Obat Opioid, Pereda Nyeri yang Sebabkan Kecanduan


Obat opioid pernah diklaim sebagai obat pereda nyeri. Lebih tepatnya, jenis analgesik opioid atau opiat. Sayangnya, kasus kecanduan akan opioid telah membuat banyak dokter tidak lagi meresepkannya.

0,0
23 Aug 2021|Azelia Trifiana
Obat opioid digunakan untuk meredakan nyeriObat opioid digunakan untuk meredakan nyeri
Ketika mengalami rasa nyeri atau perih, opioid pernah diklaim sebagai obat pereda nyeri. Lebih tepatnya, jenis analgesik opioid atau opiat. Sayangnya, kasus kecanduan akan opioid telah membuat banyak dokter tidak lagi meresepkannya. Alternatifnya, banyak obat pereda nyeri lain yang lebih aman.Lebih jauh lagi, tak jarang pasien mengaku opioid merupakan obat yang paling ampuh meredakan rasa nyeri. Di sisi lain, bahkan CDC sekalipun memberlakukan aturan bagi dokter untuk tidak sembarangan meresepkan opiat.

Mengenal apa itu opioid

Jika ada jajaran obat pereda nyeri yang dibandingkan, opioid adalah juaranya. Ada yang terbuat dari bunga poppy, ada pula yang diproduksi di laboratorium. Jenis yang terakhir disebut dengan opiat sintetis.Pasien biasanya mengonsumsi analgesik opioid untuk meredakan nyeri akut seperti pascaoperasi. Selain itu, terkadang pasien yang mengalami nyeri kronis juga mengonsumsinya.Beberapa jenis produk yang mengandung opioid adalah:
  • Buprenorphine
  • Fentanyl
  • Hydrocodone-acetaminophen
  • Hydromorphone
  • Meperidine
  • Oxydocone
  • Oxymorphone
  • Tramadol
Meski efektif, perlu digarisbawahi bahwa opiat sangatlah adiktif. Penyalahgunaan dapat menimbulkan beragam efek samping, overdosis, hingga kematian.

Dampak konsumsi opioid

Pada tahun 2016, CDC merilis aturan baru bagi dokter dalam meresepkan obat pereda nyeri. Rekomendasinya adalah untuk memberikan obat selain opioid, seperti ibuprofen dan acetaminophen. Terapi fisik juga termasuk salah satu yang disarankan.Meski demikian, aturan ini tidak berlaku bagi pasien penderita kanker, paliatif, atau kritis. Sementara untuk menangani nyeri akut seperti akibat cedera, aturan ini merekomendasikan dokter memberikan opioid dalam dosis terendah. Selain itu, periode konsumsi obat juga harus singkat, tak lebih dari tiga hari.Apa sebabnya?Opioid adalah obat yang sangat rentan menyebabkan kecanduan. Bahkan seiring dengan terbiasanya tubuh mendapatkan opiat, perlu dosis yang lebih tinggi untuk bisa merasakan nyeri mereda. Alasannya, tubuh mulai membentuk toleransi terhadap obat itu.Selain itu, konsumsi jangka panjang opioid juga dapat menyebabkan efek samping seperti:
  • Konstipasi
  • Mual
  • Mengantuk luar biasa
  • Keguguran
  • Berat badan lahir rendah
  • Kebingungan
  • Testosteron rendah
  • Kesulitan buang air kecil
  • Tulang menjadi lemah
  • Menjadi lebih sensitif terhadap rasa nyeri
Memang ada kasus ketika pasien benar-benar cocok dengan pengobatan opioid dosis rendah. Bahkan, obat ini bisa saja dikonsumsi dalam jangka panjang dan membuat kualitas hidup pasien jadi jauh lebih baik. Tentu ini harus di bawah pengawasan dokter.Meski demikian, tetap saja pada kasus-kasus ini pasien perlu mengambil jeda dari opioid setiap dua hingga empat bulan.

Kecanduan dan penolakan dokter

Sangat mungkin, seorang pasien yang telah terbiasa mengonsumsi analgesik opioid suatu hari kehilangan akses resep dari dokter. Mungkin saja dokter tidak lagi meresepkan obat yang sama karena rekomendasi untuk menghindarinya.Sayangnya ketika ini terjadi, tubuh pasien sudah berada dalam kondisi kecanduan akan opiat. Jika dihentikan tiba-tiba, tentu bisa membuat situasi kian rumit.Pada dasarnya, pasien penyakit kronis masih bisa mendapatkan opioid selama penggunaannya diawasi betul oleh dokter. Dosis dan periode penggunaannya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien.Perlu ada kesepakatan antara dokter dengan pasien terkait konsumsi opiat. Tujuannya satu, untuk memulihkan kondisi pasien dan bisa menjalani hidupnya dengan normal.Pasien pun perlu sadar betul bahwa analgesik opioid bukan segala-galanya. Bukan berarti inilah satu-satunya cara untuk meredakan nyeri. Tetap terbukalah pada berbagai opsi lain seperti pengobatan alternatif hingga terapi.

Gejala dan penanganan kecanduan opioid

Gejala ketika seseorang mengonsumsi opioid dalam dosis tinggi di antaranya:
  • Ukuran pupil menjadi lebih kecil
  • Lelah luar biasa
  • Napas menjadi lebih lambat
  • Kesadaran berkurang
  • Perubahan detak jantung
  • Tidak waspada
Seberapa parahnya kecanduan opioid berbeda-beda, bergantung pada jenis dan dosis yang telah dikonsumsi. Segera cari penanganan medis darurat apabila merasakan gejala di atas.Tenaga medis kemudian akan memeriksa tekanan darah, temperatur, detak jantung, dan juga frekuensi napas. Kemudian, dokter mungkin akan memberikan obat bernama naloxone yang dapat mencegah opioid agar tidak berdampak pada sistem saraf pusat.Selain itu, dokter juga akan memberikan tambahan oksigen apabila pasien terdampak pernapasannya.

Alternatif penggunaan opioid

Mengingat efek samping dan tingginya kemungkinan kecanduan opioid, penting juga diketahui beberapa alternatifnya selain obat pereda nyeri yang aman.Beberapa contohnya adalah:
  • Kompres es dan kompres hangat
  • Berolahraga sesuai kemampuan
  • Terapi fisik
  • Yoga
  • Mendengarkan musik
  • Pijat terapi
Tentu saja, menentukan mana yang paling efektif dalam meredakan nyeri bukan perkara mudah. Perlu ada diagnosis dan rekomendasi pasti dari ahlinya yaitu dokter.Jika sembarangan mengonsumsi analgesik opioid tanpa ada supervisi ketat dari dokter, efek samping yang mungkin timbul sangat berbahaya, hingga kematian.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar alternatif obat pereda nyeri, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
penahan nyeripereda nyerihidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/opioid-intoxication
Diakses pada 9 Agustus 2021
FDA. https://www.fda.gov/drugs/information-drug-class/opioid-analgesic-risk-evaluation-and-mitigation-strategy-rems
Diakses pada 9 Agustus 2021
California Healthline. https://californiahealthline.org/news/in-pain-many-doctors-say-opioids-are-not-the-answer/
Diakses pada 9 Agustus 2021
CDC. https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/65/rr/rr6501e1.htm
Diakses pada 9 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait