecahnya pembuluh darah otak)

6. Demensia dan penyakit Alzheimer

Hubungan antara obesitas dan demensia masih bersifat kontroversial. Akan tetapi, seseorang dengan obesitas berisiko tinggi mengalami hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia. Ketiganya merupakan faktor yang berkontribusi meningkatkan risiko penyakit demensia dan penyakit Alzheimer.

7. Kanker

Sebanyak seperempat hingga sepertiga kejadian kanker dihubungkan dengan adanya obesitas. Kanker yang umumnya muncul akibat obesitas, yaitu kanker kolon, payudara, rahim, ginjal, dan esofagus. Kejadian kanker lain yang juga dikaitkan dengan kondisi kelebihan berat badan dan obesitas adalah kanker lambung, pankreas, kandung empedu, dan leukemia. Selai itu, penderita kanker dengan obesitas memiliki perjalanan penyakit yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak obesitas. Kondisi ini juga mempersulit pengaturan dosis obat kemoterapi. Penurunan berat badan dapat menurunkan risiko terjadinya kanker.

8. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA merupakan obstruksi (hambatan) saluran pernapasan saat tidur. Pada anak, OSA dapat menyebabkan terjadinya gagal tumbuh, gangguan perilaku, penurunan fungsi kognitif, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Salah satu pertanda OSA yang dapat ditemukan adalah mendengkur saat tidur.

9. Gangguan Imun

Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, multipel sklerosis, dan psoriasis.

10. Perlemakan Hati

Peningkatan kadar lemak tubuh pada obesitas menyebabkan terjadinya penumpukan lemak pada berbagai organ. Salah satunya adalah hati. Perlemakan hati merupakan salah satu penyebab utama dari penyakit hati kronis. Kondisi ini dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kanker hepatoselular (kanker hati).

11. Penyakit Ginjal

Berat badan berlebihan dan obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal. Selain itu, peningkatan kejadian hipertensi dan diabetes melitus pada obesitas akan memperburuk gagal ginjal dan mempercepat terjadinya tahap akhir penyakit ini. Obesitas juga mengakibatkan mudahnya terjadi batu ginjal dan inkontinensia.

12. Osteoartritis

Obesitas merupakan salah satu faktor utama terjadinya osteoartritis. Dampak terbesar penyakit ini terjadi pada kedua lutut yang menopang berat badan saat berjalan. Selain lutut, osteoartritis juga dapat terjadi pada sendi tangan, panggul, dan persendian lainnya.

Kinlen D, Cody D, O’Shea D. Complications of Obesity. QJM Int J Med. 2018 Jul 1;111(7):437–43.

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/complication-of-obesity
Diakses pada April 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/obesity-and-overweight
Diakses pada April 2019

Depkes RI. http://www.depkes.go.id/article/print/1637/penyakit-tidak-menular-ptm-penyebab-kematian-terbanyak-di-indonesia.html
Diakses pada April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed