Penyakit Anemia Sel Sabit Ternyata Dapat Diturunkan pada Bayi

Anemia pada bayi baru lahir dapat menyebabkan berbagai masalah
Anemia sel sabit dapat diturunkan kepada bayi

Kesehatan si kecil tentu menjadi prioritas Anda sebagai orangtua. Oleh karena itu, Anda dan pasangan perlu waspada karena beberapa penyakit dapat diturunkan dari orangtua kepada bayinya seperti anemia sel sabit.

Anemia sel sabit menyebabkan bayi memiliki sel darah merah yang abnormal. Kondisi ini bahkan dapat menyebabkan berbagai gejala dan komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani.

Apa itu anemia sel sabit?

Anemia sel sabit merupakan jenis anemia yang diturunkan. Anemia sel sabit terjadi ketika janin memiliki dua gen sel sabit yang diwariskan dari orangtua (masing-masing satu). Jika hanya ada satu gen sel sabit yang diturunkan, penyakiti ini tidak akan terjadi.

Bayi yang menderita anemia sel sabit, tidak memiliki sel darah merah sehat yang memadai untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Sel darah merah tersebut memiliki bentuk seperti bulan sabit, kaku, dan lengket sehingga dapat tersangkut di pembuluh darah kecil.

Kondisi ini tentu dapat menghambat atau memperlambat aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh bayi. Padahal normalnya, sel darah merah berbentuk bulat dan bisa bergerak dengan mudah melalui pembuluh darah.

Penyebab anemia sel sabit pada bayi, yaitu mutasi pada gen yang mengatur pembentukan sel darah merah. Kelainan genetik yang diturunkan ini pun membuat sel darah merah bayi berbentuk sabit dan mudah mengalami kerusakan.

Perlu Anda ketahui bahwa sel darah merah normal umumnya dapat bertahan hingga 120 hari sebelum harus digantikan. Namun, sel darah merah sabit biasanya mati dalam 10-20 hari.

Berbagai gejala anemia sel sabit pada bayi

Pada awal kelahirannya, bayi tidak menunjukkan gejala anemia sel sabit karena hemoglobin yang diproduksi ketika masih berbentuk janin melindungi sel darah merah agar tidak terserang penyakit. Namun, seiring berjalannya waktu, hemoglobin janin ini tidak ada dalam sel darah merah bayi sehingga sel sabit pun muncul dan gejalanya dimulai.

Gejala anemia sel sabit biasanya muncul sejak bayi berusia 4-6 bulan. Penyakit ini memiliki gejala yang bervariasi berdasarkan tingkat keparahannya. Adapun gejala yang umum terjadi pada bayi, yaitu:

  • Mudah marah dan merasa kelelahan
  • Lebih rewel
  • Sering buang air kecil karena ada masalah ginjal
  • Penyakit kuning yang membuat kulit dan putih mata bayi menguning
  • Kaki dan tangan menjadi bengkak dan sakit
  • Sering infeksi
  • Nyeri di dada, punggung, lengan atau kaki
  • Demam
  • Sakit Perut

Selain gejala, anemia sel sabit juga dapat menyebabkan komplikasi parah jika sel sabit menyumbat pembuluh darah di berbagai area tubuh. Kondisi ini disebut dengan krisis sel sabit yang dapat dipicu oleh berbagai keadaan, seperti penyakit, stres, perubahan suhu, hidrasi yang buruk, dan ketinggian. Adapun jenis komplikasi anemia sel sabit yang dapat terjadi pada bayi, meliputi:

  • Anemia parah
  • Pembesaran limpa
  • Pertumbuhan yang lambat karena tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup
  • Komplikasi neurologis, seperti kejang karena penyumbatan pembuluh darah di otak
  • Kebutaan akibat penyumbatan pembuluh darah di mata
  • Penyakit jantung dan sindrom dada akut
  • Hipertensi paru-paru

Jika bayi Anda menunjukkan gejala anemia sel sabit, sebaiknya segera periksakan bayi Anda ke dokter. Dokter akan melakukan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat untuk bayi Anda agar menghindari terjadinya komplikasi.

Bagaimana cara penanganan anemia sel sabit pada bayi?

Dalam mengendalikan anemia sel sabit pada bayi Anda, Anda harus berkonsultasi pada dokter. Satu-satunya obat untuk menyembuhkan anemia sel sabit, yaitu transplantasi sumsum tulang. Prosedur ini hanya disarankan untuk penderita yang parah karena memiliki risiko yang tinggi dan rumit.

Akan tetapi, terdapat beberapa perawatan yang dapat membantu meringankan gejala, mengurangi komplikasi, dan memperpanjang hidup penderita anemia sel sabit. Perawatan tersebut, di antaranya:

  • Antibiotik untuk mencegah infeksi
  • Imunisasi dan dosis harian penisilin untuk membantu mencegah infeksi
  • Suplemen asam folat yang dapat membantu membuat sel darah merah baru
  • Hidroksiurea, yaitu obat yang mengurangi kelengketan sel-sel sabit sehingga membuat gejala dan komplikasi berkurang
  • Obat-obatan penghilang nyeri
  • Transfusi darah untuk anemia parah atau komplikasi lain

Sementara untuk mencegah anemia sel sabit pada bayi, sebenarnya tidak ada cara yang pasti karena kelainan genetik ini diturunkan.

Namun, terdapat beberapa cara untuk mencegah bayi Anda mengalami kondisi krisis sel sabit, seperti menghindari perubahan suhu yang ekstrim, tidak membawa bayi di sekitar orang yang sakit, dorong bayi untuk banyak minum ASI atau susu formula, cuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh bayi, bersihkan tangan bayi, dan hindarkan bayi dari paparan asap rokok.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sickle-cell-anemia/symptoms-causes/syc-20355876
Diakses pada 15 Agustus 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/sickle-cell-anemia.html
Diakses pada 15 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/sickle-cell-anemia#outlook
Diakses pada 15 Agustus 2019

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/sickle_cell/article.htm
Diakses pada 15 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed