Penis Bayi Terlihat Tidak Normal? Waspadai Bahaya Hipospadia Bayi

Hipospadia merupakan cacat lahir yang terjadi pada penis bayi laki-laki
Hipospadia dapat terjadi pada bayi baru lahir

Tidak semua bayi lahir dengan fisik yang sempurna. Saat lahir ke dunia, sebagian bayi dapat mengalami kecacatan. Salah satu bentuknya adalah hipospadia.

Istilah hipospadia mungkin terdengar asing di telinga Anda. Namun, kondisi ini dapat membuat penis bayi laki-laki menjadi abnormal.

Apa itu hipospadia?

Hipospadia adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan masalah pada lubang, kulup atau bentuk penis. Kondisi ini merupakan cacat lahir yang dapat terjadi pada sebagian bayi. Jika bayi Anda menderita hipospadia, maka ia mungkin mengalami masalah sebagai berikut:

  • Lubang kencing (pembukaan uretra) bayi tidak terletak di ujung penis. Bahkan bisa berada di tengah atau bawah penis dekat dengan skrotum.

  • Kulit kulup bayi terletak di belakang penis dan bukan di depan.

  • Terjadi pembengkokan yang tidak normal pada penis (chordee) bayi hingga memicu masalah seksual di usia dewasa.

  • Saat kencing, bayi akan mengeluarkan percikan urine yang tidak normal.

Sebagian besar kasus hipospadia terbilang ringan karena lubang kencing hanya bergeser sedikit atau berada sedikit jauh dari ujung penis. Namun, pada sebagian kecil kasus, penyakit ini bisa juga parah hingga menyebabkan lubang kencing sangat jauh dari ujung penis.

Terkadang, hipospadia juga terjadi bersama dengan masalah bayi baru lahir lainnya, seperti hernia inguinalis dan testis yang tidak turun. Bayi dengan hipospadia biasanya didiagnosis segera setelah kelahiran. Namun, pergeseran lubang kencing yang sangat sedikit bisa membuatnya lebih sulit diidentifikasi.

Penyebab dan faktor risiko hipospadia

Ketika penis berkembang di janin laki-laki, hormon-hormon tertentu akan merangsang pertumbuhan uretra dan kulup. Namun, terjadinya masalah pada aksi hormon-hormon ini dapat menyebabkan uretra berkembang secara tidak normal sehingga menimbulkan hipospadia.

Pada kebanyakan kasus, penyebab hipospadia tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, faktor genetik atau lingkungan dianggap berperan. Meski penyebab pasti hipospadia sebagian besar tidak diketahui, namun terdapat faktor risiko yang bisa memicu terjadinya hipospadia, yaitu:

  • Riwayat keluarga. Hipospadia sering terjadi pada bayi yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan ini.

  • Genetik. Variasi gen tertentu bisa berperan dalam gangguan hormon yang merangsang pembentukan alat kelamin laki-laki hingga memicu terjadinya hipospadia.

  • Ibu hamil di atas usia 35 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir dari ibu yang berusia di atas 35 tahun.

  • Terpapar zat tertentu selama kehamilan. Terdapat beberapa anggapan mengenai adanya keterkaitan antara hipospadia dengan ibu hamil yang terpapar senyawa tertentu, seperti rokok, pestisida, atau bahan kimia industri. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Mungkin Anda merasa khawatir bayi yang Anda kandung mengalami hipospadia. Namun, saat sedang hamil, Anda dapat mengurangi kemungkinan hipospadia pada bayi dengan berbagai cara, seperti berhenti merokok dan minum alkohol, menjaga berat badan tetap sehat, mengonsumsi asam folat untuk kesehatan kandungan, serta rutin melakukan pemeriksaan kehamilan pada dokter.

Mengobati hipospadia bayi

Hipospadia yang sangat ringan biasanya tidak memerlukan perawatan khusus, namun dilakukan pemantauan untuk melihat apakah kondisinya memburuk atau tidak. Sementara, perawatan umum yang biasa dilakukan untuk mengobati hipospadia adalah melakukan operasi.

Operasi hipospadia dilakukan untuk memposisikan ulang lubang kencing bayi, atau bahkan juga meluruskan batang penisnya. Operasi ini biasanya dilakukan pada usia 6-12 bulan. Sebelum melakukan operasi, sebaiknya bayi tidak disunat terlebih dahulu karena dokter mungkin akan membutuhkan kulit kulup.

Sebagian besar bentuk hipospadia dapat diperbaiki dalam satu operasi. Namun, jika ditemukan beberapa bentuk hipospadia, maka diperlukan lebih dari satu operasi untuk memperbaiki kecacatan.

Ketika lubang kencing letaknya dekat dengan pangkal penis, dokter mungkin akan mencangkok jaringan dari kulit kulup atau bagian dalam mulut untuk membentuk kembali lubang kencing pada posisi yang tepat.

Sementara, jika penis bayi melengkung lebih dari 15°, maka dokter akan membuat sayatan kecil untuk melepaskan kulit dan jaringan yang kencang. Beberapa jaringan di penis bayi juga mungkin dipindahkan untuk membantu meluruskannya.

Setelah operasi, bayi akan merasa tidak nyaman selama satu atau dua hari. Anda dapat meredakan ketidaknyamanan bayi dengan memberinya paracetamol atau ibuprofen untuk bayi yang diresepkan oleh dokter.

Pada sebagian besar kasus, operasi bisa membuat penis menjadi normal. Namun, terdapat risiko kebocoran urine atau terbentuknya jaringan parut meski jarang terjadi. Jagalah agar penis bayi tetap kering untuk menghindari infeksi, dan segera periksakan bayi Anda ke dokter jika keadaan penisnya semakin memburuk atau luka pasca operasi tak kunjung kering.

Hipospadia pada bayi yang tidak diobati, dapat menyebabkan masalah jangka pendek dan jangka panjang, seperti penampilan penis tidak normal, kesulitan menggunakan toilet, serta masalah ereksi dan gangguan ejakulasi saat dewasa. Oleh sebab itu, sangat penting untuk berkonsultasi pada dokter bila terdapat hal yang tidak biasa pada bayi Anda.

Baby Center. https://www.babycentre.co.uk/a1024186/hypospadias
Diakses pada 04 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypospadias/symptoms-causes/syc-20355148
Diakses pada 04 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypospadias/diagnosis-treatment/drc-20355153
Diakses pada 04 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/what-is-hypospadias#1
Diakses pada 04 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed