Kenali Lebih Jauh Penyakit Autoimun dan Pengobatannya

Penyebab penyakit autoimun masih belum diketahui tapi ada faktor risikonya
Penyakit autoimun ada banyak jenisnya

Publik sempat dikejutkan dengan kabar dari beberapa selebriti yang terkena penyakit autoimun pada tahun 2019 silam. Meski mungkin masih terdengar asing, penyakit ini ternyata dapat memberi dampak yang mengerikan.

Bukan hanya itu, penyakit ini juga seringkali tidak disadari dan baru diketahui setelah menunjukkan gejala yang mengganggu. Oleh sebab itu, mari kenali lebih lanjut mengenai penyakit autoimun.

Apa itu penyakit autoimun?

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuhnya sendiri. Padahal dalam keadaan normal, sistem ini dapat berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap zat dan organisme asing, seperti halnya bakteri dan virus.

Sayangnya pada penderita autoimun, sistem kekebalan tubuh malah keliru dalam mengenali sel asing dan justru melihat sel-sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh mengeluarkan protein berupa antibodi, untuk menyerang sel-sel sehat tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan organ tubuh yang tentu membahayakan.

Perlu Anda ketahui bahwa siapa pun bisa menderita penyakit ini. Namun, sekitar 80 persen penderita penyakit autoimun adalah wanita usia produktif. Beberapa penelitian mengaitkan hal ini dengan faktor hormonal, kode genetik yang dibawa kromosom X, dan perbedaan respons sistem kekebalan tubuh wanita dengan pria.

Penyebab penyakit autoimun

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab dari penyakit autoimun. Namun, beberapa faktor dipercaya dapat meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit ini. Adapun faktor risiko penyakit autoimun, di antaranya:

  • Jenis kelamin

Menurut sebuah studi beberapa waktu lalu, wanita lebih sering mendapat penyakit autoimun dibanding pria dengan perbandingan 2:1. Seringkali penyakit ini dimulai pada masa reproduksi seorang wanita, yaitu antara usia 15-44 tahun.

  • Etnis tertentu

Penyakit autoimun, misalnya diabetes tipe-1, lebih banyak terjadi pada populasi orang Eropa, sedangkan lupus lebih sering ditemui pada populasi Amerika Latin dan Afro-Amerika.

  • Riwayat keluarga atau genetik

Penyakit autoimun tertentu, seperti multiple sclerosis dan lupus dapat menurun dalam keluarga. Namun, tak semua anggota keluarga memiliki jenis penyakit autoimun yang sama. Meski begitu, Anda tetap mewarisi kerentanan terhadap kondisi autoimun.

  • Lingkungan

Meningkatkan penyakit autoimun membuat para peneliti percaya bahwa faktor lingkungan juga berpengaruh. Paparan bahan kimia, seperti merkuri, asbes, pola makan yang tidak sehat, infeksi virus, dan bakteri juga dianggap dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit autoimun.

Jenis-jenis penyakit autoimun

gejala psoriasis yang merupakan penyakit autoimun
Contoh gejala psoriasis yang masuk dalam penyakit autoimun

Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan sebagai penyakit autoimun. Penyakit-penyakit tersebut dapat menyerang setiap bagian dari tubuh Anda. Berikut ini beberapa penyakit autoimun yang cukup banyak dijumpai:

  • Lupus

Lupus dapat memengaruhi hampir semua sistem organ tubuh. Ketika mengalami lupus, Anda dapat mengalami gejala, seperti demam, nyeri sendi, sariawan, ruam kulit, sariawan, kaki bengkak, anemia, sesak napas, dan lainnya.

  • Rheumatoid arthritis

Penyakit autoimun ini terjadi pada daerah persendian. Rheumatoid arthritis dapat menyebabkan nyeri, kaku, dan pembengkakan pada sendi. Bahkan perubahan bentuk pada persendian Anda juga bisa terjadi.

  • Diabetes tipe-1

Diabetes tipe-1 menyerang sel-sel pankreas yang bertugas memproduksi insulin untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Gula darah yang tinggi pun bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah, serta organ-organ penting seperti jantung, mata, ginjal, dan saraf.

  • Psoriasis, skleroderma, discoid lupus

Berbagai penyakit autoimun ini menyerang kulit. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa kulit bersisik, nyeri, dan radang pada sendi.

  • Penyakit Graves dan tiroiditis Hashimoto

Kelompok penyakit autoimun yang satu ini menjangkit kelenjar tiroid Anda. Penyakit tersebut bisa menunjukkan gejala, yakni berat badan naik atau turun, gelisah, berdebar, mata menonjol, pembengkakan di leher, mudah lelah, dan gejala lainnya.

  • Kolitis ulseratif, penyakit Crohn, penyakit Celiac

Golongan penyakit autoimun ini menyerang usus, dengan menimbulkan gejala berupa nyeri perut, diare, demam, berat badan turun, dan BAB berdarah.

  • Vaskulitis

Vaskulitis adalah penyakit autoimun yang menyerang pembuluh darah, hingga menyebabkan peradangan. Peradangan yang terjadi dapat mempersempit arteri dan vena, sehingga darah yang mengalir melaluinya, menjadi lebih sedikit.

  • Anemia hemolitik, idiophatic thrombocytopenia purpura

Kelompok penyakit autoimun ini memengaruhi sel darah. Gejala yang bisa muncul, yakni mata kekuningan, kulit pucat, lebam-lebam, pendarahan, kelelahan, dan sesak napas.

  • Sindrom Sjogren

Penyakit autoimun ini menyerang kelenjar, terutama yang menyediakan pelumas bagi lapisan mata dan mulut, bahkan juga persendian dan kulit. Oleh sebab itu, sindrom Sjogren bisa menimbulkan gejala berupa mata kering, mulut kering, kulit kering, maupun nyeri sendi.

Bagaimana cara mengobati penyakit autoimun?

Pola makan sehat bisa membantu menangani autoimun
Pola makan sehat bisa membantu menangani autoimun

Meski setiap jenis penyakit autoimun memiliki gejala yang khas, terdapat beberapa gejala awal yang sering terjadi secara umum. Hal ini bisa menyulitkan dokter dalam mendiagnosis penyakit autoimun.

Jika ada gejala yang mengarah pada penyakit autoimun, dokter akan melakukan serangkaian tes laboratorium untuk mengetahui kadar autoantibodi Anda. Dalam beberapa kasus, biopsi juga diperlukan untuk mengetahui adanya penyakit autoimun pada tubuh pasien.

Jika Anda didiagnosis menderita penyakit autoimun, maka dokter akan menentukan penanganan yang tepat. Konsep pengobatan penyakit autoimun, yaitu dengan menekan respons dan proses aktivitas kekebalan tubuh yang berlebihan. Dengan demikian, gejala dan perkembangan penyakit dapat dikendalikan, bahkan gejala tak berlangsung lagi.

Jika organ yang terdampak tak mengalami gangguan fungsi dan tak menunjukkan gejala lagi, maka pasien dapat beraktivitas secara normal. Namun, pada beberapa penderita, flare (gejala yang berat) dapat muncul kembali. Kondisi ini bisa dipicu oleh faktor tertentu, seperti stres dan infeksi.

Pengobatan untuk penyakit autoimun pun tergantung pada jenis penyakit yang Anda derita, gejala yang dirasakan, dan tingkat keparahan yang dialami. Beberapa jenis obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh dapat digunakan secara tunggal ataupun kombinasi. Obat-obatan lain juga bisa diberikan sesuai gejala yang timbul.

Selain itu, Anda juga harus membiasakan diri melakukan pola makan yang sehat dan olahraga teratur, yang tentu harus disesuaikan dengan jenis dan kondisi penyakit yang Anda miliki. Pengobatan penyakit autoimun bukan untuk menyembuhkan, melainkan hanya meredakan dan mengontrol gejalanya.

Meski begitu, apabila tidak diobati, penyakit autoimun bisa menyebabkan komplikasi serius, banyaknya jaringan atau organ yang tak berfungsi dengan baik, atau bahkan berujung pada kematian. Oleh sebab itu, jika Anda merasakan beberapa gejala autoimun yang berlangsung beberapa minggu atau semakin berat, sebaiknya segera berkonsultasi pada dokter.

Narasumber:
dr. Yovita Mulyakusuma, Sp.PD, FINASIM, M.Sc
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Eka Hospital Cibubur

Eka Hospital Cibubur.

Healthline. https://www.healthline.com/health/autoimmune-disorders#symptoms
Diakses pada 13 Januari 2020


Artikel Terkait