Bakteri Klamidia, Pemicu Berbagai Komplikasi Berbahaya


Bakteri klamidia (Chlamydia trachomatis) adalah bakteri obligat intraselular yang bisa menjadi salah satu penyebab utama infeksi menular seksual, infertilitas, dan penyakit radang panggul.

(0)
25 May 2019|Giovanni Jessica
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Bakteri klamidia menyebaban penyakit seriusBakteri klamidia bisa menyebabkan penyakit tertentu, seperti epididimitis.
Tidak hanya klamidia, bakteri klamidia juga menyebabkan berbagai penyakit lainnya pada manusia. Bakteri Chlamydia trachomatis menyebar melalui kontak langsung. Spesies bakteri klamidia lainnya, yaitu Chlamydia psittaci dan Chlamydia pneumoniae, merupakan contoh bakteri jalur pernapasan.Bakteri klamidia (Chlamydia trachomatis) adalah bakteri obligat intraselular yang menginfeksi sel pada saluran kelamin, orofaring, anorektal, dan konjungtiva. Bakteri ini adalah bakteri yang menjadi penyebab utama terjadinya infeksi menular seksual dan infertilitas.Sebagian besar kasus infeksi akibat bakteri klamidia tidak memiliki gejala. Pria dan wanita berusia 15-24 tahun dan aktif berhubungan seksual merupakan kelompok yang paling banyak terinfeksi.Pada pria, bakteri klamidia menjadi penyebab umum epididimitis, yaitu kondisi peradangan pada epididimis yang dapat terjadi pada anak dan dewasa. Kondisi ini sering disertai dengan peradangan testis dan disebut dengan epididimo-orkitis.Selain akibat bakteri klamidia, dalam beberapa kasus tertentu, infeksi saluran kemih juga bisa menyebabkan epididimitis. Adanya abnormalitas anatomi pada kandung kemih, operasi saluran kemih atau prostat, duduk dalam waktu lama, bersepeda, dan trauma turut meningkatkan risiko terjadinya epididimitis.

Gejala terinfeksi bakteri klamidia

Pada saat awal terinfeksi bakteri klamidia, gejala epididimitis yang mungkin dialami adalah demam, menggigil, dan rasa berat pada sekitar testis. Seiring perkembangan infeksi, akan timbul darah pada cairan sperma, sekret pada ujung penis, rasa tidak nyaman pada panggul atau perut bawah, dan muncul gumpalan pada testis.Selain itu, epididimitis bisa menimbulkan gejala-gejala lainnya, seperti nyeri saat ejakulasi, nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil, dan pembengkakan skrotal yang terasa nyeri.Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, dokter akan memeriksa urine, darah, atau sampel sekret dari ujung penis. Tindakan ini bertujuan untuk mencari tanda infeksi dan menemukan bakteri klamidia yang dapat menjadi penyebabnya. Bakteri lain yang juga bisa ditemukan adalah bakteri gonorea.Selain itu, ada kemungkinan pemeriksaan ultrasonografi turut dilakukan untuk mengetahui gambaran testis dan skrotum. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk membedakan gejala epididimitis dan torsi testis.

Pemeriksaan bakteri klamidia

Seringkali infeksi bakteri klamidia tidak bergejala. Oleh karena itu, penting dilakukan pemeriksaan skrining dan diagnosis untuk mencegah komplikasi jangka panjang atau penyebaran infeksi lainnya. Setiap orang yang berhubungan seksual dengan pasangan yang terbukti memiliki infeksi menular seksual perlu melakukan pemeriksaan.Pemeriksaan paling baik untuk mendeteksi bakteri klamidia adalah tes amplifikasi asam nukleat atau nucleic acid amplification test (NAAT). Pemeriksaan ini adalah tes molekular untuk mendeteksi material genetik (DNA) bakteri Chlamydia trachomatis.[[artikel-terkait]]

Komplikasi yang disebabkan oleh bakteri klamidia?

Klamidia bisa menyebar dan menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang apabila tidak mendapatkan penanganan medis secepatnya. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat bakteri klamidia, diantaranya:

1. Reactive arthritis

Reactive arthritis atau sindrom Reiter adalah kondisi peradangan sendi yang dipicu oleh infeksi, terutama infeksi akibat penyakit menular seksual atau keracunan makanan.Tidak menular, kondisi ini umumnya terjadi secara hilang timbul dan cenderung menghilang dalam waktu 6-12 bulan. Sindrom Reiter termasuk kondisi yang tergolong langka.Perbandingan terjadinya penyakit ini hanya sekitar belasan kasus per 100.000 orang dan biasanya lebih sering ditemukan pada kaum pria dan orang dewasa yang berusia di antara 20-40 tahun.

2. Penyakit radang panggul

Radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID) adalah infeksi pada organ reproduksi wanita, yang meliputi area serviks, rahim, dan ovarium.Kondisi ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri akibat infeksi menular seksual. Radang panggul kerap dialami oleh wanita usia 15–25 tahun yang aktif berhubungan seksual. Radang panggul biasanya akan ditandai dengan nyeri di area panggul atau perut bagian bawah.Radang panggul ini perlu mendapat penanganan medis untuk mencegah terjadinya komplikasi, seperti kehamilan di luar kandungan (ektopik) atau kemandulan (infertilitas).

3. Epididimitis

Epididimitis adalah munculnya peradangan pada epididimis atau saluran yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan penyaluran sperma.Epididimis berada di belakang testis dan menyambungkan testis dengan vas deferens, hingga ke saluran ejakulasi, prostat, dan saluran kencing (uretra), ketika Anda melakukan ejakulasi.Saat mengalami kondisi epididimitis, saluran tersebut akan menjadi bengkak dan menimbulkan nyeri. Kondisi peradangan ini juga bisa menyebar hingga ke testis (epididymo-orchitis).

4. Cervicitis

Cervicitis adalah peradangan pada leher rahim atau serviks. Kondisi ini umumnya akan digejalai dengan sakit pada perut bagian bawah, sakit saat berhubungan intim, dan perdarahan saat atau usai berhubungan intim.Servisitis dapat terjadi secara akut tiba-tiba dan menjadi parah parah, atau secara kronis yang berkembang dalam waktu perlahan.  Jika cervicitis tidak diobati, infeksi dapat menyebar hingga ke rongga perut dan menimbulkan gangguan kesuburan.

5. Uretritis

Uretritis adalah peradangan pada saluran pembuangan urine atau uretra. Uretritis biasanya ditandai dengan gejala Mr. P terasa sakit atau perih saat buang air kecil, rasa sakit di kulup atau ujung Mr P, iritasi, ujung Mr P mengeluarkan cairan kental berwarna putih, dan tidak bisa menahan buang air kecil.

Pengobatan bakteri klamidia

  • Pengobatan epididimitis akibat bakteri klamidia dilakukan dengan pemberian antibiotik. Plihan antibiotik yang dapat digunakan adalah injeksi seftriakson dosis tunggal atau doksisilin secara oral selama 10 hari.
  • Pemberian antibiotik seftriakson dikombinasikan dengan levofloksasin atau ofloksasin apabila terdapat infeksi lain selain bakteri klamidia. Selain antibiotik, terapi yang juga diberikan berupa analgesik dan anti-inflamasi untuk meredakan peradangan dan nyeri yang dialami.
  • Epididimitis yang dialami umumnya akan segera membaik setelah pemberian antibiotik. Pada sebagian besar kasus, komplikasi lebih lanjut tidak terjadi. Namun pada sebagian lainnya, ada kemungkinan terjadinya epididimitis kronis, abses, dan menyebabkan infertilitas. Kondisi ini dapat terjadi secara berulang.
  • Apabila Anda mengalami infeksi menular seksual akibat bakteri klamidia atau bakteri lainnya, sebaiknya Anda segera memberitahu pasangan agar dapat memperoleh pengobatan jika terbukti terinfeksi. Infeksi bakteri klamidia yang tidak diketahui bisa menyebar kepada orang lain.
nyeri testisklamidiaepididimitis
McConaghy JR, Panchal B. Epididymitis: An Overview. AFP. 2016 Nov 1;94(9):723–6.Medlineplus.  https://medlineplus.gov/chlamydiainfections.html
Diakses pada Mei 2019
American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2012/1215/p1127.html
Diakses pada Mei 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait