Mengenal Jenis, Risiko, dan Komplikasi dari Operasi Prostat

09 Mei 2019 | Oleh
Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari
Operasi prostat merupakan salah satu penanganan kanker prostat pada stadium awal
Ada beberapa pilihan operasi prostat yang dapat dilakukan.

Kanker prostat merupakan salah satu kanker yang paling sering dialami oleh pria. Pada stadium awal, operasi prostat dapat dilakukan sebagai salah satu tindakan penanganan kanker ini. Operasi dilakukan pada kanker yang belum menyebar ke organ lain di luar kelenjar prostat. Selain itu, pada kondisi perbesaran prostat jinak atau benign prostat hyperplasia (BPH), tindakan operasi juga bisa dijalani.

Operasi prostat yang biasanya dilakukan adalah prostatektomi, yaitu pengangkatan sebagian atau seluruh bagian prostat. Pada kanker prostat, operasi bertujuan untuk membuang jaringan kanker, sedangkan pada BPH, operasi dilakukan untuk membuang jaringan prostat dan mengembalikan fungsi buang air kecil dengan normal.

Jenis Operasi Prostat

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, operasi radikal prostatektomi merupakan operasi yang umumnya dilakukan. Pada jenis operasi ini, seluruh kelenjar prostat dan jaringan di sekitarnya akan diangkat, termasuk vesikel seminalis juga ikut mengalami pengangkatan. Operasi radikal prostatektomi ini dapat dilakukan secara retropubik (melalui sayatan di bawah pusar), atau perineal (melalui sayatan di antara rektum dan skrotum).

Selain melakukan operasi secara terbuka, kemajuan teknologi memungkinkan operasi dilakukan secara minimal invasif dengan laparoskopik. Kelebihan operasi tipe ini terletak pada sayatan operasi yang kecil sehingga masa penyembuhan akan lebih cepat dan nyeri yang dialami lebih ringan.

Untuk memperlancar buang air kecil akibat BPH, pasien bisa menjalani operasi prostat dengan laser untuk memotong kelenjar prostat tanpa sayatan, endoskopik (dengan alat yang dimasukkan lewat ujung penis). Operasi yang umum dilakukan pada pasien dengan BPH adalah operasi pelebaran saluran buang air kecil (uretra) yang dikenal dengan Transuretrhal Resection of The Prostate (TURP). Operasi ini memotong bagian prostat yang membesar. Potongan akan masuk ke kandung kemih kemudian akan dialirkan keluar pada akhir prosedur.

Risiko Operasi Prostat

Dalam setiap operasi, pasti ada risiko yang mungkin terjadi pada pasien. Risiko yang dapat dialami dalam operasi prostat, yaitu efek obat anestesi, perdarahan, infeksi luka operasi, dan gumpalan darah (thrombus) pada kaki atau paru-paru. Apabila operasi prostat disertai pengangkatan kelenjar limfe di sekitarnya, kondisi limfokele bisa terjadi akibat akumulasi cairan limfe dan perlu dilakukan drainase.

Risiko yang jarang tetapi bisa terjadi saat operasi prostat adalah cedera pada usus. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi pada perut dan mungkin memerlukan operasi tambahan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Cedera yang terjadi pada usus lebih sering terjadi pada operasi laparoskopi dibandingkan dengan operasi terbuka.

Risiko terburuk yang dapat terjadi adalah kematian akibat komplikasi dari operasi. Hal ini bergantung pada berbagai hal, seperti kondisi kesehatan secara umum, usia, dan kemampuan tim operasi. Meski demikian, kondisi ini sangat jarang terjadi pada operasi prostat.

Komplikasi Pasca Operasi Prostat

Operasi prostat, baik akibat kanker prostat maupun pembesaran prostat, bisa mengakibatkan efek samping. Dua efek samping utama yang berpotensi terjadi pasca operasi, antara lain:

1. Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine diartikan sebagai kondisi ketika seseorang tidak dapat menahan buang air kecil. Kondisi ini dapat terjadi dalam berbagai tingkat keparahan dan dapat menganggu penderitanya, baik secara fisik maupun emosional dan sosial.

Inkontinensia urine dapat terjadi akibat stres, ketika batuk, tertawa, bersin, atau melakukan aktivitas fisik. Inkontinensia urine akibat stres merupakan komplikasi yang paling sering terjadi setelah operasi prostat. Hal ini dikarenakan gangguan pada katup yang menahan urine di kandung kemih. Selain itu, gangguan menuntaskan berkemih akibat penyempitan saluran kemih karena luka operasi juga bisa timbul.

2. Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi atau impotensi merupakan salah satu komplikasi yang mungkin muncul pasca operasi prostat. Ereksi dikontrol oleh dua saraf yang berjalan melewati kedua sisi kelenjar prostat. Apabila sebelum operasi Anda memiliki fungsi ereksi yang baik, dokter akan mencoba melakukan pendekatan nerve sparing, yaitu pemotongan sebagian prostat tanpa mengangkat saraf.

Akan tetapi, pada kondisi kanker prostat yang tumbuh sampai ke saraf atau berada pada lokasi yang sangat berdekatan, pendekatan ini tidak dapat dilakukan. Dokter akan melakukan pengangkatan kedua saraf sehingga Anda tidak dapat mengalami ereksi spontan. Bila hanya satu sisi saraf yang terangkat, Anda masih memiliki kemungkinan mengalami ereksi.

Munculnya disfungsi ereksi setelah operasi prostat bergantung pada kemampuan ereksi sebelumnya, usia, dan kondisi kesehatan. Setelah operasi, masa pemulihan dibutuhkan agar bisa kembali ereksi. Masa pemulihan dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga 2 tahun tergantung dari kondisi masing-masing.

Selain kedua hal di atas, komplikasi lainnya yang dapat terjadi, yaitu perubahan orgasme, infertilitas pada radikal prostatektomi, limfedema atau pembesaran saluran getah bening dan hernia inguinal. Apabila Anda mengalami gejala komplikasi setelah melakukan operasi prostat, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Referensi

Cancer.org. https://www.cancer.org/cancer/prostate-cancer/treating/surgery.html
Diakses pada Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/prostate-surgery
Diakses pada Mei 2019

Yang juga penting untuk Anda
Baca Juga
Diskusi Terkait:
Lihat pertanyaan lainnya
Back to Top