Murah dan Tahan Banting, Benarkah Piring Melamin Berpotensi Membahayakan Kesehatan?

Piring melamin merupakan alat makan yang banyak dipakai di rumah maupun restoran karena awet serta tak mudah pecah
Hindari menaruh makanan panas di atas piring melamin agar makanan Anda tidak terkontaminasi melamin

Piring melamin adalah salah satu peralatan makan yang sering digunakan oleh berbagai kalangan. Harganya yang terjangkau serta bahannya yang tidak cepat rusak menjadikan melamin sebagai wadah makan andalan, dari mulai untuk keperluan rumah tangga hingga digunakan di restoran-restoran.

Walau demikian, melamin sebagai alat makan sering dikaitkan dengan dampak bahayanya bagi kesehatan. Apakah penyebabnya?

Apa itu melamin?

Melamin adalah senyawa organik dengan rumus kimia C3H6N6. Melamin dapat dikombinasikan dengan formaldehida dan agen lain yang kemudian ditempa dengan panas dan tekanan untuk menghasilkan resin melamin.  Campuran resin melamin tersebut kemudian dicetak menjadi bentuk yang diinginkan, seperti menjadi alat makan berupa mangkuk, piring, mug, dan kadang-kadang juga untuk bahan laminasi pada lantai. 

Melamin adalah bahan serbaguna yang tahan panas dan api. Ketahanannya pun sangat baik karena piring melamin hampir tidak bisa dipecahkan.

Amankah jika menggunakan piring melamin untuk makan?

Jawaban singkatnya, melamin aman digunakan asal sesuai dengan kadar aman yang dapat diterima tubuh.

Reputasi buruk yang melekat pada melamin diawali dari kasus yang menyebabkan keracunan massal bayi-bayi di Tiongkok pada tahun 2008. Hal itu terjadi akibat adanya penambahan melamin secara ilegal ke dalam susu formula untuk bayi. 

Pasalnya, melamin dapat teridentifikasi sebagai kandungan protein pada makanan. Oleh karena itu, terkadang melamin ditambahkan secara ilegal ke dalam produk makanan untuk meningkatkan kandungan protein. 

Namun kasus tersebut merupakan tindak penyalahgunaan, lalu bagaimana dengan piring melamin?

Senyawa melamin memang dapat berinteraksi dan mengontaminasi makanan yang ditaruh di atasnya. Jika sudah terkontaminasi, maka dikhawatirkan dapat terjadi keracunan, menyebabkan kerusakan reproduksi, batu ginjal, kanker nasofaring dan kanker kandung kemih. Akan tetapi, perlu Anda ketahui bahwa sebenarnya ada kandungan aman dari melamin yang dapat masuk ke dalam tubuh, dihitung per harinya (TDI- tolerable daily intake). 

FDA (Food and Drug Administration), sebuah organisasi di Amerika Serikat yang serupa dengan BPOM, menyatakan bahwa dalam sehari, tubuh hanya dapat menerima sampai dengan 0,0063 mg kandungan melamin. Sementara EFSA (European Food Safety Authority) menyatakan bahwa TDI (tolerable daily intake) atau jumlah kandungan melamin yang dapat ditoleransi tubuh dalam sehari yakni sebesar 0,5 mg.

Pada peralatan makan berbahan melamin,  ternyata kandungan melaminnya 250 kali lebih kecil daripada TDI yang telah disebutkan di atas. Dalam pembuatan piring melamin dan alat makan lainnya, pabrik-pabrik menggunakan suhu tinggi yang mengakibatkan hanya sedikit saja kandungan melamin yang masih tersisa. 

Sisa melamin memang dapat berpindah ke makanan yang disajikan dengan piring maupun peralatan makan lainnya. Namun kadarnya terlalu kecil untuk membahayakan tubuh manusia. Kendati demikian, ditemukan fakta bahwa beberapa kondisi dapat meningkatkan kadar melamin pada makanan yang disajikan dalam piring melamin.

Bagaimana tips aman menggunakan piring melamin?

Meski kadar melamin dalam peralatan makan sangat sedikit, namun Anda dapat melakukan hal berikut untuk mencegah dampak negatif dari penggunaan piring melamin:

  • Hindari menyajikan makanan yang memiliki kadar keasaman tinggi pada piring melamin. Makanan yang memiliki kadar keasaman yang kuat seperti jeruk atau tomat sert bentuk olahannya dapat meningkatkan kontaminasi melamin ke makanan yang disajikan di piring melamin.
  • Hindari memakai piring melamin untuk menghangatkan makanan dengan microwave. Sebab, suhu panas yang dihasilkan oleh microwave dapat meningkatkan jumlah melamin yang berpindah ke makanan. 
  • Jika memang ada makanan yang harus dipanaskan, pindahkan makanan tersebut ke wadah lain yang aman terpapar panas sebelum akhirnya ditaruh di wadah melamin. 
  • Sebaiknya, gunakan piring melamin untuk menyajikan makanan dan minuman dengan suhu rendah, seperti roti-rotian, salad, puding, dan sejenisnya. Suhu paling tinggi dari makanan atau minuman yang dapat ditaruh di wadah melamin tidak boleh melebihi 70 derajat Celcius.
  • Jangan menggunakan piring atau peralatan makan lainnya yang berbahan melamin untuk makanan yang akan diberikan pada bayi atau balita. Bayi dan balita lebih rentan terhadap keracunan melamin. Hindari pula memberikan susu formula dalam botol atau gelas berbahan melamin.
  • Jangan lupa untuk senantiasa mencuci peralatan makan berbahan melamin setiap kali Anda selesai memakainya. 

Selain itu, perlu juga untuk diperhatikan bahwa standar keselamatan sangat bervariasi di setiap negara. Jenis alat makan berbahan melamin ini biasanya merupakan produk impor. Jadi standar keamanannya bisa saja berbeda. Selalu lakukan cara aman menggunakan piring melamin di atas untuk menghindari terjadinya keracunan melamin. 

Tanda-tanda keracunan melamin adalah mual, muntah, iritabilitas, adanya darah dalam urine, jumlah urine sedikit atau tidak ada sama sekali, jantung berdebar, Jika tanda-tanda tersebut terjadi, segera kunjungi dokter terdekat atau hubungi sentra informasi keracunan nasional di (021) 4250767 atau (021) 4227875.

ACS Publications. https://pubs.acs.org/doi/10.1021/acs.jafc.7b02083
Diakses pada 24 April 2020

Fisher Scientific. https://fscimage.fishersci.com/msds/96668.htm
Diakses pada 24 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/what-is-melamine#other-concerns
Diakses pada 24 April 2020

WHO. https://www.who.int/foodsafety/areas_work/chemical-risks/melamine/en/index1.html
Diakses pada 24 April 2020

The Spruce Eats. https://www.thespruceeats.com/health-risks-of-melamine-tableware-1908906
Diakses pada 24 April 2020

FDA. https://www.fda.gov/food/chemicals/melamine-tableware-questions-and-answers
Diakses pada 24 April 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3384014/
Diakses pada 24 April 2020

Artikel Terkait