Benarkah Multiple Sclerosis Merupakan Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri?

Saat menderita sklerosis ganda, imun tubuh menyerang sistem saraf pusat yang berada di otak dan tulang belakang
Multiple sclerosis merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat di bagian otak dan tulang belakang

Penyakit multiple sclerosis merupakan salah satu penyakit autoimun yang sangat berdampak pada kehidupan penderitanya. Autoimun adalah kondisi saat sistem imun atau daya tahan tubuh malah berbalik menyerang bagian dari tubuh.

Penyakit multiple sclerosis masih belum sering terdengar di Indonesia dan beberapa orang mungkin masih bertanya-tanya mengenai apa itu multiple sclerosis. Multiple sclerosis muncul karena sistem imun tubuh yang menyerang bagian lapisan pelindung saraf. 

Hal tersebut memicu berbagai gejala berupa rasa sakit pada daerah tubuh tertentu bahkan sampai berefek pada kesehatan mental penderitanya. Penyakit multiple sclerosis selalu dianggap diakibatkan oleh sistem imun yang salah mendeteksi.

Namun, riset memperlihatkan bahwa penyakit multiple sclerosis juga terkait dengan jenis-jenis bakteri yang terdapat dalam usus.

Apakah penyakit multiple sclerosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri di usus?

Penyakit multiple sclerosis bukanlah penyakit saluran pencernaan, tetapi studi menemukan bahwa jenis-jenis bakteri dalam usus penderita penyakit multiple sclerosis membentuk suatu enzim protein yang bernama GDP-L-fucose synthase.

Enzim ini membuat sel T atau salah satu sel imun tubuh yang berada dalam usus teraktivasi. Sel T tersebut berpindah dari usus ke otak dan menimbulkan peradangan yang memicu penyakit multiple sclerosis

Aktivasi ini akan semakin terlihat apabila penderita penyakit multiple sclerosis memiliki variasi gen HLA-DRB3.

Meskipun demikian, masih kurang tepat untuk mengatakan bahwa terdapat bakteri penyebab penyakit multiple sclerosis, karena penelitian mengenai jenis-jenis bakteri dalam usus dan penyakit multiple sclerosis masih memerlukan riset lebih lanjut.

Penyakit multiple sclerosis belum tentu merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri di usus, karena beberapa jenis-jenis bakteri di usus ditemukan dapat mengubah sel plasma atau sel B yang diproduksi pada sumsum tulang.

Sel plasma yang berasal dari usus tersebut bisa masuk ke dalam sistem saraf pusat di otak dan memproduksi IgA yang dapat membantu untuk mengurangi peradangan akibat multiple sclerosis.

Penelitian lain pada tikus mendapati bahwa asam lemak berantai pendek yang diproduksi oleh jenis-jenis bakteri di usus dapat masuk ke sistem saraf pusat dan membantu mengurangi peradangan yang dapat menenangkan sistem imun tubuh.

Salah satu dari jenis-jenis bakteri di usus, yaitu bakteri usus P.histicola diketahui dapat membantu mengatasi peradangan dan mengurangi kerusakan pada pelindung luar saraf pada tikus. 

Bahkan bakteri tersebut ditemukan sama efektifnya dengan obat Copaxone yang digunakan untuk meringankan gejala penderita penyakit multiple sclerosis.

Apakah jenis-jenis bakteri di usus adalah harapan untuk pengobatan penyakit multiple sclerosis?

Saat ditanya apakah penyakit autoimun bisa disembuhkan, jawabannya adalah tidak. Penyakit autoimun ini juga termasuk penyakit multiple sclerosis.

Namun, hal ini tidak berarti tidak ada penanganan atau langkah yang bisa dilakukan untuk meringankan gejala-gejala yang dialami oleh penderita multiple sclerosis

Umumnya, penanganan gejala dari penyakit multiple sclerosis menggunakan berbagai obat dan terapi, tetapi penelitian-penelitian sudah dilakukan untuk mencari pengobatan alternatif untuk mengatasi gejala penyakit multiple sclerosis.

Salah satunya adalah dengan menggunakan kapsul probiotik. Penelitian mengenai kapsul probiotik dilakukan di Iran dan memperlihatkan bahwa penderita penyakit multiple sclerosis merasa lebih baik setelah mengonsumsi kapsul probiotik tersebut selama 12 minggu.

Meskipun demikian, penelitian ini masih penelitian kecil dan karenanya membutuhkan studi yang lebih besar dan banyak.

Cara lain yang masih menjadi pertimbangan adalah transplantasi tinja yang meliputi memasukkan tinja dari orang lain ke dalam usus penderita penyakit multiple sclerosis untuk mengubah cara kerja bakteri-bakteri di usus.

Akan tetapi, cara ini masih belum terbukti efektif dan masih belum direkomendasikan sebagai salah satu penanganan alternatif.

Siapa saja yang rentan mengalami penyakit multiple sclerosis

Penyebab pasti dari penyakit multiple sclerosis belum diketahui dan terdapat berbagai faktor yang dapat memicu perkembangan penyakit multiple sclerosis. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan Anda menderita penyakit multiple sclerosis, yaitu:

  • Jenis kelamin: wanita lebih rentan untuk menderita kambuhnya gejala penyakit multiple sclerosis
  • Merokok: perokok lebih rentan untuk mengalami kambuhnya gejala penyakit multiple sclerosis
  • Keturunan: memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit multiple sclerosis meningkatkan risiko memiliki penyakit multiple sclerosis
  • Usia: penyakit multiple sclerosis sering muncul di rentang usia 16 sampai 55 tahun
  • Infeksi virus: infeksi virus tertentu, seperti infeksi Epstein-Barr dapat menambah peluang mengalami penyakit multiple sclerosis
  • Menderita penyakit autoimun lainnya: menderita penyakit autoimun lain, seperti penyakit diabetes tipe 1, penyakit tiroid, dan sebagainya sedikit meningkatkan risiko terkena penyakit multiple sclerosis
  • Kekurangan vitamin D: kurangnya vitamin D dan kurang terpapar sinar matahari memperbesar kemungkinan mengalami penyakit multiple sclerosis
  • Ras: ras berkulit putih, terutama rasa Eropa Utara, berpotensi mengalami penyakit multiple sclerosis dibandingkan ras Afrika, Asia, dan sebagainya

Apakah ada cara mencegah penyakit multiple sclerosis?

Penyakit multiple sclerosis adalah penyakit yang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Oleh karenanya, pengobatan dan pencegahannya belum bisa ditemukan. 

Meskipun demikian, terdapat beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah penyakit multiple sclerosis, yaitu:

  • Berpuasa ditemukan mampu membantu mencegah kambuhnya penyakit multiple sclerosis pada sebuah percobaan menggunakan tikus
  • Konsumsi vitamin D mungkin mampu menurunkan risiko terkena penyakit multiple sclerosis
  • Riset menemukan bahwa kandungan resveratrol dalam anggur merah atau red wine dapat mengurangi peradangan di otak dan memulihkan lapisan pelindung pada saraf di tikus
  • Konsumsi kopi sekitar empat cangkir dalam sehari memperlihatkan risiko terkena penyakit multiple sclerosis yang lebih rendah

Tetap konsultasikan ke dokter mengenai keadaan Anda dan penanganan-penanganan yang efektif bila Anda menderita penyakit multiple sclerosis.

BMJ Journals. https://jnnp.bmj.com/content/87/5/454.full
Diakses pada 13 Agustus 2019

Cell. https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(18)31560-5?_return
Diakses pada 13 Agustus 2019

Clinical Nutrition. https://www.clinicalnutritionjournal.com/article/S0261-5614(16)30214-X/fulltext
Diakses pada 13 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/multiple-sclerosis-prevention#ms-prevention
Diakses pada 13 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/gut-health-linked-to-ms-inflammation
Diakses pada 13 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/multiple-sclerosis/symptoms-causes/syc-20350269
Diakses pada 13 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323380.php
Diakses pada 13 Agustus 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4899145/
Diakses pada 13 Agustus 2019

ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2018/10/181011103636.htm
Diakses pada 13 Agustus 2019

SpringerLink. https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs12035-016-9891-5
Diakses pada 13 Agustus 2019

University of Iowa Healthcare. https://medicine.uiowa.edu/content/ui-study-tests-human-gut-bacteria-potential-therapy-multiple-sclerosis
Diakses pada 13 Agustus 2019

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/gut-bacteria-and-multiple-sclerosis-4067079
Diakses pada 13 Agustus 2019

Wiley Online Library. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/ane.13045
Diakses pada 13 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed