Pemanis Buatan Aspartam, Apakah Berbahaya Bagi Kesehatan?

Aspartam adalah pemanis buatan yang mengandung asam amino asam aspartat dan fenilalanin
Aspartam seringkali digunakan sebagai pengganti gula asli dalam makanan atau minuman

Pemanis buatan seringkali digunakan sebagai pengganti gula asli yang bertujuan untuk memberikan rasa manis pada berbagai produk makanan atau minuman yang dijual bebas di pasaran.

Aspartam adalah salah satu jenis pemanis buatan yang umum digunakan dalam produk makanan atau minuman manis tersebut. Terlepas dari kepopulerannya, penggunaan aspartam ternyata menuai kontroversi lantaran dinilai berbahaya bagi kesehatan.

Apa itu aspartam?

Aspartam adalah jenis pemanis buatan yang mengandung asam amino asam aspartat dan fenilalanin. Sebagai pemanis rendah kalori, aspartam memiliki rasa manis 200 lebih kuat dibandingkan dengan gula biasa pada umumnya.

Meski jauh lebih manis dibandingkan dengan gula pasir, baik aspartam dan gula pasir sama-sama memiliki kandungan kalori sebanyak 4 kalori per gramnya. Berkat rasa manis yang jauh di atas gula pasir membuat kita hanya perlu mengonsumsinya dalam jumlah sedikit.

Aspartam berfungsi sebagai pengganti gula asli dalam produk makanan atau minuman yang dijual bebas di pasaran. Anda dapat menemukannya dalam berbagai jenis minuman kemasan (minuman soda, diet soda, jus, minuman rasa), produk susu (yogurt, susu tanpa lemak), es krim, permen karet, saus, sirup, hingga terdapat pada jenis obat-obatan tertentu.

Aspartam telah digunakan dalam bahan makanan bebas gula dan minuman bersoda rendah kalori selama lebih dari 25 tahun.

Saat mengonsumsi aspartam, proses metabolisme tubuh akan memecahnya menjadi metanol. Proses tersebut juga terjadi pada tubuh Anda ketika mengonsumsi buah, sayur-sayuran, jus, minuman, dan produk fermentasi sehingga proses metabolisme aspartam bukanlah suatu proses yang baru bagi tubuh.

Apakah aspartam aman untuk dikonsumsi?

Ya, penggunaan aspartam telah disetujui oleh Food and Drugs Association (FDA) Amerika Serikat sebagai jenis pemanis yang aman untuk dikonsumsi sejak tahun 1981.

FDA menetapkan asupan harian aspartam yang dapat diterima oleh tubuh (acceptance daily intake/ADI) sebesar 50 mg/kg berat badan per hari.

Senada dengan FDA, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun mengizinkan penggunaan aspartam sebagai pemanis buatan asalkan tetap memperhatikan batas jumlah asupan per harinya.

Menurut ketentuan Surat Keputusan Kepala Badan POM No. H.K.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, aspartam dapat digunakan secara aman dan tidak bermasalah bila sesuai takaran yang diperbolehkan.

Untuk kategori pangan minuman berkarbonasi dan nonkarbonasi, batas maksimum penggunaan aspartam adalah 600 mg/kg. Maka dari itu, Anda tidak boleh mengonsumsinya secara berlebihan.

Baik American Medical Association (AMA) dan American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa aspartam aman digunakan bagi orang tidak mengidap fenilketonuria (PKU) serta aman bagi janin sesuai kadar yang telah ditentukan.

Selain itu, American Diabetes Association (ADA) dan World Health Organization (WHO) juga menyetujui bahwa aspartam aman dikonsumsi.

Bahaya aspartam bagi kesehatan tubuh

Walaupun tergolong aman dikonsumsi dan telah diizinkan, bukan berarti penggunaannya tidak membawa dampak buruk yang mungkin menyertai. Berikut adalah bahaya aspartam bagi kesehatan tubuh:

1. Kondisi fenilketonuria atau phenylketonuria

Fenilketonuria atau phenylketonuria (PKU) adalah salah satu jenis kelainan genetika yang langka. Penderita PKU mengalami penumpukan asam amino fenilalanin dalam darah.

Fenilalanin adalah asam amino penting yang dapat ditemukan dalam sumber protein, seperti daging, ikan, telur, produk berbahan dasar susu, hingga aspartam.

Orang-orang dengan kondisi medis ini tidak dapat memproses fenilalanin dalam tubuh dengan baik sehingga terjadilah penumpukan. Oleh karena itu, konsumsi aspartam dapat berisiko membahayakan bagi penderita PKU. 

2. Tardive dyskinesia (TD)

Tardive dyskinesia adalah gangguan medis berupa gerakan otot-otot tubuh yang tidak terkendali pada lidah, bibir, dan wajah. Mengonsumsi aspartam dapat memicu kondisi ini semakin tidak terkontrol.

3. Keracunan metanol

Keracunan metanol adalah salah satu dugaan bahaya aspartam bagi kesehatan. Keracunan metanol ditandai dengan munculnya gejala sakit kepala, vertigo, telinga berdenging, dan lemas.

4. Kondisi kesehatan lainnya

Klaim bahaya aspartam bagi kesehatan tubuh yang mungkin timbul adalah:

  • Peningkatan berat badan
  • Kerusakan otak
  • Depresi
  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Bayi cacat lahir
  • Lupus
  • Penyakit Alzheimer
  • Multiple sclerosis
  • Kanker

Sayangnya, belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa pemanis buatan ini berbahaya sehingga dapat menyebabkan kemunculan penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas.

Bolehkah penderita diabetes mengonsumsi aspartam?

Penderita diabetes boleh saja mengonsumsi aspartam. Ini karena penderita diabetes harus memperhatikan asupan gula yang masuk ke dalam tubuh. Selain gula, mereka juga harus mengendalikan jumlah kalori dan karbohidrat dari makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Nah, kandungan aspartam dapat memberikan rasa manis pada makanan dan minuman sebagai pengganti gula biasa. Dengan mengonsumsi pemanis buatan ini, para diabetesi atau penderita diabetes tetap dapat menikmati rasa manis tanpa perlu mengkhawatirkan jumlah kalori yang masuk.

Selain itu, aspartam tidak berisiko meningkatkan kadar gula darah atau memengaruhi kadar glukosa darah.

Meski aman bagi penderita diabetes, penggunaannya juga tidak bisa dikonsumsi sembarangan. Anda tetap harus memperhatikan kandungan aspartam yang masuk ke dalam tubuh.

Kaitan aspartam dengan peningkatan berat badan

Aspartam termasuk pemanis buatan rendah kalori sehingga tidak dapat meningkatkan berat badan secara signifikan jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Akan tetapi, karena aspartam juga memiliki rasa manis seperti gula maka hal ini dapat meningkatkan kebiasaan Anda untuk mengonsumsi makanan manis dan berkalori lainnya.

Mengonsumsi makanan manis dan berkalori inilah yang lama-lama dapat menyebabkan berat badan meningkat. Alhasil, kebiasaan tersebut yang dapat menyebabkan obesitas, tetapi perlu diingat bahwa kondisi ini bukan berasal aspartam itu sendiri.

Catatan dari SehatQ

Beberapa orang mungkin merasa ragu atau khawatir mengonsumsi aspartam karena sifatnya yang tidak alami, meski beberapa hasil riset dan sejumlah institusi kesehatan resmi telah menyatakan aman digunakan.

Oleh karena itu, sebaiknya Anda melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu mengenai penggunaan aspartam yang aman beserta jumlah asupan yang dianjurkan setiap harinya. Terlebih apabila Anda seorang diabetesi atau tengah menjalani diet tertentu.

Healthline. https://www.healthline.com/health/aspartame-side-effects

Diakses pada 23 Januari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/phenylketonuria

Diakses pada 23 Januari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322266.php

Diakses pada 23 Januari 2020

International Food Information Council Foundation. https://foodinsight.org/everything-you-need-to-know-about-aspartame/

Diakses pada 23 Januari 2020

American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/aspartame.html

Diakses pada 23 Januari 2020

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. http://ik.pom.go.id/v2016/qa/aspartam-dalam-minuman-berenergi

Diakses pada 23 Januari 2020

Artikel Terkait