Bukannya Efektif Justru Berisiko, Ini Fakta Seputar Obat Penurun Berat Badan


Ada begitu banyak ramuan penurun berat badan dalam berbagai bentuk mulai dari pil hingga teh. Setiap jenis punya klaim bisa menurunkan berat badan, meski faktanya belum tentu efektif.

(0)
14 Jul 2021|Azelia Trifiana
Obat penurun badan justru bisa berbahayaObat penurun badan justru bisa berbahaya
Industri obat penurun berat badan merupakan salah satu yang paling menguntungkan dan populer. Bagaimana tidak, ada begitu banyak ramuan penurun berat badan dalam berbagai bentuk mulai dari pil hingga teh. Setiap jenis punya klaim bisa menurunkan berat badan, meski faktanya belum tentu efektif.Bahkan terbukti, sebagian besar suplemen herbal tidak efektif menurunkan berat badan. Jika ada penurunan pun, hasilnya tidaklah konsisten.

Efektifkah obat penurun berat badan?

Ada sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan di jurnal Obesity yang menarik kesimpulan bahwa suplemen diet tidak mengurangi berat badan sesuai klaimnya. Bahkan faktanya, sangat langka orang yang mengonsumsi suplemen semacam itu berhasil menurunkan berat badan mereka.Dalam studi itu, para peneliti mengulas 315 uji klinis suplemen diet yang telah ada. Terapi alternatif juga termasuk dalam topik pembahasan. Hasilnya, ditemukan bahwa sebagian besar hasil uji klinis sangatlah bias.Hanya 16 studi yang menunjukkan adanya perubahan berat badan partisipan, mulai dari 0,4 kilogram hingga 4 kilogram. Kondisi ini pun tidak konsisten.Lebih jauh lagi, berikut ini 12 komposisi yang masuk dalam penelitian:
  • Kalsium dan vitamin D
  • Chitosan
  • Cokelat
  • Kromium
  • Kafein
  • Garcinia
  • Teh hijau
  • Guar gum
  • Asam linoleat terkonjugasi
  • Pyruvate
  • Phaseolus
  • Phenylpropylamine
Terapi non-suplemen lain yang juga dipelajari adalah akupuntur dan intervensi tubuh dan pikiran seperti meditasi. Hasilnya, perlu bukti lebih kuat lagi sebelum memberikan konfirmasi tentang efektivitas ramuan penurun berat badan.

Bukan pil ajaib

Sebenarnya, hasil penelitian di atas tidaklah mengejutkan. Sebab, obesitas adalah penyakit yang sangat kompleks dan tidak akan pernah ada pil ajaib untuk mengobatinya.Bahkan meski ada suplemen, kandungan, rempah, atau ramuan apapun yang mungkin bisa menurunkan berat badan, belum tentu sudah mengantongi izin resmi.Padahal, ini penting. Sebab tanpa izin resmi, berarti dosis, kualitas, efikasi, proses pembuatan, jumlah zat aktif di dalamnya sukar diformulasikan secara pasti. Lagi-lagi, kaitannya tentu dengan efeknya terhadap tubuh orang yang mengonsumsi.Mengonsumsi suplemen atau ramuan penurun berat badan sebanyak apapun tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perubahan gaya hidup. Bahkan prosedur operasi untuk mengurangi berat badan seperti sedot lemak pun juga tak akan efektif tanpa disertai dengan aktif bergerak.

Justru berisiko untuk kesehatan

Tak hanya kurang bukti ilmiah, mengonsumsi ramuan penurun berat badan juga berisiko untuk kesehatan. Beberapa jenis suplemen bahkan terkait erat dengan risiko kesehatan signifikan.Ada studi pada pertengahan tahun 2019 lalu yang menyoroti hal ini. Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of Adolescent Health itu, sekitar 1.000 orang berusia 25 tahun mengalami masalah kesehatan akibat konsumsi suplemen diet. Periode penelitian berlangsung antara tahun 2004 hingga 2015.Lebih parahnya lagi, sekitar 166 partisipan pernah masuk rumah sakit akibat konsumsi obat penurun berat badan. Menambah kekhawatiran, 22 di antara mereka meninggal dunia.Risiko kesehatan dari mengonsumsi obat penurun berat badan ini sangatlah nyata. Tidak ada regulasi resmi dari badan seperti BPOM atau FDA. Artinya, sangat sulit menentukan mana produk yang berkualitas dan tidak.Jika ada komplain terkait konsumsi salah satu ramuan penurun berat badan pun, tentu sangat sulit memprosesnya. Sebab lagi-lagi, pilihan untuk mengonsumsinya adalah keputusan konsumen meski belum ada izin resmi yang melekat pada produk itu.

Melihat kandungannya saja tidak cukup

Apabila muncul keyakinan bahwa aman-aman saja mengonsumsi ramuan penurun berat badan selama kandungan di dalamnya familiar, ini juga konsep yang salah. Sebab, meski kandungan zat aktif di dalamnya sudah sering Anda konsumsi pun, tidak ada keterangan berapa banyak kadarnya.Tak ada pula petunjuk tentang berapa dosis yang aman serta interaksi zat aktif itu ketika diformulasikan bersama dengan bahan-bahan lain. Konsentrasi zat aktif di tiap produk bisa berbeda-beda.Jadi, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi obat penurun berat badan sangatlah berisiko. Efektif pun tidak. Justru hal ini mempersulit situasi kelebihan berat badan yang tengah dihadapi.

Catatan dari SehatQ

Jika ada obat penurun berat badan yang paling ampuh, itu adalah mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Utamanya, kombinasi antara mengatur pola makan dan aktif berolahraga.Terapi perilaku akan jauh lebih efektif ketimbang konsumsi ramuan penurun berat badan semahal apapun. Ini pun tidak bisa berdampak secara instan dan perlu ada konsistensi jangka panjang.Selain itu, penting diingat bahwa metode apapun yang diambil, risiko berat badan kembali naik tetap ada.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar berat badan dan risiko diabetes, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
menurunkan berat badankelebihan berat badanhidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/supplements-for-weight-loss-do-they-work
Diakses pada 29 Juni 2021
Journal of Adolescent Health. https://www.jahonline.org/article/S1054-139X(19)30163-6/fulltext
Diakses pada 29 Juni 2021
Obesity. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1002/oby.23110
Diakses pada 29 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait