Murphy's Sign adalah Cara Diagnosis Penyumbatan Saluran Empedu, Ini Penjelasannya

Murphy's sign dipakai dokter untuk mendeteksi penyumbatan saluran empedu yang membuat sakit perut.
Murphy's sign digunakan untuk mendiagnosis penyumbatan saluran empedu.

Ada seorang dokter bedah bernama John B. Murphy yang menjalankan praktiknya di Chicago Amerika Serikat, pada akhir abad ke-20. Ia menemukan dua gejala radang pada kantong empedu (kolesistitis). Keduanya gejala tersebut memiliki istilah medis deep-grip palpation dan hammer-stroke percussion. Deep-grip palpation lah yang kemudian dikenal sebagai Murphy's sign.

Saat mendiagnosis pasien menggunakan metode Murphy's sign, dokter akan meminta pasien menarik napas dalam-dalam, lantas menahannya. Selanjutnya, dokter akan menekan perut pasien. Jika pasien merasakan sakit, maka hasil pemeriksaan Murphy's sign dinyatakan positif. Artinya pasien tersebut berpeluang mengidap kolesistitis akut.

Meski Murphy's sign memiliki tingkat akurasi 44-97%, dokter tetap akan melakukan pemeriksaan penunjang berupa CT scan, MRI, tes darah, USG, ataupun rontgen untuk mengetahui kemungkinan adanya penyumbatan pada kantong empedu.

Murphy's sign untuk diagnosis penyumbatan saluran empedu

Ketika hasil diagnosis Murphy's sign dinyatakan positif dan dokter menemukan adanya penyumbatan pada kantong empedu, berarti si pasien mengalami kolesistitis.

Kolesistitis merupakan peradangan yang terjadi pada kantong empedu, yaitu organ yang berfungsi menyimpan cairan empedu, yang berperan dalam proses pencernaan lemak di dalam tubuh.

Saat saluran empedu tersumbat, kantong empedu pun mengalami peradangan yang mengakibatkan sejumlah gejala seperti berikut ini:

  • Sakit perut

    Salah satu gejala paling umum yang dialami pengidap kolesistitis adalah sakit perut. Rasa nyeri di bagian perut ini akan semakin menusuk ketika menarik napas panjang.
    Gejala ini pula yang menjadi petunjuk bagi dokter untuk mendiagnosis pasien pengidap kolesistitis menggunakan metode Murphy's sign. Tak hanya sakit ketika menarik napas panjang, perut pengidap kolesistitis juga akan terasa nyeri ketika disentuh.
  • Nyeri pada bahu dan punggung

    Tak hanya merasakan sakit perut, pengidap kolesistitis juga merasakan nyeri yang menjalar ke area bahu kanan maupun punggung.
  • Mual

    Pengidap kolesistitis juga akan merasakan mual hingga kehilangan nafsu makan akibat terganggunya fungsi kantong empedu.
  • Demam

    Selain itu, peradangan kantong empedu juga dapat menyebabkan pengidap kolesistitis mengalami demam.

Umumnya gejala kolesistitis terjadi setelah makan terutama makanan berlemak. Jika gejala ini dibiarkan dan tidak ditangani secara cepat, pengidap kolesistitis dapat mengalami komplikasi yang dapat mengancam jiwa, karena kantong empedu mengalami infeksi dan dapat pecah.

Murphy's sign untuk diagnosis penyakit kolesistitis

Saat kolesistitis terjadi, kantong empedu mengalami peradangan sebagai akibat dari tersumbatnya saluran empedu. Saluran empedu dapat mengalami penyumbatan karena beberapa hal berikut ini:

  • Batu empedu

    Umumnya, saluran empedu tersumbat akibat keberadaan batu empedu. Beberapa penelitian mengungkapkan, partikel bertekstur keras terbentuk akibat empedu mengandung begitu banyak kolesterol hingga bilirubin.
  • Tumor

    Kolesistitis juga dapat terjadi karena saluran empedu mengalami penyumbatan akibat keberadaan tumor.
  • Gangguan pembuluh darah

    Saat pembuluh darah mengalami gangguan, aliran darah ke kantong empedu menjadi tidak lancar, sehingga empedu berisiko mengalami peradangan.

Tips untuk kurangi risiko kolesistitis

Menjaga berat badan ideal bisa kurangi risiko gangguan empedu.

Tidak perlu menjalani tes Murphy's sign jika Anda memiliki kantong empedu yang sehat. Anda dapat mengurangi risiko mengalami gangguan empedu, seperti kolesistitis dengan melakukan beberapa tips berikut ini:

1. Makan secara teratur

Keberadaan batu empedu dapat menyebabkan kantong empedu tersumbat dan mengalami peradangan. Untuk mencegahnya, makanlah secara teratur. Sebab, pola makan yang berantakan dapat mengakibatkan terbentuknya partikel batu empedu.

2. Menjalani pola makan sehat

Batu empedu yang menyebabkan kolesistitis juga bisa terjadi karena kadar kolesterol yang terlalu tinggi. Untuk menghindarinya, biasakan mengonsumsi makanan sehat rendah kolesterol, seperti sayur, buah, biji-bijian, olahan kedelai dan ikan.

3. Menjaga berat badan ideal

Kelebihan berat badan atau obesitas juga memperbesar peluang Anda memiliki batu empedu penyebab kolesistitis. Untuk mencegahnya, konsumsilah makanan kaya serat yang dapat membantu menurunkan berat badan berlebih.

Anda dapat mengonsumsi buah sebagai menu komplementer harian. Buah yang sangat disarankan sebagai makanan seperti pisang, apel, jeruk, melon, hingga kiwi.

4. Berolahraga secara teratur

Selain menjaga pola makan, Anda juga disarankan melakukan olahraga secara rutin untuk mengontrol berat badan dan mencegah risiko mengalami kolesistitis.

Jeans, P. L. (2017). Murphy’s sign. The Medical Journal of Australia, 206(3), 115–116. doi:10.5694/mja16.00768
Diakses pada 30 Maret 2020

EBM Consult.
https://www.ebmconsult.com/articles/physical-exam-murphys-sign
Diakses pada 29 Maret 2020

NHS.
https://www.nhs.uk/conditions/acute-cholecystitis/
Diakses pada 29 Maret 2020

Litfl.
https://litfl.com/murphys-sign-eponymictionary/
Diakses pada 29 Maret 2020

Artikel Terkait