Beragam Jenis Pemanis Buatan yang Diperbolehkan di Indonesia


Pemanis buatan masih menimbulkan rasa was-was saat kita mengonsumsi makanan olahan. Ada yang menyebutnya berbahaya, sebagian lain mengklaimnya aman. Bagaimana faktanya?

(0)
23 Feb 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Pemanis buatan adalah pemanis yang dibuat dari bahan kimiaSakarin, siklamat, aspartam, asesulfam-K, sukralosa, dan neotam merupakan pemanis buatan yang diizinkan di Indonesia
Pemanis buatan termasuk ke dalam golongan zat aditif, yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk meningkatkan cita rasa, tekstur, dan memperpanjang daya simpan. Sebenarnya, pemanis buatan dalam makanan itu sehat atau tidak?

Jenis pemanis buatan yang diizinkan di Indonesia

Pemanis buatan sakarin
Sakarin  merupakan salah satu pemanis buatan yang diizinkan di Indonesia
Sesuai namanya, pemanis buatan adalah zat kimia yang dicampurkan ke produk makanan sebagai pengganti gula alami untuk menambah cita rasa manis.Gula buatan cenderung minim kalori, bahkan bisa nol kalori. Namun meski tidak berkalori, pemanis buatan memberikan rasa manis yang jauh lebih kuat daripada gula pasir. Itu kenapa takaran gula buatan yang dicampurkan ke makanan biasanya sangat sedikit.Ada banyak jenis pemanis sintetis yang beredar di pasaran. Namun berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan, hanya ada enam pemanis buatan yang diizinkan di Indonesia.
  • Sakarin, rasanya 700 kali lebih kuat dibandingkan dengan gula pasir. Sakarin dapat berupa kalsium sakarin, kalium sakarin, dan natrium sakarin.
  • Aspartam. Memiliki rasa manis 200 kali lebih kuat dibandingkan dengan gula pasir.
  • Siklamat, rasanya 50 kali lebih manis dibandingkan gula pasir. Siklamat dapat berbentuk kalsium siklamat dan natrium siklamat
  • Asesulfam-K atau asesulfam kalium. Rasanya 200 kali lebih manis dibandingkan gula pasir
  • Neotam. Memiliki kekuatan rasa 13000 kali lebih manis dibandingkan gula pasir.
  • Sukralosa, dengan rasa 600 kali lebih manis dibandingkan gula pasir.

Klaim bahaya pemanis buatan terhadap kesehatan

Mungkin Anda pernah mendengar ada isu bahwa pemanis buatan berisiko menimbulkan kanker. Banyak diskusi terkait efek pemanis buatan terhadap berbagai kondisi medis. Bagaimana kesimpulannya?

1. Pemanis buatan dan penurunan berat badan

Berbagai studi mengungkapkan, konsumsi makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan boleh jadi berkaitan dengan penurunan berat badan.Panganan yang berpemanis buatan memang dapat membantu Anda mengurangi konsumsi gula pasir, sebab Anda hanya perlu sedikit saja untuk mencapai rasa manis yang sama. Hal inilah yang diyakini dapat menurunkan berat badan.Meski begitu, teori bahwa gula buatan dapat membantu kelancaran program diet masih menjadi kontroversi. Ada pula studi pengamatan yang menemukan malah sebaliknya. Penting untuk diingat bahwa efek penurunan berat badan tersebut mustahil terjadi jika Anda masih masih makan dengan berlebihan dan kurang berolahraga.

2. Pemanis buatan dan diabetes

Riset lanjutan terkait hubungan antara pemanis buatan dan diabetes masih diperlukan. Pasalnya, temuan pada studi-studi sebelumnya masih bercampur.Ada hasil riset yang menyebutkan pemanis buatan meningkatkan risiko diabetes, ada pula yang menemukan tidak ada pengaruh pemanis buatan terhadap gula darah.

3. Pemanis buatan dan kesehatan usus

Salah satu faktor yang menjaga kesehatan usus adalah kehadiran bakteri baik di saluran pencernaan tersebut.Menurut sebuah riset yang dimuat dalam jurnal Nature, konsumsi minuman yang mengandung pemanis buatan dikaitkan dengan terganggunya aktivitas bakteri baik di usus, pada empat orang responden dari total tujuh partisipan penelitian.Temuan ini tentunya menarik terkait efek pemanis buatan terhadap kesehatan usus. Walau demikian, tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk menguatkan teori tersebut.Pasalnya, ada beberapa laporan bahwa pemanis sukralosa justru dapat mengurangi sensivitas insulin dan memengaruhi jumlah bakteri baik di usus.

4. Pemanis buatan dan kanker

Pemanis buatan dalam bentuk tablet
Masih diperlukan penelitian lanjutan terkait hubungan pemanis buatan dengan kanker
Salah satu hal yang ditakutkan masyarakat dalam konsumsi pemanis buatan adalah isu efeknya terhadap kanker. Studi tahun 1970 pada hewan memang menemukan, sakarin dan siklamat menimbulkan kanker kandung kemih pada hewan yang diujikan.Namun, penelitian-penelitian selanjutnya pada manusia tidak menemukan kaitan antara konsumsi pemanis buatan dengan risiko kanker. Hingga saat ini, belum ada riset ilmiah yang bisa membuktikan pemanis buatan dapat meningkatkan risiko kanker, dan tentunya diperlukan penelitian lebih lanjut di tengah kontroversi bahan pangan ini.

5. Pemanis buatan dan kesehatan mulut

Konsumsi gula dapat meningkatkan risiko gigi berlubang, karena bakteri di mulut memfermentasi bahan pangan ini. Namun ternyata, hal tersebut tidak berlaku untuk pemanis buatan. Pemanis buatan tidak bereaksi dengan bakteri di mulut, sehingga tidak menimbulkan masalah seperti gigi berlubang.

Pertimbangan keamanan dan efek samping konsumsi pemanis buatan

Gula buatan umumnya aman untuk dikonsumsi. Walau begitu, beberapa orang disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung bahan pangan ini.Orang dengan masalah metabolisme phenylketonuria (PKU) tidak bisa mencerna asam amino dalam aspartam. Maka, penderita PKU harus menghindari aspartam.Masih dari Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 11 Tahun 2019, pemanis buatan juga tidak dapat digunakan pada produk pangan yang khusus diperuntukkan bagi kelompok berikut:
  • Bayi
  • Anak usia di bawah tiga tahun
  • Ibu hamil dan atau ibu menyusui
Selain itu, sebagian orang mungkin lebih rentan terhadap risiko gejala depresi setelah mengonsumsi produk yang mengandung pemanis aspartam.Beberapa orang mungkin bisa mengalami reaksi alergi terhadap sulfonamides di dalam sakarin. Reaksi tersebut dapat berupa kesulitan bernapas, diare, dan ruam kulit.

Catatan dari SehatQ

Secara umum, gula buatan aman dikonsumsi, walau efek samping tertentu berisiko dialami oleh beberapa individu. Pemanis ini mungkin bermanfaat bagi Anda yang ingin mengurangi asupan gula.Anda juga bisa mempertimbangkan pemanis alami untuk menambah cita rasa makanan seperti madu, stevia, eritritol, atau xylitol. Semoga membantu!
makanan sehatmakanan dietmakanan tidak sehat
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. http://standarpangan.pom.go.id/dokumen/peraturan/2019/PerBPOM_No_11_Tahun_2019_tentang_BTP.pdf
Diakses pada 21 Februari 2020
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/4-healthy-natural-sweeteners
Diakses pada 21 Februari 2020
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/artificial-sweeteners-good-or-bad
Diakses pada 21 Februari 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24190652
Diakses pada 21 Februari 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25231862
Diakses pada 21 Februari 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/5411626
Diakses pada 21 Februari 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait