logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Memahami Arti Parenting dan Jenis-jenisnya, Orang Tua Perlu Tahu

open-summary

Secara harfiah, arti parenting adalah pola pengasuhan anak. Berbagai jenis parenting adalah authoritarian parenting (pola asuh otoriter), authoritative parenting (pola asuh otoritatif), hingga permissive parenting (pola asuh permisif). Setiap jenis parenting memiliki dampaknya masing-masing.


close-summary

25 Sep 2020

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Parenting adalah pola asuh anak yang dapat berbeda di tiap keluarga

Parenting artinya mengasuh anak untuk menjadi orang yang produktif dan berdaya guna

Table of Content

  • Apa itu parenting?
  • Pengertian parenting menurut para ahli
  • Jenis-jenis parenting

Sebagian besar orang tua tentunya pernah mendengar seputar apa itu parenting. Tidak hanya itu, parenting adalah salah satu istilah yang sangat sering dilontarkan dalam dunia orang tua modern.

Advertisement

Berbagai gaya parenting dibagikan di dunia maya. Tidak sedikit di antaranya mengundang perdebatan sengit soal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Memperdebatkan soal jenis atau gaya parenting yang paling baik memang tidak akan ada habisnya. Sebab, setiap orang tua memiliki pendapat dan pendirian masing-masing.

Secara keilmuan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan parenting?

Apa itu parenting?

Secara harfiah, arti parenting adalah pengasuhan anak. Dengan demikian, parenting style bisa dimaknai sebagai pola asuh anak.

Menurut American Psychological Association (APA), tujuan parenting adalah:

  • Memastikan keselamatan dan kesehatan anak
  • Mempersiapkan anak untuk menjalani masa depannya agar kelak bisa menjadi orang dewasa yang produktif
  • Mewariskan nilai-nilai kultur dan budaya yang telah ada turun temurun

Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap orang tua biasanya memiliki gaya atau pola tersendiri.

Masing-masing pola tersebut juga nantinya bisa memberikan dampak yang berbeda terhadap perkembangan dan karakter anak.

Pengertian parenting menurut para ahli

Menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Frontiers in Psychology, pengertian parenting menurut para ahli adalah sikap dan perilaku orangtua terhadap anak-anak beserta perasaan emosional di mana perilaku orangtua dapat diekspresikan.

Selain itu, sebagian ahli lain juga memiliki pandangannya tersendiri terkait arti parenting. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.

1. Hetherington & Whiting

Hetherington & Whiting menjelaskan, parenting adalah proses interaksi total antara orang tua dengan anak, seperti pemeliharaan, pemberian makan, membersihkan, melindungi, dan proses sosialiasi anak dengan lingkungan sekitarnya.

2. Gunarsa Singgih

Dalam buku Psikologi Remaja, Gunarsa Singgih menyatakan bahwa parenting adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda, termasuk anak, supaya bisa mengambil keputusan dan bertindak sendiri sehingga mengalami perubahan dari bergantung kepada orang tua, menjadi berdiri sendiri dan bertanggung jawab.

3. Jerome Kagan

Menurut Jerome Kagan, arti parenting adalah serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan orang tua, supaya anak mampu bertanggung jawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat.

Jenis-jenis parenting

Psikolog Diana Baumrind pada 1960-an mengelompokkan pola parenting anak menjadi tiga jenis.

Lalu, di tahun-tahun setelahnya, penelitian yang dilakukan oleh Maccoby dan Martin menambah satu jenis gaya parenting lagi.

Berikut adalah jenis-jenis parenting yang umumnya dianut banyak orang tua.

Orangtua yang tidak mau mendengarkan anak adalah pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter bisa membuat anak suka berbohong

1. Authoritarian parenting (pola asuh otoriter)

Orang tua yang menjalani pola asuh otoriter, memastikan anaknya mengikuti semua aturan ketat dari ayah dan ibunya.

Jika anak gagal mengikuti aturan, hukuman tegas biasanya akan langsung diberikan.

Orang tua yang otoriter umumnya tidak akan menjelaskan alasan di balik hukuman atau peraturan yang mereka berikan pada anak. Pola asuh ini digambarkan sebagai orang tua yang mendominasi dan diktator.

Jika anak bertanya “Kenapa saya harus melakukan itu?” maka jawaban seperti “Ya, karena Mama bilang begitu,” biasanya sering terucap.

Ciri lain orang tua yang menjalani pola asuh otoriter adalah:

  • Memiliki harapan dan ekspektasi tinggi terhadap anaknya
  • Tidak terlalu responsif terhadap hal-hal yang terjadi pada anak
  • Tidak memberikan ruang untuk kesalahan anak, tapi di saat yang bersamaan juga tidak membimbing anak melakukan cara yang benar
  • Berfokus pada status dan hasil
  • Beranggapan bahwa anak harus menuruti perintah orang tua
  • Tidak suka jika anak banyak mengajukan pertanyaan.

Dampak pola asuh otoriter pada anak:

Anak yang diasuh oleh orang tua yang otoriter, biasanya tidak akan kesulitan untuk mengikuti aturan.

Namun, anak juga bisa tumbuh menjadi sosok yang agresif dan mudah berkonflik dengan orang lain.

Dampak lain dari pola asuh otoriter adalah hilangnya rasa harga diri anak. Sebab, opini atau pendapatnya sering diabaikan, bahkan oleh orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga dan orang tua.

Karena aturan kelewat ketat itu juga, banyak anak yang dibesarkan di lingkungan otoriter menjadi pembohong ulung.

Sebab, mereka terbiasa berbohong untuk menghindari hukuman yang keras dari orang tua.

Pola asuh otoritatif membuat anak bisa tumbuh jadi orang yang sukses
Orangtua yang menjalani pola asih otoriatif aktif berdiskusi dengan anak 

2. Authoritative parenting (pola asuh otoritatif)

Sama seperti orang tua yang menganut pola otoriter, ayah dan ibu yang menjalani pola asuh otoritatif juga berekspektasi anaknya mengikuti aturan mereka. Namun, secara garis besar, gaya parenting ini jauh lebih demokratis.

Orang tua otoritatif mau mendengarkan pertanyaan anak dan responsif terhadap segala hal yang dilakukan mereka.

Orang tua yang menganut pola asuh ini memang memiliki ekspektasi yang tinggi pada anak, tapi di saat yang bersamaan juga memberikan dukungan, kehangatan, dan berinteraksi dengan anak.

Saat anak mengalami kegagalan, mereka pun akan lebih bisa memaafkan dan bersikap bijaksana, dibanding dengan orang tua otoriter yang langsung menghukum.

Dampak pola asuh otoritatif pada anak:

Anak yang dibesarkan dengan sistem parenting ini, punya kemungkinan besar untuk tumbuh menjadi sosok taat aturan tanpa paksaan. Sebab, orang tua selalu menjelaskan alasan di balik setiap larangan dan anjuran yang ada.

Gaya parenting otoritatif juga dinilai sebagai salah satu gaya yang paling banyak melahirkan anak-anak yang sukses saat dewasa.

Anak-anak itu juga merasa percaya diri dan nyaman dalam mengemukakan pendapatnya di depan orang lain.

Terakhir, pola asuh ini juga bisa membuat anak tumbuh dengan lebih bahagia dan bijak dalam membuat keputusan.

Sebab, anak terbiasa menimbang risiko sekaligus kelebihan dan kekurangan dari masing-masing hal sejak kecil.

Baca Juga: 5 Cara Mendidik Anak di Era Digital yang Perlu Orangtua Ketahui

Orangtua dengan pola asuh permisif biasanya akan memposisikan diri sebagai teman
Orangtua denga pola asuh permisif memposisikan diri sebagai teman anaknya

3. Permissive parenting (pola asuh permisif)

Orangtua yang menjalani pola asuh permisif punya ciri-ciri sebagai berikut:

  • Sangat jarang atau bahkan tidak pernah memiliki ekspektasi tertentu pada anak
  • Jarang mendisiplinkan anak
  • Responsif terhadap hal-hal yang dialami anak
  • Sifatnya nontradisional dan memberikan banyak kelonggaran pada anak
  • Cenderung menghindari konfrontasi
  • Komunikatif
  • Lebih banyak memposisikan diri sebagai teman bagi anaknya.

Dampak pola asuh permisif pada anak:

Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang permisif, akan lebih berisiko mengalami kesulitan di sekolah maupun hal akademis lainnya.

Mereka juga akan menunjukkan sikap yang mungkin dianggap kurang sopan atau menghargai karena tidak terbiasa mengikuti aturan.

Pola asuh ini juga banyak menghasilkan anak-anak yang kurang percaya diri dan sering bersedih.

Sisi negatif dari pola asuh ini juga membuat anak berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan, seperti obesitas.

Sebab, orangtua tidak mengatur pola makan anak sejak kecil dan membiarkan mereka melahap setiap makanan kesukaannya.

Baca Juga: 10 Kesalahan yang Kerap Dilakukan Orangtua Saat Mendidik Anak

pola asuh abai membuat anak tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri
Pola asuh membiarkan membuat anak jadi rendah diri

4. Uninvolved parenting (pola asuh membiarkan)

Pola asuh yang terakhir adalah pola asuh membiarkan atau uninvolved parenting. Orangtua yang menjalaninya hampir tidak memiliki ekspektasi untuk anaknya.

Mereka juga tidak responsif dan hampir tidak pernah berkomunikasi dengan anak.

Meskipun orang tua tersebut tetap memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti menyediakan tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup, dan uang untuk keperluan sekolah dan lain-lain; mereka tidak terlibat dalam kehidupan buah hatinya.

Orang tua dengan pola asuh ini tidak memberikan arahan, nasihat, larangan dan anjuran, atau dukungan emosional pada anak.

Pada kasus-kasus yang parah, orang tua bahkan sama sekali tidak mau berurusan dengan anak dan tidak memenuhi kebutuhan dasarnya.

Dampak pola asuh membiarkan pada anak:

Anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan gaya parenting ini biasanya tumbuh menjadi orang yang tidak bahagia dan tidak punya rasa percaya diri serta rendah diri.

Secara akademis, anak-anak tersebut biasanya sulit berprestasi maupun mengikuti pelajaran layaknya anak-anak lain. Perilaku mereka juga biasanya kurang baik.

5. Overprotective parenting (pola asuh overprotektif)

Overprotective parenting ditandai dengan orangtua yang terlalu sering mengarahkan atau mengontrol tindakan anak mereka.

Orangtua yang overprotektif ingin memastikan kesejahteraan anak, tetapi upaya mereka dapat mengganggu atau bahkan merugikan buah hatinya.

Pola asuh ini dinilai bisa memicu masalah dalam keluarga dan menghambat perkembangan anak secara keseluruhan.

Dampak pola asuh overprotektif pada anak:

  • Menurunkan harga diri dan berdampak pada temperamen anak karena merasa stres.
  • Menimbulkan masalah kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, masalah makan, penyalahgunaan zat terlarang, hingga terlalu bergantung pada orang lain.

Baca Juga

  • Bukan Hanya Lingkungan, Faktor Biologis Juga Penting dalam Perkembangan Anak
  • Stunting pada Anak, Kenali Penyebab hingga Cara Mencegahnya
  • Bagaimana Cara Menumbuhkan Body Image (Citra Tubuh) Positif pada Anak?

Pola asuh anak yang dilakukan orang tua bisa berubah-ubah tergantung dari berbagai faktor.

Misalnya, orang tua yang mempraktikkan uninvolved parenting bisa saja tidak melakukan pola asuhnya dengan sengaja, tapi karena ada faktor lain yang mempengaruhi, seperti:

  • Kesehatan mental yang butuh perawatan
  • Harus bekerja siang malam demi menghidupi keluarga.

Dampak pola asuh pada anak dari masing-masing gaya parenting juga bisa berbeda-beda. Gambaran di atas hanyalah dampak yang umumnya terjadi.

Bukan berarti anak yang tumbuh dengan orang tua yang membiarkan pasti tidak akan sukses.

Sebaliknya, dibesarkan oleh orang tua yang otoritatif juga tidak menjamin anak menjadi orang sukses. Masih ada banyak faktor lain yang mempengaruhi.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar dunia parenting atau pola asuh terbaik untuk buah hati, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

test parentingtips parentingperkembangan anakparenting stressgaya parentingorangtua

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved