Obat Diare Anak, Amankah Diberikan kepada Si Kecil?

Obat diare anak ada berbagai macamnya, tapi yang bisa digunakan adalah oralit dan probiotik
Ilustrasi seorang anak yang tengah mengalami diare

Tidak sedikit orangtua yang panik saat anaknya mengalami diare sehingga menganggap kondisi ini hanya bisa diatasi dengan obat. Padahal, pemberian obat diare anak bukanlah solusi yang tepat, kecuali dokter mengatakan sebaliknya.

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan keluarnya feses dalam bentuk cairan dan berlangsung beberapa kali dalam sehari. Diare pada anak biasanya disebabkan oleh infeksi virus yang dapat membaik dengan sendirinya, namun tidak jarang juga disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit.

Ketika diare, anak biasanya juga akan mengalami gejala yang menyertai, seperti demam dan tidak nafsu makan. Tidak jarang juga diare dibarengi dengan mual dan muntah atau dikenal juga sebagai penyakit muntaber (muntah dan berak).

Bolehkah anak minum obat diare?

Hal yang paling dikhawatirkan ketika anak diare adalah dehidrasi akibat terlalu banyaknya cairan yang keluar dari tubuh anak. Kondisi ini dapat mengakibatkan dehidrasi yang membahayakan nyawa anak.

Gejala dehidrasi yang patut diwaspada oleh orangtua adalah:

  • Bibir, mulut, dan lidah terlihat kering
  • Anak tidak mengeluarkan air mata ketika menangis
  • Anak tidak buang air kecil selama lebih dari 3 jam
  • Detak jantung anak lebih cepat dari biasanya.

Meskipun dehidrasi merupakan tanda kegawatdaruratan, meminumkan obat diare anak bukanlah solusi mengatasi atau mencegah masalah tersebut. Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan pemberian obat diare anak justru bisa menghadirkan efek buruk pada anak.

Meski demikian, terdapat cara lain untuk meredakan diare pada anak sekaligus menghindarkan si kecil dari dehidrasi, seperti:

  • Memberikan oralit

Oralit, yang juga disebut solusi rehidrasi oral, merupakan cairan yang diberikan untuk membantu mengembalikan elektrolit yang keluar dari tubuh melalui feses anak yang encer. Anda bisa membuat oralit sendiri dari campuran air hangat, gula, dan garam, tapi beberapa apotek atau toko obat juga menyediakan oralit kemasan dengen berbagai rasa maupun merek dagang.

Larutan ini dapat diminumkan beberapa mililiter dalam 15-30 menit sekali atau sesuai rekomendasi dokter. Oralit kerap dianggap sebagai obat diare anak karena dapat membantu penyerapan sodium, potasium, dan air ke dalam tubuh sehingga feses anak akan lebih padat.

Oralit dibutuhkan mengingat konsumsi air putih saja tidak cukup untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit dalam tubuh anak saat diare. Memberi minuman kesehatan yang mengandung elektrolit juga tidak disarankan bagi anak-anak karena mengandung gula tinggi yang dikhawatirkan membuat lebih banyak air masuk ke usus sehingga mengakibatkan feses tambah cair.

  • Memberikan probiotik

Penelitian mengungkap bahwa minuman probiotik (terutama yang mengandung Lactobacillus) dianggap sama seperti obat diare anak. Probiotik merangsang bakteri baik dalam usus untuk melawan bakteri jahat yang menyebabkan diare dan menteralisir racun.

Probiotik juga terbukti dapat meringankan gejala diare akut pada anak, termasuk yang disebabkan oleh gastroenteritis. Anak yang minum probiotik juga mengalami diare lebih singkat dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya, meski klaim ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

  • Suplemen zinc

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merekomendasikan pemberian suplemen zinc saat diare, terutama pada anak di bawah usia 5 tahun. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya defisiensi zinc karena infeksi virus diare, terutama pada anak yang tinggal di wilayah dengan tingkat sosio-ekonomi rendah.

Meski demikian, pemberian suplemen zinc kadang menimbulkan efek samping berupa muntah sehingga tidak sembarang anak boleh meminum suplemen ini. Jika dokter anak Anda meresepkan suplemen zinc, kemudian anak muntah, konsultasikan dengan dokter tersebut atau minta second opinion dari dokter lain yang berbeda.

Bagaimana dengan obat diare anak yang dijual bebas?

Di pasaran, obat diare anak yang bisa dibeli tanpa resep dokter antara lain mengandung bismuth subsalisilat (Pepto-Bismol) dan loperamide (Imodium). Meskipun demikian, kedua obat ini hanya bisa diberikan pada anak-anak di bawah usia 6-12 tahun berdasarkan anjuran dokter.

Pepto-Bismol, misalnya, mengandung bismuth, magnesium, atau aluminium alias logam yang mudah terserap ke dalam tubuh sehingga membahayakan kesehatan anak secara keseluruhan. Sementara itu, Imodium hanya aman digunakan pada anak di bawah usia 6 tahun, kecuali ada rekomendasi dokter yang mengatakan sebaliknya.

Pada diare yang disebabkan oleh bakteri atau parasit, penggunaan antibiotik mungkin diperlukan. Namun, lagi-lagi, keputusan ini hanya bisa diambil setelah anak diperiksakan ke dokter.

Memberi antibiotik pada anak yang mengalami diare karena virus adalah penanganan yang keliru. Bukan hanya hal ini berpotensi membunuh bakteri baik di usus, namun juga bisa memperparah diare anak karena beberapa golongan antibiotik terbukti tidak ramah pada lambung anak.

Jika Anda tidak yakin obat diare anak yang sesuai dengan gejalanya, periksakan anak ke dokter. Jangan tunda pemeriksaan bila anak Anda memperlihatkan gejala-gejala dehidrasi.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/diarrhea.html
Diakses pada 8 Maret 2020

FDA. https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/how-treat-diarrhea-infants-and-young-children
Diakses pada 8 Maret 2020

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/801948-medication
Diakses pada 8 Maret 2020

WebMD. https://www.webmd.com/children/guide/diarrhea-treatment
Diakses pada 8 Maret 2020

Artikel Terkait