Waspadai Penularan Virus Campak pada Bayi dan Anak, Ini Cara Penanganannya!

Virus campak seperti rubeola merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan
Virus campak pada umumnya menyerang bayi dan anak-anak

Bercak-bercak merah pada seluruh tubuh dan demam bisa mengindikasikan gejala berbagai infeksi virus, salah satunya adalah virus campak. Anda patut mencurigai adanya virus campak apabila anak mengalami batuk dan flu, yang disertai mata merah. Virus campak banyak memiliki istilah lain, seperti rubeola, morbili, atau measles.

Virus campak termasuk dalam golongan famili paramyxovirus. Virus ini merupakan virus RNA rantai tunggal dan berukuran 120-250 nm. Apabila virus masuk ke dalam tubuh, infeksi virus akut yang bersifat sistemik kemungkinan bisa terjadi. Jika dibiarkan, virus campak dapat menyebabkan komplikasi serius dan fatal.

Virus campak rentan terjadi pada anak yang belum mendapat vaksinasi, terutama bayi berusia di bawah 6 bulan. Adanya kondisi imunokompromais (sistem kekebalan tubuh yang lemah), misalnya anak dengan HIV, penyakit keganasan, atau menjalani transplantasi; dan banyaknya orangtua yang menolak anaknya divaksin, membuat anak semakin rentan terhadap virus campak.

Virus Campak Menyerang Saluran Pernapasan

Anak dapat terinfeksi virus campak lewat penyebaran udara dari sekret (cairan, lendir, atau kotoran) orang lain yang sudah terinfeksi. Virus yang terhirup akan menyerang sel epitel di saluran pernapasan dan menyebabkan kerusakan silia (rambut halus yang memberikan perlindungan di saluran ini).

Kerusakan pada saluran pernapasan ini menyebabkan gejala prodromal seperti flu dan batuk selama 3 hari. Selain itu, terkadang Anda dapat menemukan tanda khas berupa bercak Koplik (bercak putih kebiruan) pada mukosa rongga mulut.

Kemudian, virus masuk ke sirkulasi darah dan menyebabkan terjadinya demam. Secara bertahap akan muncul bercak merah dimulai dari belakang telinga hingga ke seluruh tubuh. Virus campak membutuhkan waktu selama 8-12 hari dengan rata-rata 10 hari untuk menimbulkan gejala.

Virus campak juga dapat berkembang biak pada organ dan jaringan limfoid, seperti timus, limpa, kelenjar getah bening, dan tonsil. Dalam beberapa kasus, virus terdapat pada kulit, paru, saluran cerna, dan hati.

Penularan Virus Campak

Virus campak merupakan virus yang memiliki tingkat penularan tinggi. Penyebarannya terjadi lewat udara dan kontak langsung dengan seseorang yang telah terinfeksi virus campak. Virus ini dapat hidup di udara dan pada permukaan benda hingga 2 jam. Virus campak dapat secara cepat menjadi tidak aktif bila terpapar panas, cahaya matahari, pH asam, zat kimia eter, dan tripsin.

Apabila Anda melakukan kontak atau berada di satu ruangan dengan seseorang yang terinfeksi, besar kemungkinan Anda terkena campak. Seringkali seseorang tidak menyadar dirinya terinfeksi virus campak hingga munculnya bercak merah. Padahal, virus dapat menular ke orang lain sejak 4 hari sebelum muncul bercak hingga 4 hari setelah bercak merah menghilang.

Kabar baiknya, Anda tidak akan semudah itu mengalami campak. Ini bukan dikarenakan virus campak yang menjadi lemah atau hilang dari udara, melainkan karena imunisasi. Imunisasi campak memberikan dampak signifikan dalam menurunkan angka kejadian penyakit ini.

Pencegahan Virus Campak

Anda dapat melindungi anak dari virus campak dengan pemberian imunisasi campak. Tubuh akan memperoleh kekebalan seumur hidup setelah pemberian dua dosis imunisasi. Pemberian imunisasi campak boleh dilakukan pada anak berusia 12 tahun ke atas. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian imunisasi campak pada usia 9 bulan dan diulang pada usia 18 bulan.

Vaksin campak tidak dapat diberikan apabila terdapat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin, kehamilan, sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan sedang mengalami sakit.

CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/meas.html
Diakses pada Mei 2019

Infectious Disease Advisor. https://www.infectiousdiseaseadvisor.com/home/decision-support-in-medicine/infectious-diseases/measles-virus-rubeola/
Diakses pada Mei 2019

Jiang Y, Qin Y, Chen M. Host–Pathogen Interactions in Measles Virus Replication and Anti-Viral Immunity. Viruses. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5127022/
Diakses pada Mei 2019

Jadwal Imunisasi IDAI 2017

Artikel Terkait

Banner Telemed