Langkah Pencegahan HIV/AIDS yang Krusial untuk Diterapkan

(0)
02 Jun 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Pencegahan HIV AIDS ke orang lain salah satunya bisa dilakukan dengan tes HIVPencegahan HIV AIDS ke orang lain salah satunya bisa dilakukan dengan tes HIV
HIV/AIDS merupakan penyakit yang mungkin masih menjadi momok bagi banyak orang. Padahal, sejatinya HIV/AIDS merupakan infeksi yang bisa dicegah asal kita paham fakta-fakta yang sebenarnya. Pencegahan HIV/AIDS perlu diterapkan karena infeksi virus ini belum ada obatnya. Dengan memahami cara pencegahan HIV/AIDS pula, kita bisa terhindar dari tindakan yang mendiskriminasi pasiennya.

Pencegahan HIV AIDS yang bisa diterapkan

HIV/AIDS adalah penyakit yang bisa dicegah. Berikut ini pencegahan HIV AIDS yang perlu diperhatikan:

1. Memahami risiko diri

Dalam menerapkan pencegahan HIV AIDS, kita harus mengetahui dengan jelas posisi kita apakah berisiko atau tidak. Misalnya, Anda harus menerima informasi tentang HIV dan AIDS dari sumber terpercaya, mengetahui rute penularan, dan memahami jenis aktivitas yang berisiko menularkan virus tersebut.Penting untuk diketahui bahwa HIV bisa menular melalui cairan tubuh, seperti air mani, cairan vagina, darah, dan ASI. Sementara itu, rute penularan yang utama termasuk berhubungan seks, penggunaan jarum suntik bersama, hingga menyusui.

2. Gunakan kondom

Hubungan seks merupakan salah satu rute penularan HIV yang utama. Sejauh ini, penggunaan kondom masih menjadi salah satu metode pencegahan HIV AIDS yang bisa diandalkan, di samping juga mencegah kehamilan dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Bahkan, dilansir dari situs resmi World Health Organization, kondom lateks pria dapat memberikan perlindungan dari HIV dan penyakit IMS lain hingga 80%.Mencegah IMS lain amatlah penting dalam untuk menurunkan risiko HIV/AIDS. Sebab, IMS lain sering ‘mempercepat’ penularan HIV karena dapat merusak jaringan anus dan vagina.

3. Jauhi narkoba

HIV dan AIDS tak hanya menular lewat berhubungan seks saja. Banyak pasien juga tertular virus ini karena penggunaan narkoba jarum suntik. Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI Triwulan II tahun 2019, persentase positif HIV dari pengguna narkoba suntik mencapai 8,2% dari total kasus di Indonesia.Narkoba dalam bentuk apa pun dapat berbahaya untuk tubuh. Risikonya pun tentu tak hanya HIV saja, melainkan juga beragam penyakit hingga kematian.

4. Konsumsi obat jika baru terpapar HIV

Apabila Anda yakin bahwa baru saja terpapar HIV, seperti setelah berhubungan seks yang tidak aman, Anda bisa segera menemui dokter untuk mendapatkan obat pencegahan infeksi. Konsumsi obat ini setelah terpapar ini disebut dengan post-exposure prophylaxis (PEP). Dokter mungkin akan memberikan obat antiretroviral tenofovir dan emtricitabine yang dikonsumsi selama 28 hari.Konsumsi obat setelah terpapar dilaporkan dapat menurunkan risiko infeksi HIV hingga 81%, apabila diminum dalam setidaknya 72 jam pasca paparan.

5. Konsumsi obat PrEP

Pre-exposure prophylaxis (PrEP) merupakan langkah pencegahan HIV AIDS di mana seseorang mengonsumsi obat antiretroviral harian. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mengonsumsi PrEP, jika merupakan bagian dari populasi yang berisiko tinggi.

6. Menjalani sirkumsisi atau sunat

Beberapa laporan menyebutkan bahwa sunat atau sirkumsisi dapat menurunkan risiko seorang pria untuk tertular HIV hingga 60%. Diskusikan dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda bisa menjalani sunat.Pencegahan HIV AIDS agar tak menularkan ke orang lainPencegahan HIV AIDS tak hanya perlu diterapkan untuk diri sendiri. Agar orang lain tidak ikut terinfeksi virus ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

7. Tes secara berkala

Apabila Anda merupakan bagian dari kelompok yang berisiko tinggi, tes secara berkala sangat disarankan. Apabila Anda dinyatakan positif HIV, Anda akan diberikan obat antiretroviral (ARV) seumur hidup agar virus di dalam tubuh bisa melemah dan menurunkan risiko infeksi oportunistik. Selain itu, dengan mengetahui status masing-masing, Anda membantu orang lain agar tak terpapar virus ini, termasuk menurunkan risiko penularan ibu hamil dan ibu menyusui pada bayinya.

8. Rutin minum ARV

Obat ARV yang dikonsumsi pasien HIV bisa melemahkan virus di dalam tubuhnya. Tak sampai di situ, konsumsi obat ini dengan rutin bisa membantu agar status pasien menjadi tidak terdeteksi atau “undetectable”. Pasien yang positif HIV namun tidak terdeteksi dilaporkan tidak akan menularkan virus tersebut ke orang lain – asal ARV dikonsumsi dengan rutin seumur hidup.

Catatan dari SehatQ

Hingga saat ini, belum ada obat yang mampu menyembuhkan HIV/AIDS. Pencegahan HIV/AIDS di atas bisa diterapkan, baik bagi Anda yang tidak terinfeksi virus tersebut maupun bagi Anda yang positif HIV.
hivaids
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/cdc-person-with-undetectable-hiv-cannot-transmit-virus
Diakses pada 18 Mei 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids
Diakses pada 18 Mei 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324013
Diakses pada 18 Mei 2020
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/hiv-prevention-plan-to-reduce-risk-49177
Diakses pada 18 Mei 2020
Web MD. https://www.webmd.com/hiv-aids/news/20060815/6-ways-prevent-aids
Diakses pada 18 Mei 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait