Hernia dapat diatasi dengan melakukan operasi hernia
Operasi terbuka maupun laparoskopi, bisa menjadi pilihan untuk mengatasi hernia.

Hernia atau turun berok terjadi ketika organ dalam tubuh mendorong, atau menekan jaringan otot, maupun jaringan ikat yang melemah. Misalnya, turunnya usus melalui jaringan otot atau  jaringan ikat yang melemah di lapisan dinding perut.

Seringkali, hernia terjadi di daerah perut. Namun, hernia juga dapat terjadi di daerah paha atas, pusar, diafragma, dan selangkangan. Penyakit hernia bisa dibilang tidak mengancam jiwa. Meski demikian, hernia tidak dapat hilang dengan sendirinya.

Langkah-langkah untuk Mengatasi Hernia

Perubahan pola makan, latihan olahraga khusus, dan konsumsi obat dapat mengatasi, atau mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan oleh hernia. Namun, untuk menghilangkan dan mencegah komplikasi lanjut dari hernia, tindakan bedah atau operasi mutlak diperlukan.

Pemilihan tindakan operasi hernia didasarkan pada beberapa faktor, seperti riwayat operasi sebelumnya, ukuran hernia, kondisi umum pasien, dan komplikasi yang sudah terjadi. Ada dua jenis operasi untuk mengatasi hernia, yaitu operasi terbuka dan bedah minimal invasive hernia (laparoskopi).

1. Operasi Terbuka Hernia

Operasi terbuka dilakukan dengan membuat sayatan pada dinding perut, dan menggunakan bius total. Melalui sayatan ini, dokter bedah dapat mengidentifikasi atau menemukan kantong hernia yang menyebabkan masalah. Setelah kantung hernia ditemukan, dokter bedah akan mengembalikan kantung hernia ke posisi yang benar, dan memperkuat dinding perut yang lemah dengan menggunakan jahitan, atau jala sintetis (synthetic mesh).

Operasi terbuka membutuhkan proses pemulihan yang lebih lama, dibandingkan laparoskopi. Aktivitas berat dan olahraga tidak dianjurkan selama empat hingga enam minggu setelah operasi. Nyeri pada operasi terbuka akan terasa, dan biasanya dokter akan meresepkan obat antinyeri untuk mengatasinya.

2. Laparoskopi (Bedah Minimal Invasif) Hernia

Laparoskopi (bedah minimal invasif) pada hernia dilakukan dengan menggunakan alat berbentuk tabung yang dinamakan laparaskop. Alat ini dimasukkan ke dalam sayatan kecil yang dibuat di dinding perut. Pembiusan secara total diperlukan juga pada prosedur laparaskopi, sama halnya dengan operasi terbuka.

Alat laparoskop dihubungkan dengan video kamera yang dapat memproyeksikan gambar di dalam dinding perut, dan terhubung dengan monitor di ruang operasi. Untuk mempermudah dan memperjelas isi dinding perut, gas karbon dioksida (CO2) dapat digunakan untuk menggembungkan perut. Selanjutnya, identifikasi dan reposisi kantong hernia dilakukan.

Kemudian, dokter akan memperkuat dinding perut yang lemah, dengan jala sintetis. Setelah semua prosedur terlaksana, luka sayatan kecil dapat ditutup dengan satu hingga dua jahitan.

Bekas jahitan ini akan memudar dalam hitungan bulan. Tindakan laparoskopi ini hanya menimbulkan sedikit nyeri setelah operasi, dibandingkan dengan operasi terbuka. Selain itu, pasien laparoskopi pun lebih cepat pulih, daripada individu yang menjalani operasi terbuka.

Operasi Hernia Aman Dilakukan

Meskipun terlihat lebih sederhana dibandingkan dengan operasi terbuka, tidak semua kasus hernia dapat ditangani dengan tindakan laparoskopi. Misalnya, hernia yang terlalu besar, atau adanya infeksi di dalam perut, membutuhkan operasi terbuka. Begitu juga dengan hernia yang terjadi akibat usus turun ke skrotum. Dalam kasus tersebut, laparoskopi tidak dianjurkan.

Baik operasi terbuka maupun laparoskopi, bisa dikatakan sebagai tindakan yang aman. Namun, tetap ada risiko komplikasi dari kedua tindakan medis tersebut. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain infeksi pascaoperasi, hernia berulang, gumpalan darah, nyeri kronis (menahun), serta kerusakan saraf tertentu.

Healthline. https://www.healthline.com/health/hernia
Diakses pada 16 April 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17967-hernia-repair-surgery
Diakses pada 16 April 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed