logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Lansia

Mengenal Post Power Syndrome yang Kerap Dialami Lansia

open-summary

Post power syndrome biasanya terjadi pada orang-orang yang semasa masih bekerja memiliki jabatan tinggi atau pengaruh penting terhadap orang lain. Kehilangan 'power' tersebut lantas membuat mereka justru jadi merasa tidak nyaman.


close-summary

4.38

(13)

8 Nov 2019

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

post power syndrome

Berubah status menjadi pensiunan bisa menyebabkan seseorang mengalami post power syndrome

Table of Content

  • Apa itu post power syndrome?
  • Penyebab post power syndrome
  • Gejala post power syndrome
  • Gangguan akibat post power syndrome
  • Bagaimana cara menghadapi orang dengan post power syndrome?

Tidak ada masalah mental yang bisa dipandang sebelah mata, termasuk post power syndrome. Aktivitas mendadak berkurang, ditambah tidak lagi punya otoritas seperti sebelumnya, rentan membuat orang merasakan kondisi ini.

Advertisement

Post power syndrome kerap datang saat karir meredup atau usia mengharuskan seseorang pensiun. Itu sebabnya, sindrom yang satu ini kerap dialami oleh mereka yang sebelumnya aktif bekerja atau punya jabatan cukup tinggi di perusahaannya.

Apa itu post power syndrome?

Post power syndrome atau sindrom pascakekuasaan adalah kondisi ketika seseorang hidup tidak atau belum bisa menerima kehilangan kekuasaan yang pernah dimilikinya, seperti jabatan dalam pekerjaan. Itu sebabnya, gangguan psikologis ini kerap dialami oleh mereka yang memasuki masa purnatugas alias pensiun. 

Biasanya, orang yang mengalami  sindrom pascakekuasaan ini terbilang aktif dan memiliki pengaruh penting selama masih bekerja dulu. Tak heran, adanya perubahan dari bekerja menjadi tidak bekerja tersebut membuat mereka justru merasa tidak nyaman. Selain aktivitas dan 'power' yang hilang, sejumlah aspek lain turut berperan dalam memicu terjadinya kondisi yang juga dikenal sebagai retirement syndrome ini, seperti koneksi sosial hingga harta. 

Penyebab post power syndrome

post power syndrome
Post power syndrome rentan dialami lansia

Retirement syndrome  dapat dialami oleh siapa saja, namun orang-orang lanjut usia (lansia) menjadi kelompok yang paling rentan. Pasalnya, merekalah yang tidak seaktif dulu lagi karena memasuki masa pensiun

Penyebab post power syndrome pada lansia ini biasanya karena lansia tersebut semasa kerja memiliki jabatan yang tinggi atau pengaruh penting di masyarakat. Selain itu, sindrom ini sangat mungkin terjadi apabila lansia merupakan orang yang aktif, cenderung workaholic, haus akan pengakuan, ingin dihormati, ingin keinginannya selalu terpenuhi, dan suka mengatur orang lain.

Anggapan bahwa masa tua adalah hal yang 'menakutkan' juga bisa memicu lansia mengalami sindrom pascakekuasaan ini.

Terjadinya retirement syndrome ini pun tak lepas dari sejumlah faktor pendukung, antara lain sebagai berikut:

  • Lansia menguasai satu bidang pekerjaan saja, sehingga ia jadi merasa bingung ketika harus kehilangan pekerjaan tersebut
  • Khawatir akan sulit untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari setelah tidak lagi memiliki penghasilan
  • Merasa segala pencapaian yang pernah diraih akan hancur dan sia-sia akibat tidak lagi bekerja
  • Merasa tidak diakui lagi oleh orang-orang 
  • Takut orang lain yang pernah bekerja dengannya akan berbuat tidak baik kepadanya

Baca Juga

  • Songsong Tahun Baru dengan Jalani Refleksi Diri
  • 8 Ciri Predator Seks yang Perlu Anda Waspadai
  • Mirip dengan Gangguan Bipolar, Ketahui Apa itu Siklotimia

Gejala post power syndrome

Akar masalah dari sindrom ini adalah saat seseorang tidak siap menerima perubahan dalam dirinya. Bayang-bayang kekuasaan dan otoritas yang sebelumnya dimiliki masih melekat dan orang tersebut tidak bisa menerima perubahan dengan baik.

Beberapa gejala post power syndrome yang mungkin dialami oleh pengidapnya antara lain:

  • Mudah tersinggung
  • Pemarah
  • Tidak terima dibantah orang lain
  • Tidak mau kalah saat berdebat
  • Terus menerus menceritakan kondisinya saat masih berjaya
  • Menghindari bertemu dengan orang lain
  • Kerap menyerang pendapat orang lain
  • Selalu mencari cara untuk mengkritik orang lain
  • Merasa depresi
post power syndrome
Merasa depresi adalah salah satu gejala post power syndrome

Tidak heran, ketika seseorang mengalami beberapa gejala post power syndrome di atas karena perubahan yang mendadak. Biasanya, orang yang merasakan post power syndrome merasa perubahan antara dirinya yang memiliki jabatan dengan dirinya sudah pensiun tanpa pekerjaan terjadi terlalu cepat.

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin sindrom yang dijuluki sindrom pensiun ini menyebabkan seseorang mengalami penyakit lain seperti darah tinggi atau vertigo.

Gangguan akibat post power syndrome

Dari beberapa gejala di atas, sangat mungkin muncul gangguan pada diri yang bisa dibedakan menjadi:

  • Gangguan fisik: mudah jatuh sakit dan tampak tidak bersemangat melakukan aktivitas-aktivitas positif.
  • Gangguan emosional: sifat mudah tersinggung, pemarah, hingga tidak terima dikritik oleh orang lain.
  • Gangguan perilaku: gangguan yang muncul dalam bentuk sifat lebih pendiam atau justru tidak bisa berhenti berbicara tentang kehebatannya.

Mereka yang berada di sekitar orang dengan post power syndrome pasti tahu betul perubahan drastis ini. Seseorang yang semula menyenangkan saat masih menjabat mendadak memiliki sikap yang berubah drastis. 

Wajar pula jika orang-orang di sekitar merasa ikut tersinggung atau kesal dengan sikap dari lansia dengan sindrom geriatri ini. Namun, perlu diingat bahwa itu justru membuat situasi semakin runyam.i[o

Bagaimana cara menghadapi orang dengan post power syndrome?

Satu hal yang pasti saat menghadapi orang dengan post power syndrome, jangan langsung meninggalkannya sendiri. Orang dengan kondisi ini sedang berada dalam fase merasa diabaikan karena tidak lagi memiliki semua keistimewaan yang sebelumnya dimiliki.

Contoh sederhananya saja, kondisi yang semula bisa menyuruh siapa pun untuk melakukan apa yang diminta, menjadi tidak ada yang bisa disuruh-suruh. Jika biasanya orang bertemu dengan dirinya di kantor dan mengangguk hormat, tiba-tiba tidak ada yang berlaku demikian.

Bagi yang mendampingi orang dengan sindrom pasca kekuasaan, yang perlu dilakukan adalah:

  • Memaklumi sifatnya terutama jika perubahan baru berlangsung dalam hitungan hari atau minggu
  • Memberi kesibukan sehingga pikiran dan tenaga terdistraksi ke pikiran positif
  • Tetap jaga komunikasi tetap lancar dengan orang-orang sekitar, entah itu dengan berinteraksi langsung atau lewat bertukar pesan/telepon
  • Meminta saran dari pihak ketiga yang lebih paham situasi tersebut (dengan persetujuan pihak yang mengalami post power syndrome)
  • Siap mendengar cerita sehingga orang dengan post power syndrome tidak menyimpan masalahnya sendiri
  • Ajak berolahraga ringan atau bergabung dengan komunitas baru
  • Semakin dekat dengan aktivitas keagamaan sehingga pikiran tidak “kosong”
post power syndrome
Ajak lansia untuk mencari kesibukan agar pikirannya terdistraksi dengan hal-hal yang lebih positif

Pendekatan yang bisa dilakukan untuk merangkul orang dengan post power syndrome tentu berbeda satu dan lain. Orang-orang terdekat seperti keluarga inti, kerabat, atau sahabat tentu tahu apa yang perlu dilakukan seiring dengan berjalannya waktu.

Intinya satu: tetap temani lansia yang mengalami sindrom dan jangan tinggalkan mereka sendiri. Bagaimanapun, mereka adalah orang yang pernah berjasa untuk hidup mereka di sekitarnya.

Punya pertanyaan seputar kesehatan lansia? Anda bisa chat langsung dengan dokter untuk tahu jawabannya melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasi SehatQ di App Store dan Google Play sekarang juga. 

Advertisement

gangguan mentalkesehatan mentalgangguan lansialansiakesehatan lansia

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved