Bila laringomalasia masih terusu terjadi meski usia bayi bertambah, sebaiknya periksakan anak Anda ke dokter
Salah satu gejala laringomalasia adalah napas bayi yang berbunyi

Laringomalasia adalah kondisi yang paling umum dialami bayi di hari-hari awal kelahirannya ke dunia. Ini adalah kondisi abnormal ketika jaringan di atas pita suara lebih lembut. Akibatnya, laringomalasia bisa menutup bukaan jalan udara saat bernapas.

Ciri-ciri utama laringomalasia adalah bernapas yang “berisik”, terutama ketika bayi tidur terlentang. Kondisi ini merupakan bawaan lahir (kongenital), bukan penyakit yang baru terjadi saat mereka bertumbuh setelah lahir.

Gejala laringomalasia

Setidaknya 90% kasus laringomalasia bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan tertentu. Namun pada kondisi tertentu, perlu konsumsi obat hingga operasi.

Beberapa gejala laringomalasia adalah:

  • Stridor

Stridor adalah bunyi melengking yang terdengar ketika bayi mengambil napas. Bagi bayi yang terlahir dengan laringomalasia, stridor sudah terlihat saat mereka lahir. Umumnya, kondisi ini muncul ketika bayi berusia 2 minggu.

Stridor menjadi semakin terlihat saat bayi terlentang dan menangis. Biasanya, bunyi ini akan menjadi semakin nyaring pada bulan-bulan awal usia bayi. 

  • Mengalami GERD

Tak hanya orang dewasa, bayi dengan laringomalasia juga bisa mengalami gastroesophageal reflux disorder atau GERD. Kondisi ini terjadi ketika asam lambung naik ke esofagus sehingga menimbulkan rasa nyeri. Tak hanya itu, akan muncul sensasi terbakar dan iritasi (heartburn).

  • Berat badan tidak meningkat

GERD juga dapat menyebabkan bayi kerap muntah setelah menyusu. Akibatnya, berat badan bayi cenderung stagnan bahkan berkurang. Saat menyusu pun, bayi juga cenderung lebih rewel.

  • Apnea

Apnea adalah kondisi ketika bayi berhenti sejenak saat sedang bernapas. hal ini juga bisa menjadi indikator terjadinya laringomalasia. Biasanya, jeda ini bisa berlangsung selama lebih dari 10 detik. Selain itu, bayi dengan laringomalasia juga kerap tersedak saat menelan sesuatu.

  • Sianosis

Bayi dengan laringomalasia juga bisa mengalami sianosis yaitu kulitnya menjadi kebiruan. Hal ini terjadi karena kadar oksigen dalam darah terlalu rendah.

Apabila bayi sudah terlihat sangat tidak nyaman bahkan kesulitan bernapas, segera bawa ke rumah sakit. Ciri-cirinya selain jeda bernapas (apnea), juga bayi harus bersusah payah menarik dada dan lehernya hanya untuk bernapas.

Penyebab laringomalasia

Tidak ada kelompok tertentu yang memiliki faktor risiko menderita laringomalasia. Dunia medis menganggap laringomalasia terjadi karena pertumbuhan abnormal pada saraf pita suara saat masih berada di janin. 

Selain itu, laringomalasia juga bisa terjadi karena faktor keturunan. Namun, bukti yang mendukung teori ini masih perlu digali lebih dalam. Jika terjadi karena faktor keturunan sekalipun, biasanya berhubungan dengan Costello syndrome dan Gonadal dysgenesis.

Cara mengatasi laringomalasia

Pada sebagian besar kasus, laringomalasia akan membaik dengan sendirinya ketika bayi terus bertumbuh, setidaknya hingga usianya menginjak satu tahun. Selama itu, dokter akan terus memeriksa pertumbuhannya dan bila perlu meresepkan anti-reflux untuk membuat gejala tidak nyaman akibat GERD lebih terkendali.

Meski demikian, bayi yang mengalami masalah pernapasan atau pertumbuhannya sangat buruk perlu melalui prosedur operasi yang disebut supraglottoplasty. Prosedur ini dilakukan lewat mulut bayi untuk merapatkan jaringan di atas pita suara. Setelah operasi tuntas dilakukan, biasanya nafsu makan dan bernapasnya pun menjadi jauh lebih baik.

Orangtua perlu tahu siklus laringomalasia, yaitu akan menjadi kian buruk pada bulan-bulan pertama, lalu perlahan membaik ketika usia bayi menginjak 3-6 bulan. Ketika membaik, biasanya laringomalasia yang ditandai dengan napas berbunyi hanya terdengar saat mereka berolahraga, tidur, atau saat sedang sakit.

Perlukah mengubah pola kehidupan bayi di rumah?

Jika laringomalasia yang terjadi masih ringan, tak perlu membuat perubahan besar pada pola makan, tidur, dan aktivitas sehari-hari bayi. Pastikan saja selalu melihat bagaimana mereka beraktivitas serta perhatikan apakah ada gejala serius akibat laringomalasia. 

Bila perlu, posisikan matras bayi lebih tinggi di bagian kepala untuk membuat mereka bernapas lebih mudah saat tidur. Terkadang mendengar bunyi nyaring saat bayi bernapas atau rewel saat makan memang rentan menyebabkan stres, namun mengetahui pemicunya akan membuat hal ini lebih mudah dihadapi.

Healthline. https://www.healthline.com/health/laryngomalacia#outlook
Diakses 15 Maret 2020

Rare Diseases. https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/6865/laryngomalacia
Diakses 15 Maret 2020

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/laryngomalacia.html
Diakses 15 Maret 2020

Thoracic. https://www.thoracic.org/patients/patient-resources/resources/laryngomalacia.pdf
Diakses 15 Maret 2020

Artikel Terkait