Kenali Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Bagi Kesehatan Ibu dan Bayi


Baik WHO maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyarankan inisiasi menyusui dini atau IMD dilakukan untuk semua bayi yang baru lahir. Sebab, ada berbagai manfaat yang bisa didapat dari IMD, bagi bayi maupun ibu.

(0)
04 Dec 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Inisiasi menyusui dini sudah disarankan oleh WHO maupun IDAI karena baik untuk kesehatan bayi dan ibuInisiasi menyusui dini baik untuk kesehatan ibu dan anak
Inisiasi menyusui dini (IMD) adalah proses pemberian ASI kepada bayi dalam 1 jam pertama setelah kelahiran. Proses ini disarankan untuk dilakukan, karena bisa memberikan manfaat yang berlimpah untuk kesehatan bayi maupun ibu.Berbagai lembaga kesehatan, termasuk World Health Organization (WHO) maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), juga telah menyerukan anjuran gerakan IMD untuk bayi-bayi yang baru lahir.

Manfaat inisiasi menyusui dini bagi bayi

Manfaat IMD untuk ibu dan bayi sangat berlimpah
Manfaat IMD untuk bayi sangat berlimpah
Manfaat inisasi menyusui dini bagi bayi sangatlah berlimpah. Sebab, ASI yang pertama kali keluar setelah persalinan, dapat menyediakan manfaat lebih untuk kesehatan bayi seperti:

1. Memberikan kolostrum untuk bayi

Kolostrum adalah komponen yang hanya diproduksi saat ASI pertama kali keluar, setelah proses persalinan. Komponen ini bisa memberikan berbagai manfaat untuk bayi, karena:
  • Mengandung growth factors untuk membantu perkembangan usus bayi, sehingga sistem pencernaan dapat berfungsi secara efektif.
  • Kaya akan kandungan vitamin A, yang dapat membantu melindungi mata dan mengurangi infeksi
  • Dapat menstimulasi bayi untuk mengeluarkan mekonium melalui kotoran, sehingga risiko bayi terkena penyakit kuning dapat berkurang
  • Kolostrum keluar dalam jumlah yang sedikit, sehingga tepat untuk bayi yang baru lahir

2. Melindungi bayi dari berbagai penyakit

Air susu ibu (ASI) mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan bayi dalam 6 bulan pertama kehidupannya. ASI dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti diare dan penyakit yang kerap menyerang di usia anak-anak, termasuk pneumonia.Selain itu, IMD juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena bakteri baik di kulit Mamsi akan masuk ke tubuh bayi. dan juga bayi akan mendapatkan kolostrum yang sangat banyak mengandung zat-zat kekebalan tubuh.

3. Membuat berat badan anak lebih ideal

Risiko kelebihan berat badan atau obesitas pada bayi yang minum air susu ibu, terutama ASI eksklusif, termasuk melalui IMD, akan berkurang saat memasuki usia kanak-kanak dan remaja.

4. Mempererat hubungan antara ibu dan anak

IMD juga tidak hanya seputar pemberian ASI. Sebab, proses ini juga melibatkan kontak dari kulit ke kulit yang terjadi antara ibu dan bayi. Kontak yang terjadi segera setelah proses melahirkan, dapat meningkatkan kemungkinan bayi mendapatkan ASI eksklusif hingga tuntas.Bayi yang menerima kontak kulit dengan ibu sejak awal kelahirannya juga dinilai akan dapat berinteraksi lebih banyak dengan ibu dan lebih jarang menangis.

5. Menurunkan risiko kematian bayi

Secara keseluruhan, proses IMD, mulai dari kontak antar kulit ibu dan bayi atau skin to skin contact hingga kolostrum yang dihasilkan ibu dalam tetes pertama ASI yang keluar pada 1 jam pertama kelahiran, dapat menurunkan risiko kematian bayi pada bulan pertama kehidupannya.

Manfaat inisiasi menyusui dini bagi ibu

Tahukah Mamsi, kalau proses inisiasi menyusi dini juga memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi ibu? Ketika bayi mencoba untuk menyusu dari ibu secara langsung, sentuhan bayi dapat merangsang keluarnya hormon oksitosin.Hormon ini, kerap dikatikan dengan rasa empati, kepercayaan, dan membangun hubungan antarmanusia. Jadi, proses IMD dipercaya bisa membentuk bonding yang kuat antara Mamsi dan Si Kecil.Selain itu, hormon oksitosin yang diproduksi tubuh ibu juga dapat membantu rahim untuk berkontraksi, sehingga mengurangi risiko perdarahan setelah melahirkan, membantu ibu merasa tenang dan santai, serta menstimulasi keluarnya air susu.

Bagaimana proses inisiasi menyusui dini dilakukan?

Sesuai namanya, inisiasi menyusui dini dilakukan segera setelah proses persalinan selesai. Berikut ini tahap-tahap IMD menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
  • Proses IMD dilakukan segera setelah bayi lahir, yang tidak memerlukan tindakan resusitasi bayi.
  • Apabila proses persalinan berlangsung normal, bayi langsung dibaringkan dengan posisi telungkup di atas perut ibu. Namun, apabila persalinan dilakukan dengan operasi Caesar, bayi dibaringkan di atas dada ibu.
  • Setelah itu tim medis akan membersihkan tubuh bayi, kecuali kedua tangannya. Sebab, tangan bayi mengandung bau cairan ketuban yang akan membantu bayi mencari puting ibunya.
  • Bayi diletakkan dengan arah kepala menghadap ke kepala ibu.
  • Setelah beberapa saat, bayi akan mulai bergerak untuk mencari puting untuk minum air susu ibunya, dan proses inisiasi menyusui dini akan dimulai.
  • Posisi menyusui bayi baru lahir adalah dengan menopang kepala bayi menggunakan satu tangan, sementara tangan yang lain mengarahkan payudara agar posisi menyusui tepat.
Adapun jadwal menyusui bayi baru lahir untuk usia 0-3 bulan adalah dari setiap 2 jam sekali hingga 7-9 kali per 24 jam. Sementara itu saat bayi sudah berusia 6 - 12 bulan, jadwal menyusunya menjadi berkurang karena telah mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI).Setelah IMD selesai, barulah perawatan selanjutnya seperti menimbang, pemberian vitamin dan lain-lain dilakukan. Melihat penjelasan di atas, telah dibuktikan bahwa inisiasi menyusui dini dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan bayi, bahkan dalam jangka panjang.

Cara menyusui bayi baru lahir yang benar saat inisiasi menyusui dini (IMD)

Gunakan pompa asi untuk mengosongkan payudara
Pompa asi bisa digunakan untuk mengosongkan ASI jika bayi tidak mau menyusu di kedua payudara
Setelah mengetahui berbagai manfaat inisiasi menyusui dini, kini saatnya Mamsi memperhatikan cara menyusui bayi baru lahir yang benar seperti berikut:

1. Hindari asupan lain selain ASI

Saat memberikan ASI pertama dalam IMD, sebisa mungkin hindari memberikan asupan lain pada bayi baru lahir. Hal ini penting untuk dilakukan untuk mencegah kondisi bingung puting pada bayi dan meningkatkan risiko infeksi.Namun jika IMD tidak memungkinkan untuk dilakukan, pemberian susu formula bisa menjadi pilihan. Pastikan pemberian susu formula dilakukan di bawah pengawasan dokter.

2. Susui bayi hingga kenyang

Dalam minggu pertama, bayi baru lahir dapat menyusu sekitar 8 kali sehari dengan jarak tidak lebih dari 4 jam untuk setiap sesi. Biarkan bayi menyusu hingga kenyang atau sampai mulutnya terlepas dari puting dengan sendirinya.Jika bayi tertidur, jangan pilih untuk menunda pemberian ASI hingga ia bangun. Pijatlah tubuh Si Kecil dengan lembut untuk membangunkannya.

3. Susui dengan dua payudara

Setelah menyusui selama beberapa lama, latih bayi untuk menyusu hingga salah satu payudara kosong, sebelum berganti ke payudara lain.Biasanya, bayi membutuhkan 15-20 menit untuk mengosongkan salah satu payudara ibunya. Namun tentu saja, tidak ada patokan waktu yang pasti.Menyusu dari dua payudara penting bagi bayi. Sebab pada setiap sesi menyusu, ada dua tipe ASI. Pertama, susu dengan konsistensi encer, yang bisa mengenyangkan bayi. Kedua, susu dengan tekstur creamy yang kaya akan lemak.Si Kecil membutuhkan keduanya. Oleh karena itu, jika bayi hanya menyusu dari salah satu payudara kemudian tertidur, maka susuilah dari payudara lain di sesi menyusu berikutnya. Saat menyusui, jangan lupa untuk membantu bayi bersendawa sebelum berganti ke payudara lain.

4. Hindari penggunaan dot hingga usia bayi 4 minggu

Bayi bisa mengalami bingung puting apabila mendapatkan dot terlalu cepat, sehingga akhirnya lupa cara menyusu langsung dari payudara ibu. Anda bisa mengantisipasinya dengan tidak memberinya dot sebelum berusia 4 minggu.

5. Gunakan pompa ASI

Apabila bayi cenderung menyusu dari salah satu payudara saja, Anda bisa menggunakan breast pump atau pompa ASI untuk mengosongkan payudara lainnya. Langkah ini bisa mengurangi nyeri pada payudara, sekaligus ‘mengamankan’ persediaan ASI untuk bayi.

Konsumsi ASI booster alami untuk memperlancar proses menyusui

Daun katuk untuk booster alami ASI
Daun katuk untuk booster ASI alami
Menyusui bayi sejak awal kelahirannya di dunia penting dilakukan. Namun, tidak semua ibu bisa memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup. Kurangnya produksi ASI kerap membuat para ibu baru khawatir bahkan stres, karena takut tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi sang buah hati.Namun Mamsi tidak perlu khawatir. Sebab, ada cara yang bisa dilakukan untuk menambah produksi air susu dan membantu penyembuhan luka setelah bersalin, yaitu dengan mengonsumsi ikan gabus, daun katuk dan daun torbangun, sebagai ASI booster alami

• Ikan gabus

Ibu yang baru melahirkan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat menunjang pemulihan pascamelahirkan, salah satunya ikan gabus.Ikan gabus kaya akan albumin yang akan mempercepat penyembuhan sel-sel yang rusak akibat proses persalinan dan akan mempercepat terjadinya pemulihan luka pascamelahirkan.

• Daun katuk

Daun katuk sudah sejak lama dipercaya bisa menjadi makanan penambah ASI alami. Secara ilmiah, hal ini juga sudah terbukti akurat.Daun katuk bisa membantu menggenjot produksi ASI dengan kandungan alkaloid dan sterol yang ada di dalamnya. Selain itu, daun ini juga bisa menambah kadar hormon prolaktin di tubuh, yang berperan dalam menambah jumlah ASI.

• Daun torbangun

Selain daun katuk, makanan lain yang juga bisa dimanfaatkan sebagai laktogogum alias makanan penambah ASI adalah daun torbangun atau yang biasa juga dikenal sebagai daun bangun-bangun.Selain bisa menambah produksi ASI, daun ini juga baik untuk ibu menyusui karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup lengkap, seperti karbohidrat, protein dan lemak.Kedua daun tersebut, bisa dikonsumsi dalam bentuk segar maupun suplemen alami. Anda juga bisa memilih suplemen ASI booster yang mengandung keduanya sekaligus.

Pentingnya dukungan ayah untuk ibu menyusui

Proses menyusui, sejak IMD maupun seterusnya, bukanlah proses yang mudah dijalani bagi seorang ibu. Maka dari itu, sebagai pasangan, Papsi juga perlu menemani dan mendukung di setiap prosesnya.Ibu yang menyusui di lingkungan yang mendukung, biasanya mampu menyusui lebih lama dibandingkan dengan yang tidak. Sementara itu seperti yang kita tahu, manfaat ASI untuk kesehatan bayi sangatlah beragam.Untuk mendukung proses menyusui, Papsi bisa mulai dengan langkah-langkah sederhana, seperti:
  • Menemani Mamsi saat harus bangun tengah malam untuk menyusui
  • Membagi tugas mengurus bayi. Misalnya, saat Mamsi sedang bersiap menyusui, Papsi bisa mengganti popok Si Kecil dan membuatnya sendawa setelah proses menyusu selesai.
  • Menyiapkan snack dan air di samping ibu yang sedang menyusui
  • Membantu menyiapkan tempat yang nyaman untuk menyusui, seperti menyusun bantal atau membersihkan kamar yang biasa digunakan untuk menyusui.
Penting juga bagi Papsi dan Mamsi untuk mempelajari proses menyusui sejak Si Kecil belum lahir. Jadi saat akhirnya ia hadir di dunia, orang tua sudah siap menyambutnya dan bisa memberikannya pengalaman menyusu yang nyaman.Papsi juga bisa, lho, mengikuti kelas persiapan menyusui. Kelas ini tak hanya bisa dihadiri oleh calon ibu, tapi juga calon ayah siaga yang ingin mendukung proses menyusui pasangannya.Inisiasi menyusui dini adalah proses yang tidak dapat dilakukan ibu seorang diri. Pendampingan dari lingkungan terdekat serta tenaga medis dari dokter maupun bidan yang membantu proses kelahiran juga sangat penting, agar proses IMD dapat berjalan dengan baik.
produksi asimenyusuiasi eksklusifmanfaat asiadv asimor
WHO. https://www.who.int/elena/titles/early_breastfeeding/en/
Diakses pada 20 Desember 2019
UNICEF. https://www.unicef.org/malaysia/Breastfeeding_First_Hour_of_Life.pdf
Diakses pada 20 Desember 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/275795.php
Diakses pada 20 Desember 2019
Ikatan Dokter Anak Indonesia. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/inisiasi-menyusu-dini
Diakses pada 20 Desember 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/breastfeeding-support
Diakses pada 4 Desember 2020
Journal IPB. https://journal.ipb.ac.id/index.php/jmpi/article/download/27473/17630
Diakses pada 4 Desember 2020
Journal IPB.http://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/download/8404/6550
Diakses pada 4 Desember 2020
Jurnal Unpad. http://jurnal.unpad.ac.id/farmaka/article/download/17567/pdf
Diakses pada 4 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait