Obat-obatan ACE Inhibitor untuk Hipertensi, Cermati Peringatan dan Efek Sampingnya

(0)
14 Aug 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
ACE inhibitor adalah kelompok obat hipertensi yang diresepkan dokter untuk mengatasi tekanan darah tinggiMengonsumsi ACE inhibitor untuk menurunkan hipertensi harus sesuai anjuran dokter
Dalam mengatasi hipertensi atau tekanan darah tinggi, dokter akan meresepkan golongan obat yang disebut dengan antihipertensi. Ada beberapa kelas obat dalam golongan antihipertensi, termasuk ACE inhibitor salah satunya. ACE inhibitor cukup umum diresepkan dokter karena dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.  

Mengenal obat ACE inhibitor 

ACE inhibitor atau angiotensin-converting enzyme inhibitor adalah kelas obat-obatan yang diresepkan dokter untuk mengatasi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Obat ACE inhibitor membantu merilekskan pembuluh darah, baik pembuluh balik (vena) maupun pembuluh nadi (arteri), agar tekanan darah dapat menurun.ACE inhibitor sebagai obat antihipertensi telah digunakan sejak tahun 1981. Obat-obatan ini cenderung dapat ditoleransi oleh pasien sehingga cukup umum diresepkan dokter. Biasanya, ACE inhibitor dikonsumsi sekali sehari di pagi hari. Obat-obatan ini juga mungkin dikombinasikan dengan obat hipertensi lain, seperti diuretik atau calcium channel blocker.  ACE inhibitor biasanya bekerja lebih efektif pada pasien muda sehingga dokter mungkin akan meresepkan obat yang berbeda pada pasien yang berusia lanjut.

Mekanisme kerja obat-obat ACE inhibitor

ACE inhibitor berfungsi dengan dua cara. Pertama, sesuai namanya, ACE inhibitor bekerja dengan menghambat enzim di tubuh agar tidak menghasilkan angiotensin II. Angiotensin II merupakan senyawa yang dapat menyempitkan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah dapat memicu tekanan darah tinggi dan memaksa jantung bekerja lebih keras.Tak hanya itu, angiotensin II juga perlu dikendalikan karena dapat melepaskan hormon yang meningkatkan tekanan darah. Kedua, obat-obatan ACE inhibitor turut membantu menurunkan kadar natrium yang tertahan di dalam ginjal. Kadar natrium yang berlebihan memang dapat memicu tekanan darah tinggi. 

Contoh obat ACE inhibitor

Berikut ini beberapa contoh obat yang masuk dalam kelompok ACE inhibitor:
  • Benazepril
  • Captopril 
  • Enalapril
  • Fosinopril 
  • Lisinopril 
  • Quinapril
  • Ramipril
  • Moexipril
  • Perindopril
  • Trandolapril

Penyakit apa saja yang ditangani oleh ACE inhibitor?

Hipertensi merupakan kondisi utama yang bisa ditangani oleh ACE inhibitor. Namun, beberapa penyakit lain juga bisa ditangani oleh obat-obat ini, termasuk:
  • Penyakit arteri koroner
  • Gagal jantung
  • Diabetes
  • Penyakit ginjal kronis 
  • Serangan jantung
  • Scleroderma, yakni penyakit yang melibatkan pengerasan kulit dan jaringan ikat
  • Migrain

Efek samping berisiko ditimbulkan ACE inhibitor

Sebagian besar pasien sebenarnya dapat menerima ACE inhibitor dengan baik. Obat-obatan ini juga tidak terlalu sering menimbulkan efek samping sehingga menjadi pilihan yang umum diresepkan oleh dokter. Namun, efek samping ACE inhibitor tetap berisiko terjadi. Efek samping tersebut, misalnya:
  • Kelelahan
  • Ruam kulit
  • Penurunan kemampuan untuk mencicipi rasa
  • Batuk kering 
  • Tekanan darah rendah
  • Pingsan
  • Pusing
Menimbang efek samping dari ACE inhibitor, obat ini tidak direkomendasikan pada ibu hamil karena dapat meningkatkan risiko cacat lahir.

Peringatan penggunaan ACE inhibitor pada kelompok tertentu

Kelompok perokok dan penderita gangguan ginjal harus mendiskusikan dengan dokter sebelum mengonsumsi ACE inhibitor.

1. Pada perokok

Pada kasus yang jarang terjadi, ACE inhibitor berisiko menimbulkan pembengkakan pada bibir, lidah, dan tenggorokan. Hal ini dapat menyulitkan pasien untuk bernapas. Pembengkakan di area-area tersebut cenderung terjadi pada orang yang merokok. Untuk itu, orang yang merokok harus mendiskusikan peringatan ini sebelum mengonsumsi ACE inhibitor

2. Pada penderita gangguan ginjal

Orang yang fungsi ginjalnya terganggu harus berhati-hati dalam mengonsumsi ACE inhibitor. Sebab, obat jenis ini dapat meningkatkan kadar kalium di tubuh. Peningkatan kadar kalium berisiko memicu gagal ginjal pada orang yang memiliki gangguan pada organ ini.

Interaksi obat ACE inhibitor

ACE inhibitor juga dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat. Misalnya, ibuprofen, naproxen, dan obat anti-peradangan non-steroid lain dapat menurunkan efektivitas ACE inhibitor. Risiko interaksi dapat meningkat jika Anda rutin mengonsumsi obat di atas saat Anda juga sedang menggunakan ACE inhibitorSelalu sampaikan dengan dokter obat yang tengah Anda konsumsi sebelum diresepkan ACE inhibitor. Diskusikan pula jika Anda ingin mengonsumsi obat lain saat masih dalam terapi dengan ACE inhibitor.

Catatan dari SehatQ

ACE inhibitor adalah kelas obat untuk mengatasi hipertensi atau tekanan darah tinggi. Walau cenderung bisa ditoleransi dengan baik oleh sebagian besar pasien, orang yang merokok dan penderita gangguan ginjal harus berhati-hati dalam menggunakan obat ACE inhibitor.
hipertensitekanan darah tinggigagal jantung
Healthline. https://www.healthline.com/health/heart-disease/ACE-inhibitors
Diakses pada 30 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/in-depth/ace-inhibitors/art-20047480
Diakses pada 30 Juli 2020
World Kidney Day. https://www.worldkidneyday.org/sodium-hypertension-and-kidney-disease/ https://www.worldkidneyday.org/sodium-hypertension-and-kidney-disease
Diakses pada 30 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait