Optimalkan Kecerdasan Anak dengan Memahami Plastisitas Otak

Plastisitas otak, jika dimaksimalkan, bisa membantu mengoptimalkan kecerdasan anak
Memahami tentang plastisitas otak anak, penting untuk memaksimalkan kecerdasan anak

Jika bicara masalah kecerdasan anak, kita harus samakan dulu persepsinya. Seperti apa anak yang dianggap cerdas? Pintar dalam hal matematika? Atau pandai di bidang teknologi?

Kecerdasan ada macam-macam jenisnya. Ada anak yang pandai melukis, ada anak yang pandai bermain musik, ada anak yang pandai berhitung, ada juga anak yang pandai olahraga. Dari semua itu, mana yang paling cerdas? Tidak ada. Semua sama-sama cerdas.

Albert Einstein tidak lebih cerdas dari Jack Ma. Jack Ma pun tidak lebih cerdas dari Michael Jackson. Michael Jackson, tidak lebih cerdas dari Albert Einstein. Mereka sama-sama cerdas, hanya saja, dalam bidang yang berbeda.

Manfaatkan plastisitas otak, untuk maksimalkan potensi anak

anak tunjuk tangan
Semakin banyak sambungan sel-sel saraf yang ada di otak, maka anak semakin cerdas

Saat saya ditanya, bagaimana caranya agar anak bisa pintar dan cerdas? Saya selalu ajukan pertanyaan di atas terlebih dahulu. Selanjutnya, saya perkenalkan konsep plastisitas otak.

Konsep plastisitas otak erat kaitannya dengan prinsip otak dan prinsip belajar. Sesuai dengan namanya, plastis, konsep plastisitas otak menjelaskan bahwa otak manusia adalah organ yang lentur, dan bisa terus berkembang, selama masih terus distimulasi.

Saat otak distimulasi, maka neuron-neuron atau sel saraf yang ada di dalamnya, akan tersambung satu sama lain. Semakin banyak sambungan neuron, maka anak juga akan semakin cerdas.

Lantas, pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar sel saraf itu bisa terus tersambung? Selain stimulasi, ada juga faktor asupan gizi dan pengalaman yang dirasakan anak.

Kecerdasan anak bisa distimulasi sejak dini

belajar kelompok
Kegiatan seperti belajar dan bermain bisa stimulasi kecerdasan anak

Plastisitas otak tidak hanya ada pada anak-anak. Kemampuan otak ini akan terus ada hingga kita dewasa, bahkan tua. Jadi, tidak benar jika ada anggapan bahwa saat memasuki usia tertentu, kita akan sulit untuk mempelajari hal baru.

Meski begitu, pada usia-usia tertentu, plastisitas otak akan mencapai puncaknya. Usia tersebut adalah di 1.000 hari pertama kehidupan. Seribu hari pertama kehidupan ini dihitung sejak bayi berada di dalam kandungan.

Pada kondisi terbaiknya, otak berada dalam keadaan paling “lentur” dan paling mudah dilatih.

Lalu, setelah melewati 1.000 hari pertama kehidupan, puncak plastisitas otak akan kembali terjadi pada usia enam tahun kehidupan. Namun ketika memasuki usia 14 tahun, secara alami, otak akan meruntuhkan neuron-neuron yang tidak pernah terstimulasi.

Agar neuron di otak Si Kecil bisa terus terstimulasi, Anda disarankan untuk memastikan anak melakukan aktivitas seperti bermain, belajar, membaca, dan berinteraksi dengan orang lain.

Belajar yang paling efektif adalah belajar dengan melibatkan berbagai indra di tubuh. Yaitu, belajar sambil melatih indra sentuhan, pendengaran, pergerakan tubuh, atau bahkan penciuman.

Stimulasi bisa dilakukan di mana saja, baik di rumah maupun di sekolah. Karena itu, peran orangtua dalam membangun kecerdasan anak sangatlah besar.

Ingat, neuron juga bisa saling tersambung apabila anak memiliki pengalaman yang beragam.

Karena itu, biarkan anak mencoba berbagai hal yang ia inginkan, selama ia merasa senang dan tentunya, tidak membahayakan. Biarkan ia mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berharga.

Bayangkan jika hingga usia 14 tahun, otak anak tidak pernah terstimulasi. Maka, sambungan neuron yang ada di otaknya pun sebagian besar akan diruntuhkan secara alami.

Padahal, anak yang cerdas adalah anak yang memiliki banyak sambungan neuron di otaknya.

Plastisitas otak juga bisa terstimulasi hal negatif

anak bad mood
Stimulasi negatif menyebabkan anak jadi terbiasa melakukan perilaku yang negatif pula

Sambungan sel saraf di otak, bisa dibayangkan seperti persimpangan jalan yang bercabang. Ada jalan yang belok ke kiri, ada jalan yang belok ke kanan. Ibaratnya, jalan yang belok ke kiri adalah jalan yang negatif, dan jalan yang belok ke kanan adalah jalan yang positif.

Saat otak terbiasa distimulasi untuk melakukan hal-hal yang positif, seperti membaca buku, bangun bagi, lalu olahraga, dan sarapan dengan makanan yang sehat dan bergizi, hal ini akan menjadi suatu pola, suatu kebiasaan. Sehingga, jalan yang belok ke kanan akan terus dilalui.

Lalu, jika yang digunakan terus-menerus adalah jalan yang belok kanan, apa yang akan terjadi dengan jalan yang belok kiri? Jalan tersebut akan ditutup karena tidak pernah digunakan.

Neuron yang merupakan jalan yang belok ke kiri, akan diruntuhkan secara alami, karena tidak pernah distimulasi. Sehingga, stimulasi positif di atas, yang akan terus dilakukan karena telah menjadi suatu kebiasaan.

Tapi, Anda juga perlu hati-hati, karena konsep ini juga berlaku sebaliknya.

Jika anak dibiarkan terus menjalani stimulasi negatif, seperti dibiarkan bangun siang, menjadi pemalas, terbiasa terlambat, terbiasa menunda pekerjaan, maka hal-hal tersebut yang akan menjadi pola dan kebiasaannya.

Pada kasus ini, jalan yang belok ke kiri yang akan selalu ada, sedangkan jalan yang belok ke kanan, akan ditutup karena tidak pernah distimulasi.

Tentu, kebiasaan baru selalu bisa dibuat. Selama dilakukan dengan konsisten, maka jalan baru akan terbentuk, dan neuron akan kembali tersambung.

Penulis:

Hanlie Muliani, M.Psi
Psikolog Klinik SOA - Parenting & Education

Artikel Terkait

Banner Telemed