logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Bayi & Menyusui

Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa pada Bayi Ternyata Berbeda, Ini Cara Pemeriksaannya!

open-summary

Intoleransi laktosa dan alergi susu sapi merupakan kondisi yang sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Gejala utama yang timbul dapat serupa namun memiliki mekanisme yang berbeda. Reaksi alergi sendiri terjadi beberapa menit setelah mengonsumsi susu atau bahkan beberapa jam kemudian.


close-summary

25 Mei 2019

| Giovanni Jessica

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Intoleransi laktosa dan alergi pada bayi merupakan kondisi yang serupa tapi tak sana

Intoleransi laktosa dan alergi susu sapi merupakan kondisi yang berbeda

Table of Content

  • Gejala intoleransi laktosa dan alergi pada bayi
  • Pemeriksaan alergi susu sapi pada bayi
  • Pemeriksaan intoleransi laktosa

Alergi susu sapi dan intoleransi laktosa, seringkali orang-orang menganggap kedua kondisi ini sama. Meski mirip, dua kondisi ini lebih tepat disebut serupa tapi tak sama. Intoleransi laktosa dan alergi pada bayi memiliki mekanisme dan gejala yang berbeda satu sama lain. Jika demikian, bagaimana cara membedakan alergi dan intoleransi laktosa?

Advertisement

Intoleransi laktosa merupakan kondisi yang menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan. Hal ini terjadi akibat tubuh gagal memproduksi laktase, yaitu enzim yang berperan memecah laktosa. Laktosa merupakan gula yang terdapat dalam susu. Tidak ada proses imun yang terlibat dalam intolerasi laktosa.

Kekurangan enzim tersebut menyebabkan laktosa tidak dapat dicerna oleh tubuh. Laktosa yang tidak bisa dipecah berubah menjadi gula sederhana yang akan terus berjalan dalam saluran cerna hingga sampai di kolon (usus besar). Bakteri yang ada di kolon kemudian akan menghancurkan laktosa. Inilah yang menjadi sumber terbentuknya gas.

Sementara itu, alergi adalah keadaan di mana sistem imun tubuh mengalami reaksi berlebihan terhadap makanan tertentu, dalam hal ini adalah susu sapi. Pengaruh alergi pada sistem imunitas tubuh akan menghasilkan gejala pada berbagai organ tubuh.

Gejala intoleransi laktosa dan alergi pada bayi

Intoleransi laktosa dan alergi susu sapi merupakan kondisi yang biasa terjadi pada bayi. Keduanya dapat memiliki gejala yang sama, seperti diare, mual dan muntah, nyeri perut, serta kembung. Akan tetapi, karena alergi tidak hanya menyerang sistem pencernaan layaknya intoleransi laktosa, bayi dengan alergi kemungkinan memiliki gejala lain, baik pada kulit maupun paru-paru.

Alergi pada bayi bisa menimbulkan bercak merah pada kulit, bengkak pada wajah dan bibir, kulit gatal, kesulitan menelan, serta sesak napas. Reaksi alergi dapat terjadi beberapa menit setelah mengonsumsi susu. Namun, terkadang reaksi timbul dalam beberapa jam kemudian.

Baca Juga

  • Susu Soya untuk Bayi, Apakah Cocok sebagai Pengganti Susu Sapi?
  • Penyebab Kentut Bau Busuk dan Cara Mengatasinya
  • Susu Sapi A2 Lebih Sehat dari Susu Biasa, Benarkah Demikian?

Pemeriksaan alergi susu sapi pada bayi

Untuk memastikan adanya alergi susu sapi pada bayi, pemeriksaan yang dilakukan sama seperti pemeriksaan alergi lainnya, yaitu melalui skin prick test. Tes ini dilakukan dengan menempelkan alergen (susu sapi) pada kulit. Apabila muncul bercak merah atau kulit berwarna merah yang semakin banyak dan gatal, kemungkinan besar bayi memiliki alergi.

Apabila hasil yang diperoleh tidak jelas, tes alergen dapat dilakukan secara langsung dengan percobaan oral. Bayi akan diberikan minum susu sapi dengan jumlah sedikit demi sedikit dan diamati adanya reaksi alergi pada bayi. Selain itu, pengambilan darah bisa dilakukan untuk memeriksa kadar antibodi dalam tubuh.

Perlu diingat bahwa hasil pemeriksaan dapat berupa positif palsu, artinya dapat diperoleh hasil positif walaupun tubuh tidak benar-benar memiliki alergi.

Pemeriksaan intoleransi laktosa

Jika bayi dicurigai mengalami intoleransi laktosa, terdapat tiga pilihan pemeriksaan yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Uji toleransi laktosa

Pemeriksaan ini dilakukan dengan memberikan minuman yang mengandung laktosa pada bayi. Setelah dua jam, pemeriksaan kadar gula darah akan dilakukan karena laktosa merupakan jenis gula. Apabila laktosa dapat dicerna oleh tubuh, peningkatan kadar gula darah akan terjadi.

2. Uji hidrogen pada napas

Dalam pemeriksaan ini, bayi juga perlu mengonsumsi minuman mengandung laktosa, lalu dilakukan pengukuran terhadap kadar hidrogen pada napas selama interval waktu tertentu. Hidrogen yang meningkat menandakan kerja bakteri di kolon yang menghancurkan laktosa. Dengan kata lain, laktosa tidak dapat diserap oleh tubuh.

3. Uji keasaman tinja

Berbeda dengan dua tes sebelumnya, pada uji tinja bayi tidak perlu mengonsumsi minuman mengandung laktosa. Hal yang dilakukan adalah memeriksa kandungan asam laktat pada tinja. Asam laktat terbentuk sebagai hasil pemecahan laktosa di kolon.

Intoleransi laktosa dan alergi susu sapi merupakan dua kondisi yang berbeda pada bayi. Keduanya dapat dibedakan dari gejala yang dialami dan melalui pemeriksaan tambahan. Apabila terjadi intoleransi laktosa maupun alergi pada bayi, anda dapat berkonsultasi kepada dokter dan melakukan penyesuaian dalam asupan susu yang diberikan pada bayi.

Advertisement

intoleransi laktosaalergi susu

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved