Para Lansia, Waspadai 3F Jika Tidak Mau Terserang Osteoporosis dan Radang Sendi

Osteoporosis lebih umum terjadi pada wanita dan dapat mengganggu mobilitas
Seorang wanita yang menderita osteoporosis sedang dibantu berdiri oleh orang lain

Osteoporosis dan osteoarthritis (radang sendi) mungkin menjadi penyakit yang sangat dikhawatirkan orang lanjut usia (lansia). Bagaimana tidak, kedua penyakit yang seringkali mengusik hari tua ini memiliki berbagai gejala yang merugikan dan membuat hidup tak nyaman. Mari kenali "3F" jika tidak mau terserang osteoporosis.

Apa itu 3F?

Proses penuaan adalah hal yang tak bisa dihindari. Tulang menjadi salah satu "korban" proses penuaan pada lansia. Jika mengenai tulang, maka kondisinya disebut osteoporosis. Saat menyerang persendian, datanglah radang sendi.

Menurut dr. Komang Agung Irianto Suryaningrat, Sp.OT(K), osteoporosis dan ostearthritis menyerang lokasi tubuh yang berbeda-beda.

Osteoporosis biasanya menyerang tiga lokasi di tubuh, yaitu punggung, pergelangan, dan panggul. Sementara itu, osteoarthritis atau radang sendi akan berdampak pada lokasi yang berbeda-beda. Namun, kondisi ini lebih sering dijumpai di persendian penyangga tubuh, seperti tulang belakang, panggul, dan lutut.

dr. Komang menyebutkan bahwa lansia harus waspada akan 3F. Sebenarnya, apa itu 3F?

  • Forty alias usia di atas 40 tahun
  • Fatty atau berat badan berlebih yang bisa meningkatkan risiko osteoporosis dan osteoarthritis
  • Female, karena gangguan ini lebih sering dialami wanita

Keluhan nyeri pun tak lagi terbendung dari mulut orang lansia, jika sudah terkena osteoporosis atau radang sendi. Tidak jarang rasa nyeri luar biasa datang, sehingga membuat penderitanya pusing tak kepalang.

“Pada punggung, keluhannya selain di pinggang bisa menyebar sampai ke tungkai pada kakinya. Kebanyakan penderitanya itu menderita nyeri, kemudian bungkuk, dan ada gangguan rasa atau gangguan gerak,” papar Dr. Komang.

Gejala osteoporosis dan osteoarthritis

Osteoporosis berdampak buruk para tulang
Osteoporosis membuat tulang menjadi rapuh

Sebelum mengenail cara pencegahannya, Anda harus mengetahui dulu berbagai gejala osteoporosis dan osteoarthritis yang biasanya dirasakan oleh lansia.

1. Gejala osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit yang bisa membuat tulang menjadi rapuh dan lemah. Saking lemahnya, tekanan ringan saja bisa membuat tulang yang terdampak itu patah. Kenali beberapa gejala osteoporosis di bawah ini:

  • Nyeri punggung, yang disebabkan oleh patah tulang belakang
  • Tinggi tubuh menurun seiring berjalannya waktu
  • Postur tubuh menjadi bungkuk
  • Tulang menjadi mudah patah.

Parahnya, di tahap awal osteoporosis, tidak ada gejala yang terasa oleh penderitanya. Namun sesaat tulang sudah mulai melemah akibat osteoporosis, gejala di ataslah yang kemudian muncul.

2. Gejala osteoarthritis

Sendi adalah tempat dua tulang bersatu. Ujung-ujung tulang ini diselimuti jaringan pelindung bernama tulang rawan. Saat osteoarthritis menyerang, tulang rawan pun rusak, menyebabkan tulang-tulang di dalam sendi bergesekan.

Beberapa gejala osteoarthritis ini mesti diwaspadai:

  • Nyeri
  • Tubuh menjadi kaku
  • Peradangan
  • Rasa sakit atau tak nyaman saat menekan area yang terdampak osteoarthritis.

Seiring berjalannya waktu, gejala osteoarthritis akan semakin parah, apalagi jika tidak segera ditangani. Maka dari itu, jangan sepelekan osteoarthritis kalau mau menikmati masa-masa tua.

Aktif bergerak, itu kuncinya

Menurut dr. Komang, gaya hidup zaman sekarang bisa mempercepat penuaan atau degeneratif. Apalagi jika tidak diimbangi dengan upaya menjaga kesehatan, seperti berolahraga dan aktif bergerak.

Kopi dan kebiasaan merokok adalah gaya hidup zaman sekarang yang sangat disayangkan dr. Komang. “Merokok itu mempercepat pengeroposan, sedangkan minum kopi berlebihan menyebabkan eksresi (pembuangan kalsium) lewat kencing lebih banyak. Jadi gaya hidup berpengaruh kepada kualitas tulang, sendi, dan otot," jelasnya.

Untuk mencegah proses degeneratif, ada baiknya menghindari kebiasaan gaya hidup zaman sekarang yang bisa merugikan Anda di masa depan. Selain itu, perbanyaklah gerak agar kualitas otot dan sendi di dalam tubuh "tahan lama".

“Yang terpenting adalah tetap bergerak dan tetap melakukan pekerjaan, asal jangan sampai terjatuh. Orang lanjut usia mudah terjatuh karena keseimbangannya sudah berkurang, dan kualitas tulang serta sendinya tidak sebagus saat masih muda,” jelasnya.

Berolahraga demi masa depan tanpa osteoporisis dan radang sendi

Olahraga untuk menghindari osteoporosis
Kebiasaan olahraga harus dimulai sejak usia muda

Olahraga adalah aktivitas fisik yang harus dilakukan sejak dini. Walau masih muda, janganlah bersantai ria tanpa memperhatikan kesehatan. Justru menurut dr. Komang, masa muda harus diisi dengan olahraga, agar masa tua tidak terserang osteoporosis dan osteoarthritis.

“Kalau bukan atlet atau nonprofesional, selalu saya sarankan ambil olahraganya yang low impact seperti bersepeda atau berenang,” tuturnya.

“Kita berjalan, bergerak, bekerja, semua sistem dalam tubuh akan tergerak. Itulah kenapa orang yang bekerja dengan aktivitas, sistem alat geraknya pasti jauh lebih bagus, dibandingkan dengan orang yang kerjanya duduk berjam-jam. Itu bisa mempengaruhi kualitas persendiannya.”

Penanganan penyakit degeneratif

Menangani penyakit degeneratif seperti osteoporosis dan ostearthritis tidak boleh sembarangan. Dibutuhkan pelayanan medis yang bisa memberikan hasil terbaik, guna meredakan gejala kedua penyakit itu.

Untuk menangani penyakit degeneratif, pertama-tama dokter harus memastikan dulu bahwa osteoporosis dan osteoarthritis diakibatkan oleh proses penuaan atau degeneratif, bukan karena penyakit lain.

“Karena keluhannya bisa sama, sakit pinggang dan beberapa keluhan lainnya. Cuma penyebabnya yang beda. Satu karena proses penuaan atau degenerasi, sedangkan yang satu karena penyakit lain. Karena sering pada orang-orang usia lanjut disertai dengan penyakit lain. Bisa infeksi atau kanker,” papar dr. Komang. 

Pemeriksaan tambahan seperti radiologi dan laboratorium biasanya dilakukan untuk mengetahui penyebab osteoporosis dan osteoarthritis.

“Jika sudah pernah dirawat, diobati, dan tidak kunjung membaik, maka diperlukan tindakan operasi. Tindakan operasi yang akan dilakukan disesuaikan dengan lokasinya di mana. Apakah di tulang atau sendinya? Perlu distabilkan atau tidak. Jika stabil tetapi ada penyempitan, biasanya kita pilih tindakan minimalis. Tapi kalau tulang atau sendinya tidak stabil, maka harus dilakukan tindakan stabilisasi.”

Menangani penyakit degeneratif, lebih dini lebih baik

Banyak lansia yang bertanya-tanya, kapan harus melakukan operasi untuk menangani penyakit degeneratif?

“Pertama, jika pengobatan dengan konsep tanpa operasi yang dilakukan gagal. Kedua, jika penyakit degeneratif itu disertai dengan gangguan fungsi, misalnya keluhan kencing, buang air besar, jempol atau kaki tidak bisa bergerak, itu harus operasi,” jelas dr. Komang.

Memang bukan perkara mudah dalam mengangani penyakit degeneratif dengan operasi, apalagi di bagian tulang belakang. Meski begitu, dengan teknologi canggih dan dokter ahli yang menangani, semuanya bisa diatasi.

“Jadi kita harus lihat dari hasil klinisnya apa, pemeriksaan radiologi, hasil laboratorium, sakitnya apa, baru kita customized, disesuaikan dengan kebutuhan pasien, karena alat yang dipasang atau alat yang digunakan berbeda antara pasien A, pasien B, pasien C ,” jelas dr. Komang.

“Orang sering keliru, takut operasi tulang belakang misalnya karena takut berisiko lumpuh dan macam-macam. Tidak perlu takut, jika memang itu harus dilakukan. Risiko selalu ada, tapi bagaimana meminimalkan risiko tersebut itu yang terpenting.”

Narasumber:
dr. Komang Agung Irianto Suryaningrat, Sp.OT(K)

Dokter Spesialis Orthopedi
RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya

Healthline. https://www.healthline.com/health/osteoarthritis
Diakses pada 21 Februari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968?page=0&citems=10
Diakses pada 21 Februari 2020

Artikel Terkait