Waspadai Penularan Virus Campak pada Bayi dan Anak, Ini Cara Penanganannya!

(0)
17 May 2019|Giovanni Jessica
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Virus campak seperti rubeola merupakan virus yang menyerang saluran pernapasanVirus campak pada umumnya menyerang bayi dan anak-anak
Campak adalah penyakit menular yang saat ini keberadaanya sudah banyak berkurang. Semua ini bisa dicapai berkat digalakkannya program imunisasi atau vaksin campak. Sebab, penyakit ini tidak ada obatnya. Sehingga, mencegah adalah satu-satunya cara agar Anda bisa terlindung dari penyakit ini.Campak disebabkan oleh infeksi virus dan banyak orang tidak menyadari jika penyakit ini adalah penyakit pernapasan. Penularan campak bisa terjadi dengan mudah lewat udara, saat ada pengidap penyakit ini batuk dan bersin lalu orang didekatnya tidak sengaja menghirup percikannya. Penularan campak juga bisa terjadi saat tangan menyentuh permukaan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, mulut, dan hidung.Bagi beberapa orang, virus ini bisa menimbulkan gejala ringan. Tapi bagi anak-anak dan bayi, campak bisa menimbulkan gangguan kesehatan yang serius. Bahkan risiko mereka terkena komplikasi campak berupa pneumonia hingga pembengkakan otak juga lebih tinggi.

Lebih jauh tentang penyebab dan penularan campak

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengan nama yang sama. Virus campak sangatlah menular dan akan memperbanyak dirinya di nasofaring dan kelenjar getah bening di sekitarnya.Virus campak merupakan virus yang memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Penyebarannya bisa terjadi lewat udara dan kontak langsung dengan seseorang yang telah terinfeksi.Virus ini dapat hidup di udara dan pada permukaan benda hingga 2 jam. Virus campak dapat secara cepat menjadi tidak aktif bila terpapar panas, cahaya matahari, pH asam, zat kimia eter, dan tripsin.Apabila Anda melakukan kontak atau berada di satu ruangan dengan seseorang yang terinfeksi dan tidak pernah menerima imunisasi campak, maka besar kemungkinan Anda akan tertular. Kemungkinan seseorang yang tidak pernah menerima vaksin campak tertular penyakit ini adalah 90%.Seringkali penderita campak tidak sadar kalau dirinya terinfeksi, hingga munculnya bercak merah. Padahal, virus dapat menular ke orang lain sejak 4 hari sebelum muncul bercak hingga 4 hari setelah bercak merah menghilang.Itulah alasannya, dulu, sebelum vaksinnya ditemukan, kasus campak jumlahnya sangat banyak bahkan mewabah. Wabah campak yang terjadi bahkan memakan korban jiwa yang tak sedikit. Beruntung, saat ini kemungkinan untuk terjadinya hal tersebut sudah berkurang karena program imunisasi yang kencang digalakkan.

Gejala infeksi campak yang perlu dikenali

Anak dapat terinfeksi virus campak lewat penyebaran udara dari sekret (cairan, lendir, atau kotoran) orang lain yang sudah terinfeksi. Virus yang terhirup akan menyerang sel epitel di saluran pernapasan dan menyebabkan kerusakan silia (rambut halus yang memberikan perlindungan di saluran ini).Kerusakan pada saluran pernapasan inilah yang akan memicu gejala campak seperti:
  • Flu dan batuk selama 3 hari
  • Bercak koplik (bercak putih kebiruan) pada mukosa rongga mulut.
  • Demam tinggi
  • Munculnya ruam atau bercak kemerahan yang dimulai dari belakang telinga lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Virus campak membutuhkan waktu selama 8-12 hari dengan rata-rata 10 hari untuk menimbulkan gejala.Virus ini juga dapat bereplikasi pada organ dan jaringan limfoid, seperti timus, limpa, kelenjar getah bening, dan tonsil. Dalam beberapa kasus, virus terdapat pada kulit, paru, saluran cerna, dan hati.

Pencegahan Virus Campak

Anda dapat melindungi anak dari virus campak dengan pemberian imunisasi campak atau yang sering juga disebut sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Jadi, vaksin ini bisa mencegah tiga penyakit sekaligus, yaitu campak, gondong, dan rubella. Dengan menerima vaksin tersebut, tubuh akan memperoleh kekebalan seumur hidup setelah pemberian dua dosis imunisasi.Pemberian imunisasi campak boleh dilakukan pada anak berusia 12 tahun ke atas. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian imunisasi campak pada usia 9 bulan dan diulang pada usia 18 bulan dan usia 6 tahun.Vaksin untuk campak aman bagi anak dan siapapun yang menerimanya. Tidak ditemukan bukti yang jelas seputar berita yang menyebut bahwa vaksin ini bisa memicu autism atau gangguan lain pada anak.Hanya saja, imunisasi ini tidak dapat diberikan untuk anak yang memang punya alergi berat terhadap komponen vaksin. Vaksin ini juga tidak boleh diberikan untuk ibu hamil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.Jika saat waktu vaksin anak sedang tidak enak badan, maka sebaiknya Anda menunda imunisasi dan jadwalkan ulang dengan fasilitas kesehatan terdekat.Setelah mengenali lebih jauh soal penularan campak serta fakta lain seputar penyakit ini, Anda diharapkan dapat lebih berhati-hati. Jangan lalai untuk membawa anak saat jadwal imunisasi tiba. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati.
campakinfeksi saluran pernapasanrubella
CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/meas.html
Diakses pada Mei 2019
Infectious Disease Advisor. https://www.infectiousdiseaseadvisor.com/home/decision-support-in-medicine/infectious-diseases/measles-virus-rubeola/
Diakses pada Mei 2019
Jiang Y, Qin Y, Chen M. Host–Pathogen Interactions in Measles Virus Replication and Anti-Viral Immunity. Viruses. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5127022/
Diakses pada Mei 2019
Jadwal Imunisasi IDAI 2017. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
Diakses pada Mei 2019
CDC. https://www.cdc.gov/measles/transmission.html
Diakses pada 17 Juni 2020
Mayo Clinic.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/measles/symptoms-causes/syc-20374857
Diakses pada 17 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait