Memahami Manfaat dan Risiko Komplikasi Operasi Hipospadia

Operasi hipospadia memiliki manfaat namun dapat terjadi juga risiko komplikasi
Operasi hipospadia memiliki banyak manfaat.

Hipospadia merupakan kelainan sejak lahir di mana muara uretra (saluran yang mengalirkan urine keluar dari kandung kemih) tidak berada pada ujung penis. Operasi hipospadia bertujuan untuk memperbaiki kelainan tersebut. Pada hipospadia, muara uretra tidak terletak pada ujung penis, melainkan berakhir pada sisi bawah penis. Muara ini bisa berada di dekat ujung penis, tengah, maupun dekat skrotum.

Hipospadia dapat diidentifikasi sejak lahir. Operasi perbaikan hipospadia dapat dilakukan pada semua usia. Umumnya, operasi hipospadia dilakukan pada saat anak berusia antara 6 bulan hingga 2 tahun. Operasi dapat dilakukan rawat jalan sehingga anak tidak perlu menginap di rumah sakit.

Mengapa Perlu Dilakukan Operasi Hipospadia?

Operasi hipospadia bertujuan untuk membentuk (memperpanjang) uretra, mendapatkan kondisi penis yang lurus, dan membuat lubang uretra di ujung penis dengan ukuran yang sesuai.

Banyak operasi hipospadia bergantung pada keparahan yang terjadi. Hipospadia ringan dapat diperbaiki dalam satu operasi. Pada kasus yang berat, di mana muara uretra pada bagian tengah dan dekat skrotum, diperlukan dua atau lebih tindakan operasi.

Operasi dilakukan dengan mengambil sebagian kulit luar atau jaringan dari area lain untuk membentuk tabung. Tabung ini akan memperpanjang uretra sehingga ujung uretra dapat berada pada ujung penis. Bayi yang lahir dengan hipospadia sebaiknya tidak disunat pada saat lahir. Kulit lebih yang dipotong saat sunat dibutuhkan untuk memperbaiki saluran uretra saat operasi.

Saat ini, terdapat berbagai metode yang digunakan pada operasi hipospadia, antara lain ortoplasti (meluruskan penis), uretroplasti (memperpanjang uretra), meatoplasti (membuat lubang uretra baru dan rekonstruksi ujung penis), dan skrotoplasti (memperbaiki skrotum). Metode-metode ini disesuaikan dengan jenis hipospadia yang dialami oleh masing-masing anak.

Operasi hipospadia penting untuk dilakukan karena tanpa operasi dapat terjadi masalah dikemudian hari, seperti:

  • Kesulitan mengontrol dan mengarahkan pancaran urine
  • Penis melengkung saat ereksi
  • Penurunan kesuburan hingga kemandulan
  • Rasa malu terhadap penampilan penis

Operasi mungkin tidak diperlukan apabila hipospadia yang diderita tergolong sangat ringan dan tidak menyebabkan gangguan buang air kecil, fungsi seksual, dan deposit semen (air mani).

Komplikasi Apa yang Dapat Terjadi Setelah Operasi Hipospadia?

Komplikasi pascaoperasi hipospadia dapat ditemukan dalam beberapa bulan pertama setelah operasi. Namun, tetap diperlukan follow-up jangka panjang karena ada gejala komplikasi yang bisa timbul dalam waktu lama setelah operasi. Contohnya adalah fistula uretra, yaitu keadaan di mana terbentuk lubang yang menyebabkan urine bocor keluar. Kondisi penis melengkung akibat hipospadia juga dapat kembali terjadi pada masa pubertas.

Risiko komplikasi lainnya akibat prosedur operasi hipospadia, yaitu hematoma (gumpalan darah yang besar), penyempitan pada uretra, masalah kosmetik (kulit berlebih atau bekas luka), gangguan pancaran urine dan gejala iritatif, serta disfungsi ereksi.

Operasi hipospadia dapat menyebabkan komplikasi akibat pasokan pembuluh darah yang buruk, terbentuknya jaringan parut, kerusakan jaringan yang digunakan untuk perbaikan hipospadia, dan kegagalan melakukan rekonstruksi sehingga jaringan asli serta jaringan tambahan tidak menyatu sempurna.

Gejala yang dapat ditemukan pada komplikasi operasi hipospadia, antara lain:

  • Pancaran urine yang lemah
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Nyeri pada testis kanan maupun kiri, atau pada pinggang belakang
  • Terdapat gumpalan atau bagian yang keras pada penis
  • Tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual
  • Infeksi saluran kemih

Jika terjadi komplikasi, diperlukan operasi tambahan. Operasi dilakukan dalam 4--6 bulan setelah penyembuhan luka operasi sebelumnya, kecuali pada kondisi penyempitan uretra. Kondisi ini perlu mendapat penanganan lebih awal.

Setelah menjalani operasi hipospadia, penis anak akan tampak sama seperti keadaan normal dan dapat berfungsi baik.

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/003000.htm
Diakses pada Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypospadias/symptoms-causes/syc-20355148
Diakses pada Mei 2019

Bhat A. General considerations in hypospadias surgery. Indian J Urol. 2008;24(2):188–94.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/15991-hypospadias-repair
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed