Orang Terdekat Anda Alami Post Power Syndrome? Rangkul dengan Cara Ini

Saat karir meredup dan akhirnya pensiun, seseorang rentan mengalami post power syndrome
Berubah status menjadi pensiunan bisa menyebabkan seseorang mengalami post power syndrome

Tidak ada gejala masalah mental yang bisa dipandang sebelah mata, termasuk urusan post power syndrome yang kerap dirasakan orang yang memasuki masa purnatugas. Aktivitas mendadak berkurang, ditambah tidak lagi punya otoritas seperti sebelumnya rentan membuat orang merasakan post power syndrome.

Post power syndrome kerap datang saat karir meredup atau usia mengharuskan seseorang pensiun. Itu sebabnya, sindrom yang satu ini kerap dialami oleh mereka yang sebelumnya aktif bekerja atau punya jabatan cukup tinggi di perusahaannya.

Gejala post power syndrome

Akar masalah dari post power syndrome adalah saat seseorang tidak siap menerima perubahan dalam dirinya. Bayang-bayang kekuasaan dan otoritas yang sebelumnya dimiliki masih melekat dan orang tersebut tidak bisa menerima perubahan dengan baik.

Beberapa gejala yang terjadi ketika seseorang mengalami post power syndrome di antaranya:

  • Mudah tersinggung
  • Pemarah
  • Tidak terima dibantah orang lain
  • Tidak mau kalah saat berdebat
  • Terus menerus menceritakan kondisinya saat masih berjaya
  • Menghindari bertemu dengan orang lain
  • Kerap menyerang pendapat orang lain
  • Selalu mencari cara untuk mengkritik orang lain
  • Merasa depresi

Tidak heran ketika seseorang mengalami beberapa gejala post power syndrome di atas karena perubahan yang mendadak. Biasanya, orang yang merasakan post power syndrome merasa perubahan antara dirinya yang memiliki jabatan dengan dirinya sudah pensiun tanpa pekerjaan terjadi terlalu cepat.

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin sindrom yang dijuluki sindrom pensiun ini menyebabkan seseorang mengalami penyakit lain seperti darah tinggi atau vertigo.

Gangguan akibat post power syndrome

Dari beberapa gejala di atas, sangat mungkin muncul gangguan pada diri yang bisa dibedakan menjadi:

  • Gangguan fisik: mudah jatuh sakit dan tampak tidak bersemangat melakukan aktivitas-aktivitas positif.
  • Gangguan emosional: sifat mudah tersinggung, pemarah, hingga tidak terima dikritik oleh orang lain.
  • Gangguan perilaku: gangguan yang muncul dalam bentuk sifat lebih pendiam atau justru tidak bisa berhenti berbicara tentang kehebatannya.

Mereka yang berada di sekitar orang dengan post power syndrome pasti tahu betul perubahan drastis ini. Seseorang yang semula menyenangkan saat masih menjabat mendadak memiliki sikap yang berubah drastis. 

Wajar pula jika orang-orang di sekitar merasa ikut tersinggung atau kesal dengan sikap dari orang dengan post power syndrome. Namun perlu diingat bahwa itu justru membuat situasi semakin runyam.

Menghadapi orang dengan post power syndrome

Satu hal yang pasti, saat menghadapi orang dengan post power syndrome, jangan langsung meninggalkannya sendiri. Orang dengan post power syndrome sedang berada dalam fase merasa diabaikan karena tidak lagi memiliki semua keistimewaan yang sebelumnya dimiliki.

Contoh sederhana saja, kondisi yang semula bisa menyuruh siapa pun untuk melakukan apa yang diminta, menjadi tidak ada yang bisa disuruh-suruh. Jika biasanya orang bertemu dengan dirinya di kantor dan mengangguk hormat, tiba-tiba tidak ada yang berlaku demikian.

Bagi yang mendampingi orang dengan post power syndrome, yang perlu dilakukan adalah:

  • Memaklumi sifatnya terutama jika perubahan baru berlangsung dalam hitungan hari atau minggu
  • Memberi kesibukan sehingga pikiran dan tenaga terdistraksi ke hal lebih positif
  • Tetap jaga komunikasi tetap lancar dengan orang-orang sekitar, entah itu dengan berinteraksi langsung atau lewat bertukar pesan/telepon
  • Meminta saran dari pihak ketiga yang lebih paham situasi tersebut (dengan persetujuan pihak yang mengalami post power syndrome)
  • Siap mendengar cerita sehingga orang dengan post power syndrome tidak menyimpan masalahnya sendiri
  • Ajak berolahraga ringan atau bergabung dengan komunitas baru
  • Semakin dekat dengan aktivitas keagamaan sehingga pikiran tidak “kosong”

Pendekatan yang bisa dilakukan untuk merangkul orang dengan post power syndrome tentu berbeda satu dan lain. Orang-orang terdekat seperti keluarga inti, kerabat, atau sahabat tentu tahu apa yang perlu dilakukan seiring dengan berjalannya waktu.

Intinya satu: tetap temani orang dengan post power syndrome dan jangan tinggalkan mereka sendiri. Bagaimanapun, mereka adalah orang yang pernah berjasa untuk hidup mereka di sekitarnya.

Kementerian Sosial RI. https://kemsos.go.id/menghadapi-post-power-syndrome
Diakses 4 November 2019

Kementerian Kesehatan RI. http://yankes.kemkes.go.id/read-postpower-syndrome-5675.html
Diakses 4 November 2019

Universitas Indonesia. https://www.ui.ac.id/post-power-syndrome-sindrom-yang-sering-dialami-seseorang-ketika-masuk-ke-masa-pensiun/
Diakses 4 November 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed