Memahami Arti Parenting dan Jenis-jenisnya, Orangtua Perlu Tahu

(0)
08 Oct 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Parenting artinya mengajarkan anak nilai-nilai yang sesuai dengan budaya yang dipegangParenting artinya mengasuh anak untuk menjadi orang yang produktif dan berdaya guna
Kata parenting dalam dunia orangtua modern sangat sering terlontar. Berbagai gaya parenting dibagikan di dunia maya. Tidak sedikit di antaranya mengundang perdebatan sengit soal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.Memperdebatkan soal jenis atau gaya parenting yang paling baik memang tidak akan ada habisnya. Sebab, masing-masing orangtua memiliki pendapat dan pendirian.Lantas, secara keilmuan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan parenting?

Pengertian parenting

Secara harafiah, parenting bisa diartikan sebagai pengasuhan anak. Dengan demikian, parenting style bisa dimaknai sebagai pola asuh anak. Menurut American Psychological Association (APA), parenting dijalankan orangtua untuk mencapai tiga tujuan, yaitu:
  • Memastikan keselamatan dan kesehatan buah hati
  • Mempersiapkan anak untuk menjalani masa depannya agar kelak bisa menjadi orang dewasa yang produktif
  • Mewariskan nilai-nilai kultur dan budaya yang telah ada turun temurun
Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap orangtua biasanya memiliki gaya atau pola tersendiri. Masing-masing pola tersebut juga nantinya bisa memberikan dampak yang berbeda terhadap perkembangan serta karakter anak.

Jenis-jenis parenting

Psikolog Diana Baumrind pada 1960an mengelompokkan pola pengasuhan anak menjadi tiga jenis. Lalu, di tahun-tahun setelahnya, penelitian yang dilakukan oleh Maccoby dan Martin menambah satu jenis gaya parenting lagi.Keempat gaya parenting tersebut adalah:
Orangtua yang tidak mau mendengarkan anak adalah pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter bisa membuat anak suka berbohong

1. Authoritarian parenting (pola asuh otoriter)

Orangtua yang menjalani pola asuh otoriter, memastikan anaknya mengikuti semua aturan ketat dari ayah dan ibunya. Jika anak gagal mengikuti aturan, maka biasanya hukuman tegas akan langsung diberikan.Orangtua yang otoriter, biasanya tidak akan menjelaskan alasan di balik hukuman atau peraturan yang mereka berikan pada anak. Pola asuh ini digambarkan sebagai orangtua yang mendominasi dan diktator.Jika anak bertanya “Kenapa saya harus melakukan itu?” maka jawaban seperti “Ya karena Mama bilang begitu,” biasanya sering terucap.Ciri lain dari orangtua yang menjalani pola asuh otoriter adalah:
  • Memiliki harapan dan ekspektasi tinggi terhadap anaknya
  • Tidak terlalu responsif terhadap hal-hal yang terjadi pada anak
  • Tidak memberikan ruang untuk kesalahan anak, tapi di saat yang bersamaan juga tidak membimbing anak melakukan cara yang benar
  • Berfokus pada status dan hasil
  • Beranggapan bahwa anak harus menuruti perintah orangtua
  • Tidak suka jika anak banyak mengajukan pertanyaan

Dampak pola asuh otoriter pada anak:

Anak yang diasuh oleh orangtua yang otoriter, biasanya tidak akan kesulitan untuk mengikuti aturan. Namun, anak juga bisa tumbuh menjadi sosok yang agresif dan mudah berkonflik dengan orang lain.Dampak lain dari pola asuh otoriter adalah hilangnya rasa harga diri anak. Sebab, opini atau pendapatnya sering diabaikan, bahkan oleh orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga dan orangtua.Karena aturan kelewat ketat itu juga, banyak anak yang dibesarkan di lingkungan otoriter menjadi pembohong ulung. Mereka terbiasa berbohong untuk menghindari hukuman yang keras dari orangtua.
Pola asuh otoritatif membuat anak bisa tumbuh jadi orang yang sukses
Orangtua yang menjalani pola asih otoriatif aktif berdiskusi dengan anak 

2. Authoritative parenting (pola asuh otoritatif)

Sama seperti orangtua yang menganut pola otoriter, ayah dan ibu yang menjalani pola asuh otoritatif juga berekspektasi anaknya mengikuti aturan mereka. Namun secara garis besar, gaya parenting ini jauh lebih demokratis.Orangtua otoritatif mau mendengarkan pertanyaan anak dan responsif terhadap segala hal yang dilakukan buah hati.
Mereka memang memiliki ekspektasi yang tinggi pada anak, tapi di saat yang bersamaan juga memberikan dukungan, kehangatan, dan berinteraksi dengan anak.
Saat anak kemudian mengalami kegagalan, mereka pun akan lebih bisa memaafkan dan bersikap bijaksana, dibanding dengan orangtua otoriter yang langsung menghukum.

Dampak pola asuh otoritatif pada anak:

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini, punya kemungkinan besar untuk tumbuh menjadi sosok taat aturan tanpa paksaan. Sebab, orangtua selalu menjelaskan alasan di balik setiap larangan dan anjuran yang ada.Gaya parenting otoritatif juga dinilai sebagai salah satu gaya yang paling banyak melahirkan anak-anak yang sukses saat dewasa. Anak-anak itu juga merasa percaya diri dan nyaman dalam mengemukakan pendapatnya di depan orang lain.Terakhir, pola asuh ini juga bisa membuat anak tumbuh dengan lebih bahagia dan bijak dalam membuat keputusan. Sebab, anak terbiasa menimbang risiko serta kelebihan dan kekurangan dari masing-masing hal sejak kecil.Baca Juga: 5 Cara Mendidik Anak di Era Digital yang Perlu Orangtua Ketahui
Orangtua dengan pola asuh permisif biasanya akan memposisikan diri sebagai teman
Orangtua denga pola asuh permisif memposisikan diri sebagai teman anaknya

3. Permissive parenting (pola asuh permisif)

Orangtua yang menjalani pola asuh permisif punya ciri-ciri sebagai berikut:
  • Sangat jarang atau bahkan tidak pernah memiliki ekspektasi tertentu pada anak
  • Jarang mendisiplinkan anak
  • Responsif terhadap hal-hal yang dialami anak
  • Sifatnya non-tradisional dan memberikan banyak kelonggaran pada anak
  • Cenderung menghindari konfrontasi
  • Komunikatif
  • Lebih banyak memposisikan diri sebagai teman bagi anaknya

Dampak pola asuh permisif pada anak:

Anak-anak yang tumbuh dengan orangtua yang permisif, akan lebih berisiko mengalami kesulitan di sekolah maupun hal akademis lainnya.Mereka juga akan menunjukkan sikap yang mungkin dianggap kurang sopan atau menghargai karena tidak terbiasa mengikuti aturan. Pola asuh ini juga banyak menghasilkan anak-anak yang kurang percaya diri dan sering bersedih.Sisi negatif dari pola asuh ini juga membuat anak berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan, seperti obesitas. Sebab, orantua tidak mengatur pola makan anak sejak kecil dan membiarkannya melahap setiap makanan kesukaan.Baca Juga: 10 Kesalahan yang Kerap Dilakukan Orangtua Saat Mendidik Anak
pola asuh abai membuat anak tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri
Pola asuh membiarkan membuat anak jadi rendah diri

4. Uninvolved parenting (pola asuh membiarkan)

Pola asuh yang terakhir adalah pola asuh membiarkan atau uninvolved parenting. Orangtua yang menjalaninya, hampir tidak memiliki ekspektasi untuk anaknya. Mereka juga tidak responsif dan hampir tidak pernah berkomunikasi dengan anak.Meski orangtua tersebut tetap memenuhi kebutuhan dasar anak seperti menyediakan tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup, dan uang untuk keperluan sekolah dan lain-lain, tapi tidak terlibat dalam kehidupan buah hatinya.Mereka tidak memberikan arahan, nasihat, larang dan anjuran, atau dukungan emosional pada anak. Pada kasus-kasus yang parah, orangtua bahkan sama sekali tidak mau berurusan dengan anak dan tidak memenuhi kebutuhan dasarnya.

Dampak pola asuh membiarkan pada anak:

Anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan gaya parenting ini biasanya tumbuh menjadi orang yang tidak bahagia dan tidak punya rasa percaya diri serta rendah diri.Secara akademis, anak-anak tersebut biasanya sulit untuk berprestasi maupun mengikuti pelajaran layaknya anak-anak lain. Perilaku mereka juga baisanya kurang baik.Pola asuh anak yang dilakukan orangtua bisa berubah-ubah tergantung dari berbagai faktor. Orangtua yang mempraktikkan uninvolved parenting, misalnya, bisa saja tidak melakukan hal itu dengan sengaja, tapi karena ada faktor lain yang memengaruhi seperti:
  • Kesehatan mental yang butuh perawatan
  • Harus bekerja siang malam demi menghidupi keluarga
Dampak pola asuh pada anak dari masing-masing gaya parenting juga bisa berbeda-beda. Gambaran di atas, hanyalah dampak umum.Bukan berarti anak yang tumbuh dengan orang tua yang membiarkan pasti tidak akan sukses. Sebaliknya, dibesarkan oleh orangtua yang otoritatif juga tidak menjamin anak menjadi orang sukses. Masih ada banyak faktor lain yang memengaruhi.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar style parenting atau pola asuh terbaik untuk buah hati, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
test parentingtips parentingperkembangan anakparenting stressgaya parentingorangtua
American Psychological Associaton. https://www.apa.org/topics/parenting
Diakses pada 24 September 2020
Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/types-of-parenting-styles-1095045
Diakses pada 24 September 2020
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/parenting-styles-2795072
Diakses pada 24 September 2020
Brittanica. https://www.britannica.com/topic/parenting
Diakses pada 24 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait