Latihan Pernapasan, Olahraga untuk PPOK yang Paling Aman dan Bermanfaat


Kondisi penyakit paru obstruktif kronis berpengaruh terhadap kemampuan penderitanya untuk bernapas secara normal. Meski demikian, ada beberapa olahraga untuk PPOK yang aman dilakukan, seperti latihan pernapasan.

0,0
25 Jun 2021|Azelia Trifiana
Latiha n pernapasan untuk penderita PPOKLatihan pernapasan dapat membantu mereka yang mengalami PPOK
Kondisi penyakit paru obstruktif kronis berpengaruh terhadap kemampuan penderitanya untuk bernapas secara normal. Meski demikian, ada beberapa olahraga untuk PPOK yang tetap aman dilakukan secara rutin. Jenis olahraga pernapasan adalah yang paling cocok untuk pasien paru kronis.Namun tentu setiap pasien PPOK memiliki kemampuan tubuh berbeda saat sedang berolahraga. Tetap dengarkan sinyal dari tubuh dan konsultasikan pada ahlinya sebelum berolahraga.

Olahraga untuk penderita paru obstruktif kronis

Gejala-gejala penderita paru obstruktif kronis biasanya merasa dada sesak, napas tersengal-sengal, mengi, serta penumpukan lendir di paru-paru.Salah satu cara mencegah PPOK menjadi semakin buruk adalah dengan melakukan olahraga pernapasan. Apa saja jenisnya?

1. Teknik pernapasan bibir mengerucut

Disebut juga dengan pursed lip breathing, teknik ini aman dilakukan 4-5 kali setiap harinya. Manfaatnya banyak, mulai dari memudahkan bernapas, membebaskan udara yang terperangkap di paru-paru, media relaksasi, serta mengurangi gejala sesak napas.Cara melakukannya adalah:
  • Tarik napas lewat hidung selama 2 hitungan
  • Kerucutkan bibir seperti akan meniup lilin
  • Perlahan hembuskan napas selama 4 hitungan
Proses menghembuskan napas harus dilakukan selama perlahan, jangan dihembuskan paksa. Olahraga pernapasan yang satu ini sangat cocok  dilakukan ketika pasien paru kronis sedang melakukan aktivitas berat seperti naik tangga.

2. Pernapasan terkoordinasi

Ketika gejala sesak napas muncul, tentu pasien paru kronis akan merasa panik dan refleks menahan napas. Untuk mencegah hal ini terjadi, olahraga untuk PPOK yang direkomendasikan adalah melakukan pernapasan terkoordinasi.Berikut tahapannya:
  • Tarik napas lewat hidung sebelum mulai beraktivitas fisik
  • Sembari mengerucutkan bibir, buang napas lewat mulut ketika intensitas aktivitas sedang tinggi-tingginya
Teknik inilah yang terkoordinasi, yaitu fokus menghembuskan napas ketika sedang melakukan bagian berat dari sebuah gerakan. Selain itu, coordinated breathing juga bisa dilakukan saat sedang merasa cemas karena napas terasa sesak.

3. Pernapasan dalam

Manfaat paling utama dari deep breathing adalah mencegah terperangkapnya udara di paru-paru. Ketika ini terjadi, maka pasien paru kronis rentan mengalami sesak napas. Tak hanya itu, teknik ini juga membantu memasukkan udara segar sebanyak-banyaknya.Berikut langkah untuk melakukannya:
  • Berdiri atau duduk dengan posisi kedua siku sedikit ke belakang sehingga dada bisa sedikit membusung
  • Tarik napas dalam lewat hidung
  • Tahan napas selama 5 hitungan
  • Hembuskan napas secara perlahan lewat hidung hingga terasa tak ada lagi udara di paru-paru
Kombinasikan deep breathing ini dengan olahraga pernapasan lain yang hanya perlu waktu 10 menit untuk menuntaskannya. Idealnya, teknik ini bisa dicoba 3-4 kali sehari.

4. Huff cough

Bagi pasien paru kronis yang punya keluhan penumpukan lendir di paru-paru, teknik huff cough bisa jadi teknik pernapasan yang tepat. Tujuan dari olahraga ini adalah mengeluarkan lendir secara efektif tanpa membuat pasien merasa kelelahan.Begini tahapannya:
  • Duduk dalam posisi nyaman
  • Tarik napas panjang lewat hidung
  • Aktifkan otot-otot perut untuk menghembuskan udara dalam 3-7 napas
  • Di saat yang sama, buat suara “ha, ha, ha” seperti sedang menghembuskan napas ke kaca dan membuatnya berembun
Berbeda dengan batuk biasa, huff cough tidak akan membuat pasien merasa kelelahan. Ini penting agar tidak merasa terbebani saat berusaha mengeluarkan akumulasi lendir.

5. Pernapasan diafragma

Ketika seseorang bernapas, otot yang berperan penting adalah diafragma. Sementara pada pasien paru kronis, mereka cenderung menggunakan otot-otot di leher, pundak, dan juga punggung.Padahal, bernapas dengan otot diafragma membantu melatih otot agar bekerja lebih efektif. Begini caranya:
  • Ketika duduk atau berbaring, pastikan pundak berada dalam kondisi rileks
  • Letakkan satu tangan di dada, tangan lain di perut
  • Tarik napas lewat hidung selama 2 detik, rasakan perut mengembang
  • Di saat yang sama, idealnya dada tidak terlalu mengembang dibandingkan dengan perut
  • Kerucutkan bibir dan perlahan hembuskan napas lewat mulut sembari tekan sedikit perut agar diafragma bisa maksimal mengeluarkan udara
Dibandingkan dengan 4 latihan untuk PPOK lainnya, teknik ini sedikit lebih rumit. Jadi, ada baiknya memulai perlahan hingga terbiasa sebelum melakukannya secara rutin.

Catatan dari SehatQ

Pasien paru kronis yang rutin melakukan olahraga untuk PPOK akan memiliki kapasitas aktivitas fisik lebih optimal. Bahkan, kemungkinan mengalami sesak napas juga jauh berkurang. Dengan demikian, kualitas hidup pun akan meningkat.Apabila masih ragu dengan cara melakukan olahraga pernapasan di atas, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
penyakit paru-paruppoksaluran pernapasan
Healthline. https://www.healthline.com/health/copd/breathing-exercises#1-pursed-lip-breathing
Diakses pada 11 Juni 2021
American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2014/0101/p15.html
Diakses pada 11 Juni 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/9443-pursed-lip-breathing
Diakses pada 11 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait