Benarkah Penis Melengkung Dapat Meningkatkan Risiko Kanker?

Penyakit Peyronie adalah penyakit seksual yang menyebabkan penis melengkung dan menimbulkan rasa sakit saat ereksi
Penis melengkung seringkali diakibatkan oleh penyakit Peyronie

Apakah penis Anda melengkung ketika ereksi? Penis melengkung seringkali diakibatkan oleh penyakit Peyronie. Penyakit ini bukanlah penyakit kelamin, bersifat tidak menular, dan bukan merupakan penyakit keganasan (kanker). Lalu, apa sebenarnya penyakit Peyronie itu?

Penyakit Peyronie adalah penyakit yang menyebabkan penis menjadi melengkung ketika ereksi. Diperkirakan 1 dari 16 pria menderita penyakit Peyronie, dan lebih banyak ditemukan pada pria usia 40-60 tahun. Para ahli percaya bahwa angka tersebut jauh lebih kecil dari seharusnya karena banyak kasus yang tidak terdeteksi akibat para penderita yang enggan untuk berobat.

Ciri khas dari penyakit Peyronie adalah adanya tonjolan keras (plak) pada penis, di bagian yang biasa memanjang ketika ereksi. Plak ini terdapat diantara kulit dan batang penis. Peradangan yang terjadi terus menerus menyebabkan plak menjadi mengeras dan tidak elastis sehingga bagian penis yang terdampak tidak dapat memanjang seperti bagian penis yang lain. Hingga akhirnya menyebabkan penis terlihat bengkok ketika ereksi. Penis melengkung dapat menyebabkan rasa sakit dan kesulitan melakukan penetrasi saat berhubungan.

Hubungan Penyakit Peyronie atau Penis Melengkung dengan Kanker

Hingga saat ini, penyebab penyakit Peyronie belum diketahui secara pasti. Dugaan yang paling banyak dianut adalah hubungan penyakit Peyronie dengan trauma berulang pada penis. Walaupun seringkali riwayat trauma pada pasien tidak jelas dan tidak semua trauma penis menyebabkan penyakit Peyronie.

Para ahli menganggap penyakit Peyronie berhubungan dengan kelainan genetik yang diturunkan karena kecenderungannya untuk ditemukan menurun dalam keluarga. Walaupun belum dapat dipastikan gen yang menjadi penyebab kelainan, berbagai studi menunjukkan bahwa kelainan genetik menyebabkan kelainan dalam proses penyembuhan luka.

Pembentukan jaringan parut meningkat, sedangkan gen yang menghambat pembentukan jaringan parut ditekan. Harusnya kedua proses ini berjalan seimbang sehingga jaringan tubuh dapat kembali normal pasca trauma atau radang. 

Terhambatnya proses penyembuhan luka inilah yang dihubungkan dengan peningkatan risiko terjadi kanker pada penderita Peyronie. Gen-gen yang berhubungan dengan penyakit Peyronie, juga ditemukan berhubungan dengan beberapa tipe kanker, misalnya saja gen WNT2. Gen tersebut berkaitan dengan faktor keturunan.

[[artikel-terkait]]

Meski belum dapat menemukan hubungan yang pasti, penelitian awal oleh Pastuszak, et al, menemukan hubungan peningkatan risiko kanker alat kelamin dan kanker saluran cerna pada penderita Peyronie. Studi tersebut membandingkan angka kejadian kanker pada penderita disfungsi ereksi akibat penyakit Peyronie dengan yang tidak menderita penyakit tersebut.

Dibandingkan dengan semua penderita disfungsi ereksi, ternyata penderita penyakit Peyronie 10% lebih rentan terhadap kanker. Secara spesifik, pada penderita penyakit Peyronie, angka kanker lambung 43% lebih tinggi, melanoma 19% lebih tinggi, dan kanker testis 39% lebih tinggi jika dibandingkan dengan penderita disfungsi ereksi lain.

Studi lain oleh tim peneliti yang sama juga menemukan hubungan penyakit Peyronie dengan penyakit lainnya. Pria dengan penyakit Peyronie ditemukan lebih berisiko 21% untuk menderita pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia), 10% sindrom saluran kencing bagian bawah (LUTS), 21% radang prostat dan keloid.

Selama ini, belum banyak data yang sahih mengenai penyakit Peyronie sehingga pengertian dunia medis mengenai penyakit ini, beserta penanganannya belum banyak berkembang. Penanganan penyakit Peyronie lebih banyak ditujukan untuk menjaga fungsi penis dalam konteks hubungan seksual.

Akan tetapi, dengan ditemukannya data awal dari penelitian oleh Pastuszak et al tersebut, diharapkan tenaga medis lebih waspada menyikapi peningkatan risiko kanker pada penderita penyakit Peyronie. Untuk masyarakat sendiri, pesan yang perlu diingat adalah untuk memeriksakan diri ke dokter jika mengalami penis melengkung.

British Association of Urological Surgeons. https://www.baus.org.uk/_userfiles/pages/files/Patients/Leaflets/Peyronies.pdf
Diakses pada Mei 2019

European Association of Urology. https://uroweb.org/wp-content/uploads/16-PenileCurvature_LR.pdf
Diakses pada Mei 2019

Gocke A, Wang JC, Powers MK, et al. Current and emerging treatment options for Peyronie’s disease. Research and Reports in Urology 2013:5. http://www.glenwood-llc.com/pdf/gokce.pdf
Diakses pada Mei 2019

Al-Thakafi S, Al-Hathal N. Peyronie’s disesase: a literature review on epidemiology, genetics, patophysiology, diagnosis, and work-up. Transl Androl Urol. 2016 Jun;5(3):280-89. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4893516/
Diakses pada Mei 2019

Pastuszak AW, Kohn TP, Eisenberg ML. Increased risk of cancer in men with peyronie’s disease. The Journal of Urology. 2018;Vol.199. https://www.auajournals.org/doi/pdf/10.1016/j.juro.2018.02.2134
Diakses pada Mei 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319960.php
Diakses pada Mei 2019

Pastuszak AW, Rodriquez KM, Lipshultz LL. Increased risk of BPH, lower urinary tract syndromes, prostatitis, and keloids in men with peyronie’s disease: analysis of united states claims data. https://www.auajournals.org/doi/pdf/10.1016/j.juro.2018.02.170
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed