Penasasaran Arti Sebuah Mimpi? Belum Tentu Firasat Buruk

Salah satu gangguan tidur yang cukup sering dialami adalah mimpi buruk
Tidur terganggu akibat mimpi buruk memang menyebalkan

Mimpi bukan lagi ranah psikoanalisis atau mistis saja. Kini, mimpi menjadi fokus dari penelitian ilmiah. Investigasi dan penelitian tentang arti sebuah mimpi bahkan bisa menjadi temuan baru terkait kesehatan mental manusia.

Dari waktu ke waktu, sejak dulu mimpi kerap menjadi hal yang ditanggapi dengan serius. Pada akhir abad 19 hingga abad 20, Sigmund Freud menempatkan mimpi sebagai pusat dari perdebatan psikoanalisis.

Arti sebuah mimpi dan kaitannya dengan sains

Pembahasan mimpi dalam ranah sains baru mulai sekitar tahun 1950an ketika mulai membahas tentang fase rapid eye movement (REM) saat tidur. Pesatnya perkembangan teknologi dan neuroimaging membantu membedah arti sebuah mimpi dengan lebih jelas.

Mimpi terjadi ketika pusat logika dalam otak yaitu frontal lobe tidak lagi aktif. Artinya pemikiran rasional tidak lagi dikedepankan. Pada saat bersamaan, ada asupan dopamin yang membuat seseorang merasa emosional.

Mimpi hanya akan terjadi ketika lingkungan sekitar benar-benar senyap dan orang tersebut tidak terikat pada hal apapun. Saat fase REM, visual cortex juga bekerja sehingga Anda merasakan mimpi dengan visualisasi yang cukup jelas.

Anda akan lebih mengandalkan indra penglihatan dan merasa ‘melihat’ ketimbang mendengar atau menyentuh.

Benarkah mimpi karena memikirkan sesuatu?

Asumsi lain yang kerap berkembang adalah mimpi muncul karena memikirkan sesuatu terlalu intens sebelum tidur. Ada riset yang menjawab asumsi ini.

Seorang psikolog bernama Daniel Wegner meneliti dream rebound effect. Dalam eksperimennya, ia membagi dua kelompok sebagai responden.

Kelompok pertama diminta untuk fokus memikirkan seseorang sebelum tidur. Kelompok kedua diminta menghindari memikirkan siapapun sebelum mereka terlelap.

Hasilnya, kelompok yang tidak memikirkan apapun atau menghindari memikirkan seseorang justru memimpikan orang itu.

Mengapa ada mimpi buruk?

Ada sebuah teori psikologi evolusioner yang bisa menjawab arti sebuah mimpi, terutama mimpi buruk. Dalam teori ini, ada unsur survival function di dalamnya.

Mimpi memberi kesempatan bagi seseorang untuk ‘berhadapan’ dengan hal yang dikhawatirkannya di dunia nyata. Inilah mengapa mimpi buruk terjadi.

Mimpi kental dengan apa yang menjadi kekhawatiran, ketakutan, dan hal yang melibatkan emosi secara mendalam bagi seseorang.

Konsepnya adalah ketika seseorang terbangun, dia akan lebih siap untuk menghadapi apa yang menghantuinya dalam mimpi buruk. 

Ini pula yang menjadi alasan mengapa mimpi buruk kerap terjadi dalam setting terpenting seperti berlari, dikejar, dan lainnya. Mimpi buruk kerap berisi aktivitas yang mustahil dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, sangat jarang melibatkan hal-hal biasa seperti menulis atau membaca.

The Threat Simulation Theory

Ada teori yang kembali menegaskan bahwa arti mimpi buruk adalah otak tengah merespons ancaman yang menghantui seseorang di masa depan. Peneliti Antti Revonsuo dari University of Skovde Swedia memaparkan hal ini dalam The Threat Simulation Theory.

Beberapa responden mengakui mengalami mimpi buruk yang sama: kehilangan semua giginya. Rupanya arti mimpi buruk ini adalah kekhawatiran mengucapkan hal yang salah di waktu yang juga salah.

Samakah mimpi dengan firasat?

Tidak jarang arti mimpi buruk bermakna lebih dalam dibandingkan dengan hanya mimpi selintas. Orang kerap mengaitkannya dengan firasat akan terjadinya sesuatu.

Mengingat mimpi datang dari alam bawah sadar, tentu maknanya simbolis. Jadi, tidak bisa serta merta diartikan sama seperti yang ada dalam mimpi. Perlu interpretasi yang lebih mendalam dan berkaitan dengan banyak hal.

Setiap interpretasi dari mimpi adalah hal yang sah-sah saja. Semisal seseorang bermimpi mengalami kanker tumor atau kehilangan seseorang. Tanpa mengartikannya secara harfiah, bisa jadi ini berarti ketakutan untuk meninggal dunia sebelum melakukan hal yang benar-benar diinginkannya.

Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/the-science-behind-dreaming/
Diakses pada 15 Juni 2019

Time. https://time.com/4921605/dreams-meaning/
Diakses pada 15 Juni 2019

The Verge. https://www.theverge.com/2018/12/7/18130619/alice-robb-why-we-dream-science-psychology-neuroscience-interview
Diakses pada 15 Juni 2019

Huffington Post. https://www.huffpost.com/entry/using-our-dreams-as-intui_b_6057292
Diakses pada 15 Juni 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed