Normozoospermia, Golongan Sperma Subur untuk Mencapai Kehamilan

Normozoospermia mengindikasikan kualitas sperma yang subur
Sperma memiliki kategori untuk menentukan kualitasnya

Normozoospermia merupakan spesifikasi yang digunakan dalam tes pemeriksaan sperma untuk menandakan kualitas dan kuantitas sperma dalam kondisi normal.

Ketika sperma Anda masuk dalam golongan normozoospermia, Anda berarti memiliki kesuburan yang normal dan dapat merencanakan kehamilan bersama pasangan, dengan syarat kesuburan istri juga sama baiknya.

Selain normozoospermia, tingkat kesehatan sperma juga dikategorikan ke dalam oligozoospermia (sperma berkualitas rendah) dan oligozoospermia berat (sperma berkualitas buruk).

Tes pemeriksaan sperma untuk memastikan normozoospermia atau tidak

Sebelum mengetahui apakah sperma Anda tergolong normal atau normozoospermia, Anda terlebih dahulu harus melakukan tes pemeriksaan sperma.

Tes pemeriksaan sperma ini penting untuk mengetahui kesuburan dan indikasi infertilitas (kemandulan) pada pria. Kendati demikian, tes pemeriksaan sperma hanya dapat mengetahui jumlah dan kualitas sperma, namun tidak dapat mengetahui penyebab infertilitas yang dialami pria.

Beberapa indikator yang diperhatikan dalam tes pemeriksaan sperma tersebut, antara lain:

1. Volume sperma

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia, WHO, volume sperma pria saat ejakulasi berkisar 1,5-7,6 mL.

Volume sperma yang dikategorikan normal atau normozoospermia berjumlah sekitar 3,3 ± 1,5 mL. Sementara sperma yang dikategorikan berkualitas rendah atau oligozoospermia memiliki volume sekitar 3,3 ± 1,4 mL.

Lalu, sperma yang dikategorikan berkualitas buruk atau oligozoospermia berat memiliki volume sekitar 3,1 ± 2,0 mL.

2. Motilitas sperma

Motilitas sperma merupakan kemampuan gerak sperma untuk dapat mencapai sel telur. Berdasarkan data WHO, motilitas (progresif dan nonprogresif) yang dimiliki pria berkisar antara 40-81 persen.

Motilitas sperma yang dikategorikan normal atau normozoospermia berkisar 57,4 ± 15,6 persen. Sementara, sperma yang dikategorikan berkualitas sedang atau oligozoospermia memiliki motilitas sekitar 42,9 ± 19,1 persen.

Sedangkan, sperma yang dikategorikan berkualitas buruk atau oligozoospermia berat memiliki motilitas sekitar 26,9 ± 23,1 persen.

3. Total jumlah sperma

Selain itu, indikator penting yang diperhatikan dalam tes pemeriksaan sperma adalah total jumlah sperma. Rata-rata total jumlah sperma pria adalah di atas 15 juta sperma per mL dalam sekali ejakulasi. Sedangkan, pada oligospermia sedang jumlah sperma 5-10 juta pr mL dan pada oligospermia berat jumlah sperma hanya mencapai 0-5 juta sperma/mL.

4. Konsentrasi sperma

Indikator penting yang diperhatikan dalam tes pemeriksaan sperma lainnya adalah konsentrasi sperma. Berdasarkan data WHO konsentrasi sperma pria berkisar 15–259 miliar per mL.

Selain keempat indikator tersebut, tes pemeriksaan sperma juga dilakukan untuk mengetahui vitalitas dan morfologi sperma.

Dari hasil tes pemeriksaan sperma, dapat diketahui apakah sperma tergolong normal (normozoospermia), sperma berkualitas rendah (oligozoospermia), atau sperma berkualitas buruk (oligozoospermia berat). Hasil tes tersebut juga mampu mengindikasikan awal penyebab infertilitas pada pria.

Pemeriksaan lanjutan jika hasil tes bukan normozoospermia

Jika hasil tes pemeriksaan sperma menunjukkan Anda memiliki kualitas sperma yang buruk, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih jauh penyebab infertilitas Anda.

Infertilitas atau ketidaksuburan pada pria dapat terjadi akibat beberapa faktor, yaitu:

  • Genetik
  • Pernah melakukan operasi di masa silam
  • Kondisi kesehatan
  • Penyakit menular seksual.

Untuk mengetahui penyebab terjadinya infertilitas, dokter bisa saja menyarankan pemeriksaan lanjutan berikut ini:

  • Pemeriksaan fisik dan riwayat medis

Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga akan memeriksa alat kelamin Anda. Sejumlah pertanyaan akan diajukan dalam pemeriksaan ini untuk mengetahui penyebab infertilitas yang Anda alami, termasuk kondisi kesehatan, penyakit yang pernah dan tengah diderita, hingga operasi yang pernah dijalani.

Dalam tes pemeriksaan ini, dokter juga akan menanyakan perilaku seksual dan perkembangan seksual Anda selama menjalani masa pubertas yang mungkin memengaruhi tingkat kesuburan.

  • Tes hormon

Tes ini berfungsi untuk mengetahui adanya kelainan hormonal yang dapat memengaruhi kesuburan Anda. Hormon yang diteliti dalam tes ini merupakan hormon yang diproduksi kelenjar hipofisis, hipotalamus dan testis.

Tes hormon dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien.

  • Tes genetik

Melalui sampel darah, dokter juga akan melakukan tes genetik untuk mengetahui adanya kemungkinan kelainan genetik yang dapat pengaruhi tingkat kesuburan Anda.

  • USG skrotum

Tes menggunakan USG skrotum dilakukan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Tes pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui adanya masalah lain pada testis dan organ sekitarnya yang dapat memengaruhi tingkat kesuburan pria.

  • Biopsi testis

Tes biopsi testis dilakukan untuk mengetahui adanya kemungkinan lain penyebab infertilitas pada pria, seperti jalur transportasi sperma yang terhambat.

Kapan harus melakukan tes pemeriksaan sperma?

Tes pemeriksaan sperma perlu dilakukan bagi pria ketika kehamilan sulit dicapai, kendati pernikahan sudah berjalan 1-3 tahun. Tes ini juga perlu dilakukan oleh pria yang mengalami disfungsi seksual.

Healthline
https://www.healthline.com/health/mens-health/normal-sperm-count#treatment
Diakses pada 30 Maret 2020

Nature.com
https://www.nature.com/articles/srep42336/tables/1
Diakses pada 30 Maret 2020

Mayo Clinic
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/low-sperm-count/expert-answers/home-sperm-test/faq-20057836
Diakses pada 30 Maret 2020

Mayo Clinic
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/low-sperm-count/expert-answers/home-sperm-test/faq-20057836
Diakses pada 30 Maret 2020

Artikel Terkait