3 Olahraga Ini Berpotensi Menjadi Penyebab Gegar Otak

22 Apr 2019 | Oleh Giovanni Jessica
Olahraga merupakan salah satu penyebab utama gegar otak setelah kecelakaan
Gegar otak dapat disebabkan karena kontak fisik dalam olahraga

Gegar otak dapat terjadi akibat berbagai hal yang menyebabkan benturan di kepala. Benturan tersebut dapat berupa benturan langsung pada kepala, wajah, leher, atau bagian tubuh lain dengan transmisi impuls menuju kepala.  

Otak merupakan salah satu organ tubuh manusia yang paling kompleks. Setiap bagian dari otak memiliki fungsi masing-masing. Secara garis besar, otak dibagi menjadi lobus frontal, temporal, parietal, oksipital, serebelum, dan batang otak. Cedera pada bagian otak yang berbeda akan menghasilkan gejala yang berbeda pula. Contohnya, cedera pada bagian frontal mengakibatkan gangguan emosi, impuls, dan perilaku, sedangkan cedera pada bagian oksipital mengakibatkan gangguan penglihatan.

Gegar otak dapat terjadi pada semua usia. Usia remaja merupakan kelompok yang paling rentan terhadap gegar otak, terutama pada remaja yang aktif dalam olahraga dengan kontak fisik. Pada usia lebih lanjut, gegar otak menjadi sulit diketahui apabila Anda tidak memperhatikan riwayat jatuh yang dialami sebelumnya.

Kelompok usia lanjut juga rentan mengalami komplikasi perdarahan otak apabila terjadi gegar otak. Gejala yang dapat diperhatikan adalah sakit kepala yang semakin berat atau peningkatan kebingungan. Apabila Anda mengonsumsi obat pengencer darah, seperti aspirin, maka sebaiknya Anda memeriksakan dri ke dokter walaupun tidak menunjukkan adanya gejala.

Olahraga yang Berpotensi Menjadi Penyebab Gegar Otak

Penyebab utama gegar otak umumnya adalah kecelakaan lalu lintas, diikuti dengan olahraga. Setiap olahraga dengan kontak fisik dapat menyebabkan terjadinya gegar otak. Beberapa olahraga populer yang sering menjadi penyebab gegar otak, antara lain:

1. Bersepeda

Olahraga bersepeda banyak menyebabkan terjadinya kecelakaan yang berujung pada gegar otak. Selain orang dewasa, gegar otak akibat bersepeda juga banyak dialami oleh anak-anak, terutama pada mereka yang berusia antara 5-14 tahun. Penggunaan helm saja tidak cukup untuk melindungi gegar otak. Helm yang digunakan harus memiliki ukuran yang pas dengan kepala, sehingga tidak mudah terlepas saat terjatuh dari sepeda.

Tanpa pelindung kepala yang baik, kecelakaan sepeda dapat menyebabkan gegar otak, patah tulang tengkorak, dan trauma kepala lainnya yang lebih berat. Penggunaan helm pelindung secara signifikan dapat mengurangi kejadian gegar otak dan trauma kepala fatal. Trauma kepala adalah penyebab utama kematian pada olahraga beroda dan penentu utama terjadinya disabilitas setelah kecelakaan.

2. Sepakbola

Sepakbola merupakan salah satu olahraga penyebab gegar otak yang paling umum. Perlindungan kepala pada pertandingan sepakbola sulit diterapkan karena salah satu gerakan yang dilakukan saat dalam olahraga ini adalah sundulan.

Hingga saat ini, belum ditemukan alat pelindung kepala yang efektif untuk menurunkan risiko gegar otak tanpa memodifikasi pertandingan sepakbola, kecuali untuk penjaga gawang. Benturan kepala saat bermain sepakbola yang paling sering terjadi adalah benturan kepala dengan pemain lawan, diikuti benturan dengan tanah dan bola sepak.

3. Tinju

Gegar otak dapat dialami pada petinju, baik petinju profesional atau petinju amatir. Pada petinju profesional, tinju yang dilayangkan oleh lawan setara dengan bola bowling seberat 6 kg yang menghantam kepala dengan kecepatan tinggi.

Sebagian besar petinju mengalami gegar otak dengan gejala ringan. Namun, ada juga kasus di mana petinju mengalami gejala yang lebih berat, seperti kesulitan bicara, kekakuan gerak, hilang ingatan, dan berperilaku aneh. Bahkan, terdapat penelitian yang menunjukkan sebagian besar petinju profesional memiliki cedera otak, meskipun tidak bergejala.

Tidak hanya ketiga olahraga di atas, jenis olahraga lainnya, seperti bola basket, olahraga air (berenang, menyelam, polo air), skateboard, gimnastik, dan ice skating juga berpotensi menjadi penyebab gegar otak.

Dengan mengetahui risiko gegar otak yang dapat terjadi lewat olahraga-olahraga tersebut, sebaiknya kita melakukan tindakan pencegahan dengan menggunakan alat pelindung (jika diperkenankan), memakai pakaian yang sesuai, dan mematuhi aturan yang ada. Khusus untuk anak-anak, melakukan pengawasan dan mencegah mereka melakukan olahraga yang tidak sesuai dengan usianya, juga dapat membantu mengurangi risiko gegar otak.

Referensi

AANS. https://www.aans.org/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Sports-related-Head-Injury
Diakses pada April 2019

Epocrates Online. https://online.epocrates.com/diseases/96724/Concussion/Etiology
Diakses pada April 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15038-concussions
Diakses pada April 2019

Brain Injury Association of America. https://www.biausa.org/brain-injury/about-brain-injury/basics/function-of-the-brain
Diakses pada April 2019

Artikel Terkait:
Baca Juga
Back to Top