Obat pelancar ASI dapat dikonsumsi untuk meningkatkan produksi ASI
Produksi ASI dapat ditingkatkan dengan obat pelancar ASI

Produksi air susu ibu (ASI) tidak selamanya melimpah. Merupakan hal yang wajar juga jika ibu menyusui merasa tidak akan mampu memenuhi kebutuhan ASI bayi karena masalah tersebut. Namun, jangan khawatir karena ada obat pelancar ASI atau ASI booster yang dapat membantu memecahkan masalah produksi ASI ini.

Dalam dunia medis, obat pelancar ASI atau ASI booster disebut sebagai laktogogue (galactogogue). Laktogogue dapat menaikkan pasokan ASI dan paling efektif diberikan 3 minggu setelah melahirkan, namun dapat juga dikonsumsi saat ibu merasa produksi ASI-nya berkurang.

Banyak obat yang dikategorikan sebagai laktogogue ini. Namun, dokter biasanya tidak akan sembarangan meresepkan obat pelancar ASI karena obat ini juga memiliki efek samping yang harus menjadi pertimbangan ibu sebelum meminumnya.

Mengenal jenis obat pelancar ASI

Produksi ASI adalah peristiwa kompleks yang terjadi pada tubuh manusia. Banyak faktor yang mengakibatkan banyak atau sedikitnya pasokan ASI yang dimiliki oleh ibu menyusui, mulai dari kondisi fisik, mental, hingga kerja hormon di dalam tubuh.

Salah satu hormon yang paling berperan dalam meningkatkan produksi ASI adalah prolaktin. Namun, hormon ini dapat dihambat dengan kehadiran hormon dopamin. Ada juga hormon oksitosin yang dapat melancarkan ASI, tapi bisa dihambat oleh catecholamine yang terbentuk saat ibu mengalami stres atau sakit secara fisik.

Untuk mengatasi masalah ASI seret karena hal-hal di atas, ada baiknya ibu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi. Bila dipandang perlu, ibu akan diberikan obat pelancar ASI sebagai berikut:

  • Metoklopramid

Obat pelancar ASI ini sebetulnya adalah obat mual yang sering digunakan untuk mengatasi refluks gastroesofagus pada bayi. Namun dalam beberapa penelitian, metoklopramid dapat digunakan sebagai laktogogue yang bekerja dengan menghambat pelepasan dopamin di saraf pusat sehingga kadar prolaktin meningkat.

Ketika meminum obat pelancar ASI ini, Anda mungkin akan mengalami efek samping berupa diare, mengantuk, dan letih, tapi itu adalah reaksi yang wajar sehingga konsumsi obat dapat dilanjutkan. Tanda Anda harus berhenti minum metoklopramid adalah ketika terjadi penurunan kesadaran, sakit kepala, kebingungan, hingga depresi.

Oleh karena itu, dokter tidak akan meresepkan booster ASI ini kepada ibu yang memiliki riwayat epilepsi, obstruksi intestinal, dan hipertensi yang tidak terkontrol. Selain itu, obat ini juga tidak boleh diminum berbarengan dengan konsumsi obat antikejang.

  • Domperidone

Mirip dengan metoklopramid, domperidone juga biasanya digunakan sebagai obat mual dan muntah. Namun, obat ini juga sudah biasa digunakan sebagai obat pelancar ASI sejak 1983, dan bekerja dengan meningkatkan prolaktin. Domperidone paling efektif digunakan sebagai ASI booster pada ibu menyusui yang sudah pernah memiliki minimal satu anak sebelumnya.

Sementara itu, efek samping domperidone adalah mulut kering, sakit kepala (dapat berkurang dengan mengurangi dosis), dan kram perut. Konsumsi domperidone dalam jangka panjang disebut menimbulkan tumor payudara, tapi klaim ini belum terbukti pada manusia. Domperidone tidak boleh diberikan pada pasien yang memiliki riwayat pendarahan saluran cerna.

  • Sulpirid

Obat pelancar ASI ini bekerja dengan meningkatkan kerja hormon pelepas prolaktin. Namun, ia juga memiliki efek samping mirip dengan penggunaan metoklopramid serta peningkatan berat badan.

  • Chlorpromazin

Chlorpromazin sebetulnya adalah obat antipsikotik yang juga sering digunakan sebagai laktogogue. Dalam perannya sebagai ASI booster, obat ini dapat menekan produksi dopamin sehingga meningkatkan kadar prolaktin dalam tubuh. Namun, efek sampingnya dapat menaikkan berat badan Anda.

  • Thyrotrophin-Releasing Hormone (TRH)

Di Amerika Serikat, TRH digunakan sebagai bahan untuk menilai fungsi tiroid yang juga dapat meningkatkan pelepasan hormon prolaktin. Penggunaan TRH sebagai ASI booster dalam jangka panjang dihubungkan dengan hipotiroid, namun klaim ini belum terbukti secara ilmiah. Yang jelas, penggunaan TRH untuk inisiasi dan mempertahankan produksi ASI memang tidak umum di Indonesia.

ASI booster yang alami

Tanpa mengonsumsi obat pelancar ASI pun, sebetulnya Anda dapat meningkatkan produksi ASI secara alami. Kuncinya adalah sering mengosongkan payudara. Semakin sering payudara dikosongkan, semakin banyak produksi ASI itu sendiri.

Cara mengosongkan payudara sendiri pada dasarnya ada dua jenis, yakni dengan membiarkan bayi menyusu langsung pada payudara dan dengan dipompa. Pastikan bayi menyusu di kedua payudara, begitu pula pastikan Anda memompa payudara hingga relatif tidak ada lagi ASI yang keluar.

Jika cara tersebut tidak berhasil, Anda juga dapat menbantunya dengan mengonsumsi ASI booster alami, seperti fenugreek dan marshmallow. Di Indonesia, ASI booster yang terkenal adalah daun bangun-bangun dan daun katuk.

Penggunaan daun katuk sebagai ASI booster pun sudah terbukti secara ilmiah. Konsumsi ekstrak daun katuk selama 15 hari beruntun dapat meningkatkan produksi ASI hingga 50,7 persen, serta tidak mengubah nutrisi yang terdapat dalam ASI itu sendiri, terutama pada kadar protein dan lemak ASI.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5828930/
Diakses pada 6 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/laktogogue-seberapa-besar-manfaatnya
Diakses pada 6 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/how-to-increase-breast-milk
Diakses pada 6 Desember 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed