Kenali Penyebab Jantung Koroner dan Cara Pencegahannya


Penyebab jantung koroner adalah terjadinya penyumbatan atau penyempitan aliran darah ke jantung. Kondisi ini biasanya akan ditandai dengan napas terasa pendek dan sesak.

(0)
25 Apr 2019|Maria Intan Josi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Penyebab jantung koroner adalah penyumbatan darahPenyakit jantung koroner setiap tahunnya memakan banyak korban di Indonesia.
Penyakit jantung koroner merupakan penyakit mematikan karena jika tidak mengalami kematian, penderitanya bisa mengalami kecacatan tanpa adanya peringatan sebelumnya. Ketika penderitanya berada di bawah usia 40 tahun, maka konsekuensi yang harus dihadapi tidak hanya kepada penderita sendiri, melainkan juga keluarga, teman, hingga pekerjaan.Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan bahwa 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit tersebut terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.Dari 17,5 juta kematian akibat penyakit kardiovaskuler di atas, 7,4 juta (42,3%) di antaranya diakibatkan oleh penyakit jantung koroner. Khusus untuk di Indonesia, berdasarkan riset dari Sample Registration System (SRS) pada 2014 menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yaitu sekitar 12,9%

Mengenal penyebab jantung koroner

Penyebab jantung koroner menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah adanya plak yang terbentuk di dinding arteri pembuluh darah jantung, sehingga mengakibatkan pasokan darah ke jantung dan ke area lainnya tersumbat.Saat arteri yang memasok darah ke jantung mulai menyempit dan mengeras, penyakit jantung koroner bisa terjadi. Pengerasan arteri ini terjadi karena adanya penumpukan kolesterol yang sering disebut dengan plak pada dinding pembuluh darah. Otot jantung tak lagi memperoleh darah atau oksigen yang diperlukan saat kondisi ini terjadi.Plak tersebut mengakibatkan saluran pada pembuluh darah arteri mengecil seiring dengan berjalannya waktu, sehingga sebagian atau bahkan seluruh aliran darah akan terhenti. Proses ini disebut juga dengan aterosklerosis.Jumlah plak yang terlalu banyak dan menyempitkan aliran pembuluh darah arteri akan menyulitkan terpompanya aliran darah ke seluruh tubuh. Ketika otot jantung tidak memiliki cukup pasokan darah, akan terjadi nyeri pada dada sebelah kiri atau angina.Angina merupakan gejala yang umum terjadi pada kasus penyakit jantung koroner. Seiring dengan berjalannya waktu, penyakit jantung koroner ini dapat menyebabkan penyakit gagal jantung dan detak jantung yang tidak normal.

Faktor risiko penyakit jantung koroner

Faktor risiko munculnya penyakit jantung koroner penting untuk Anda ketahui agar penyebabnya bisa segera ditemukan. Berikut beberapa diantaranya:

1. Rokok

Rokok adalah faktor risiko utama dari munculnya penyakit jantung koroner. Kandungan nikotin dan karbon monoksida yang dikeluarkan dari asap rokok dapat menekan kerja jantung, dengan memacu jantung bekerja lebih cepat. Tak hanya itu saja, kedua senyawa ini juga bisa meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah.Senyawa lain dalam rokok juga bisa merusak dinding arteri jantung dan menyebabkan adanya penyempitan. Oleh karena itu, risiko perokok terserang penyakit jantung hampir 25 persen lebih tinggi dibandingkan perokok pasif.

2. Diabetes

Diabetes dapat memengaruhi dinding pembuluh darah menjadi lebih tebal dan menghambat aliran darah. Penderita diabetes juga diketahui memiliki risiko 2 kali lipat lebih besar untuk terserang penyakit jantung koroner.

3. Trombosis

Trombosis adalah darah beku yang bisa terbentuk di pembuluh darah vena atau arteri. Aoabila trombosis terbentuk di arteri, efeknya bisa menghambat aliran darah ke jantung, dan meningkatkan risiko serangan jantung.

4. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang bisa memicu jantung untuk bekerja lebih keras. Salah satu faktor pemicu hipertensi adalah makanan asin dengan kadar garam yang tinggi.Tekanan darah yng dapat dikatakan normal berkisar antara 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Sebaiknya periksakan tekanan darah Anda secara rutin untuk mencegahnya tiba-tiba melonjak.

5. Kadar kolesterol tinggi

Kolesterol merupakan lemak yang dihasilkan oleh hati, dan penting perannya untuk proses pembentukan sel sehat. Meskipun demikian, Anda harus memastikan kadarnya tetap normal, karena kadar kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

6. Kurang beraktivitas

Aktivitas fisik khususnya olahraga kardio dapat mengurangi risiko penyakit jantung. Olahraga juga bisa membantu mengontrol kadar kolesterol dan gula dalam darah, mencegah obesitas, sekaligus membantu menurunkan tekanan darah.

7. Pola makan tidak sehat

Risiko penyakit jantung koroner dapat meningkat jika Anda tetap melakukan pola makan yang tidak sehat, seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan manis dan asin dengan kadar gula atau garam tinggi, atau makanan berminyak dengan kandungan lemak jenuh yang tinggi.

8. Riwayat kesehatan keluarga

Risiko penyakit jantung koroner juga meningkat pada keturunan orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung. Jika Anda telah mengetahui keluarga Anda memiliki riwayat penyakit ini, sebaiknya lakukan pemeriksaan rutin dan batasi makanan-makanan yang bisa memicu penyakit jantung koroner.

Berbagai gejala penyakit jantung koroner

1. Angina

  • Nyeri dada: Rasa nyeri pada dada seperti diremas, ditekan, mengencang, terbakar, atau pedih di sepanjang dada. Biasanya gejala ini terasa pada bagian belakang tulang rusuk. Nyeri terkadang menyebar ke daerah leher, rahang, lengan, tenggorokan, punggung, dan bahkan pada gigi.

  • Gejala lainnya: Nyeri terbakar di ulu hati, terasa lemas, berkeringat, mual, kram, dan napas pendek. Berikut ini beberapa tipe angina dan gejalanya:
    • Angina stabil: Rasa tidak nyaman dapat berlangsung dalam waktu yang singkat dan terasa seperti ada gas atau gangguan pencernaan. Biasanya terjadi saat jantung bekerja lebih keras dari biasanya, misalnya pada saat olahraga. Polanya teratur dan dapat terjadi selama berbulan-bulan atau tahunan. Beristirahat dan pengobatan bisa mengurangi gejala ini.

    • Angina tidak stabil pada daerah koroner: Biasanya sering terjadi akibat adanya gumpalan darah. Terjadi pada saat sedang beristirahat dan bertahan lebih lama bahkan dapat memburuk dari waktu ke waktu

    • Variasi Angina: Biasanya berlangsung pada saat istirahat dan parah. Angina tipe ini terjadi ketika ada kejang pada bagian arteri yang mengakibatkan pengencangan dan penyempitan, sehingga mengacaukan pasokan darah ke jantung. Pemicunya bisa dikarenakan udara dingin, stres, obat-obatan, rokok, atau penggunaan kokain.

2. Napas pendek (dispnea)

Penyakit jantung koroner juga dapat mengakibatkan napas pendek. Jika aliran darah ke jantung dan organ lainnya tersumbat, maka penderita akan mulai merasa sesak napas. Gerakan yang terlalu berenergi akan sangat melelahkan

3. Serangan jantung

Serangan jantung terjadi ketika otot jantung tidak memiliki cukup darah, sehingga kekurangan oksigen. Otot jantung akan mati dan serangan jantung akan terjadi. Serangan jantung biasanya terjadi ketika sumbatan darah berkembang dari plak yang berada di pembuluh darah arteri koroner. Gejala dari serangan jantung, di antaranya: rasa tidak nyaman di area dada, baik terasa ringan maupun terasa tajam, batuk, pusing, napas pendek, wajah membiru, mual/muntah, keringat, dan susah untuk beristirahat.Gejala awal dari serangan jantung adalah nyeri di dada yang menyebar ke daerah leher, rahang, telinga, lengan, dan telapak tangan, lalu ke daerah bahu, punggung, dan perut bagian bawah.Mengubah posisi beristirahat atau berbaring tidak akan membuat keadaan membaik. Nyeri terkadang bersifat tetap, namun kadang menghilang. Gejala ini dapat terjadi selama beberapa menit atau beberapa jam. Serangan jantung bersifat gawat darurat karena dapat mengakibatkan kematian atau kerusakan permanen dari otot jantung.

Cara mencegah penyakit jantung koroner

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko jantung koroner sebagai cara pencegahan, yaitu:
  1. Menjalani gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi (rendah garam, rendah lemak), diet sehat, rutin berolahraga, dan berhenti merokok.
  2. Menjalani pengobatan untuk mengatasi faktor risiko jantung koroner, seperti kolesterol tinggi, darah tinggi, dan detak jantung yang tidak beraturan.
  3. Operasi pada pembuluh darah yang dianjurkan oleh dokter untuk mengembalikan aliran darah ke jantung.
Menurut American Heart Association, faktor risiko tradisional untuk penyakit jantung koroner adalah kolesterol LDL tinggi, kolesterol HDL rendah, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga, diabetes, merokok, obesitas, dan pasca-menopause untuk wanita dan berusia lebih dari 45 tahun untuk pria.Menjalani gaya hidup sehat dengan cara mencukupi kebutuhan nutrisi yang baik, manajemen berat badan, dan banyak melakukan aktivitas fisik dapat berperan besar dalam menghindari penyakit jantung koroner.Jika penyakit jantung koroner dibiarkan begitu saja, maka Anda berisiko mengalami komplikasi. Oleh sebab itu, penting untuk berkonsultasi pada dokter jika Anda merasakan ada gejala penyakit jantung koroner.
penyakit jantungpenyakit jantung koroner
Journal of the American College of Cardiology. http://www.onlinejacc.org/content/41/4/529#
Diakses pada April 2019
Health. https://www.health.com/heart-disease/heart-attack-young-women
Diakses pada April 2019
Kemenkes RI. http://www.depkes.go.id/article/view/17073100005/penyakit-jantung-penyebab-kematian-tertinggi-kemenkes-ingatkan-cerdik-.html
Diakses pada April 2019
NIH. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/coronary-heart-disease
Diakses pada 3 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait