Sebuah penelitian dari Yale School of Public Health menemukan sebuah temuan menarik mengenai pengaruh pikiran positif terhadap kesehatan lansia.
Benarkah pikiran positif dapat memengaruhi kesehatan lansia?

Studi terbaru dari Journal of the American Medical Association menunjukkan bahwa pikiran positif berpotensi menjadikan seseorang lebih bahagia. Tidak hanya itu, pikiran positif juga dikatakan mampu meningkatkan kesehatan secara jangka panjang.

Peneliti dari Yale School of Public Health memiliki hipotesis bahwa lansia dengan stereotip positif terhadap usia, akan lebih berpotensi untuk pulih dari disabilitas, dibandingkan mereka yang memiliki pandangan negatif terhadap usia.

Ada empat komponen penentu pada studi ini yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari lansia, yaitu membersihkan diri (mandi), berpakaian, bepergian, dan berjalan - semua kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan jasa kesehatan dan usia panjang.

Menurut para peneliti, memiliki pikiran positif bisa meningkatkan kesembuhan dari penyakit tertentu. Pasalnya, pikiran positif dapat mengurangi respons kardiovaskuler terhadap stres, memperbaiki keseimbangan fisik, meningkatkan efisiensi diri, dan mengalami peningkatan dalam perilaku sehat.

Penjelasan Ilmiah dari Ahli

Becca R. Levy, Phd, dan rekannya menjelaskan bahwa studi mengenai alasan mengapa beberapa lansia lebih cepat sembuh dari disabilitas daripada lansia lainnya, masih sangat minim. Mereka menggunakan faktor penjelasan baru yang dinamakan “stereotip usia”.

Tim mereka menemukan bahwa lansia dengan stereotip usia positif memiliki 44% kemungkinan untuk lebih cepat sembuh dari cacat parah dibandingkan dengan mereka yang memiliki stereotip usia negatif. Kelompok stereotip usia positif ini juga memiliki penurunan yang jauh lebih rendah dalam setiap aktivitas pada empat komponen penentu di atas.

Sumber dan Metode

Peserta yang terlibat dalam studi ini menjalani wawancara bulanan hingga 11 tahun, dan telah melakukan evaluasi di rumah setiap 18 bulan yang dimulai sejak Maret 1998 hingga Desember 2008. Seluruh peserta adalah lansia berusia minimal 70 tahun dan hidup dalam komunitas, tidak memiliki cacat tubuh, dan bisa melakukan empat aktivitas harian utama (AHU) tanpa perlu dibantu.

Peserta memberikan respons dengan pengukuran stereotip usia, dan mengalami setidaknya satu bulan cacat AHU selama riset (117 peserta tetap tanpa cacat). Sampel final tersebut melibatkan 598 peserta.

Stereotip usia dievaluasi dengan pertanyaan “Saat Anda melihat orang lansia, apa lima kata atau frase yang ada di benak Anda?”. Respons dinilai dengan lima skala, dari 1 (paling negatif) hingga 5 (paling positif), yang diambil nilai rata-ratanya.

Pikiran Positif Membantu untuk Hidup Lebih Lama

Temuan-temuan penelitian tersebut mengindikasikan bahwa pikiran positif dapat membantu seseorang untuk hidup lebih lama, dan pikiran kita sangat terhubung dengan tubuh dan apa yang kita rasakan. Meski penelitian lebih lanjut tetap dibutuhkan, temuan-temuan ini dapat mengarah pada intervensi pikiran positif yang membantu lansia hidup lebih lama dan lebih memuaskan.

Meski riset-riset seperti ini masih tergolong langka, banyak studi yang mulai mengarah ke subjek sikap dan lansia dari metode dan perspektif yang berbeda. Sebuah studi yang dipublikasikan oleh jurnal Educational Gerontology di tahun 1986 menantang para cendekiawan mengubah pemikiran mereka mengenai penuaan ke arah yang lebih positif.

Pada studi ini, tiga kelompok eksperimental berpartisipasi pada serangkaian pelatihan yang terdiri dari tiga sesi dalam urutan bagi tiap kelompok secara berbeda-beda. Pelatihan ini cukup sukses dalam merubah pandangan mereka terhadap lansia dan pada salah satu sesi, interaksi langsung dengan pasangan lansia dinilai sebagai cara yang paling efektif.

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/positive-attitudes-help-seniors-recover-from-disability-112012#1

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/positive-thinking-and-aging-2224134

Diakses pada Oktober 2018

 

Artikel Terkait

Banner Telemed