Penderita PTSD Bisa Mengalami Kondisi Tangan Disilet, Ini Sebabnya

Jika mengenal penderita PTSD dengan tangan disilet, ajaklah untuk mencari bantuan ke psikolog
Menyilet tangan atau membenturkan kepala adalah bentuk melukai diri sendiri yang dilakukan penderita PTSD

Post traumatic stress disorder (PTSD) selain membuat penderitanya tidak bisa terlepas dari bayang-bayang masa lalu yang membuat trauma, juga bisa memicu perilaku menyakiti diri sendiri. Tangan disilet, kepala dibenturkan, atau kulit digores merupakan beberapa bukti perilaku tersebut.

Bahkan, disebutkan bahwa orang yang mengalami PTSD memiliki kemungkinan lebih besar menyakiti diri sendiri, dibandingkan dengan orang tanpa riwayat gangguan tersebut. Perilaku melukai yang dimaksud pun bukan dilakukan untuk bunuh diri, melainkan sebagai jalan keluar untuk mengatasi kekacauan yang sedang dirasakan, secara psikologis.

[[artikel-terkait]]

Tangan disilet dan PTSD, tindakan melukai untuk 'menyembuhkan'

Bagi beberapa orang yang terkena PTSD, menyilet tangan, membenturkan kepala, atau bahkan menonjok tubuh sendiri, merupakan salah satu jalan untuk mengekspresikan emosi negatif seperti:

Terluka secara fisik, membuat penderita PTSD bisa melupakan rasa sakit secara psikologis atau emosional, untuk sementara waktu. Meski begitu, hilangnya rasa sakit secara emosional tersebut tetap akan kembali, dan bisa jadi, justru bertambah parah.

Menyilet tangan juga bisa dilakukan orang dengan PTSD dengan tujuan untuk “membangunkan” kesadaran diri sendiri. Penderita PTSD, sering kembali tenggelam dalam memori masa lalu yang membuatnya trauma.

Mengingat hal yang membuat trauma merupakan hal yang menyakitkan, namun sulit untuk dicegah. Melukai diri sendiri, seperti menyilet tangan, dinilai bisa menjadi cara untuk melupakan masa lalu. 

Penderita PTSD bisa lakukan langkah ini sebagai pemulihan

Karena kebiasaan melukai diri sendiri umumnya merupakan bagian dari suatu gangguan psikologis, seperti PTSD, maka penanganannya pun tidak bisa dipisahkan. Meski begitu, sesi konsultasi yang dilakukan untuk mengatasi PTSD juga bisa ditambah dengan sesi tersendiri membahas lebih lanjut mengenai perilaku melukai diri sendiri.

Ada juga beberapa cara untuk mengurangi keinginan melukai diri sendiri, yang bisa dilakukan secara mandiri, seperti:

  • Behenri melakukan dan coba pikirkan kembali, kegiatan apa yang kira-kira bisa dirubah untuk membuat perilaku ini berhenti dilakukan.
  • Hitung mundur dari angka sepuluh, saat mulai muncul hasrat untuk menyilet tangan.
  • Tunjukkan perhatian kepada lima benda, yang masing-masingnya mewakili panca indera di tubuh, untuk membawa perhatian kembali ke dunia nyata.
  • Tarik napas dan buang secara perlahan-lahan.

Jika cara d iatas tidak juga mampu mencegah keinginan untuk melukai diri-sendiri, maka beberapa langkah di bawah ini diharapkan bisa membantu.

  • Mengganti alat yang digunakan untuk melukai diri sendiri, dari benda tajam seperti silet, menjadi spidol atau pulpen, yang noda tintanya bisa dihapus menggunakan air.
  • Menggunakan samsak pukul, untuk menyalurkan amarah dan rasa frustasi.
  • Merendam tangan di dalam mangkuk atau baskom berisi es batu, tapi jangan terlalu lama.
  • Menghindari kegiatan menyilet tangan, dengan menggosokkan es batu ke tangan. 

Langkah-langkah di atas tentu harus tetap disertai dengan penanganan secara profesional. Jangan ragu untuk mengonsultasikan kondisi ini dengan dokter spesialis kejiwaan. Semakin cepat Anda memulai perawatan, maka semakin cepat pula rasa sakit yang dirasakan secara fisik maupun emosional, akan hilang.

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/ptsd-self-injury-2797509
Diakses pada 18 Juni 2019

U.S. Departments of Veteran Affairs. https://www.ptsd.va.gov/understand/related/self_harm.asp
Diakses pada 18 Juni 2019

Healthy Place. https://www.healthyplace.com/abuse/self-injury/self-help-for-self-injury
Diakses pada 18 Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed