Bila Anda merasa tidak sabar dan mudah tersinggung, bisa jadi ada masalah mental
Amarah biasanya dipicu oleh masalah personal maupun akibat perilaku orang lain

Sangatlah manusiawi ketika seseorang merasa mudah marah karena terpicu hal-hal tertentu. Ada yang mudah marah di saat-saat tertentu saja, namun menjadi masalah ketika mudah marah ini terjadi tanpa bisa dikendalikan. Bisa jadi, ada masalah emosi pada orang yang mengalaminya.

Melampiaskan emosi adalah hal yang baik, termasuk mengeluarkannya dalam bentuk kemarahan. Namun, mudah marah dapat dikategorikan sebagai masalah kesehatan mental apabila tetap terjadi meski pemicunya sederhana.

Penyebab seseorang mudah marah

Tentu sumber kemarahan seseorang bisa berbeda-beda. Beberapa hal yang kerap memicu kemarahan umumnya adalah:

Bahkan pada beberapa kasus, kejadian traumatis dapat mengubah sifat seseorang. Mudah marahnya seseorang dapat dikatakan sebagai masalah mental apabila gejalanya sebagai berikut:

  • Mudah marah hingga mengganggu hubungan dan kehidupan sosial
  • Perasaan ingin menyimpan kemarahan begitu besar
  • Terus-menerus berpikiran negatif
  • Merasa tidak sabar dan mudah tersinggung
  • Kerap berdebat dengan orang lain
  • Melakukan kekerasan saat marah
  • Mengancam orang lain
  • Tidak dapat mengendalikan rasa marah
  • Keinginan melakukan hal-hal berbahaya saat marah
  • Menghindari situasi tertentu karena merasa cemas

Memang belum ada kategori gangguan mental yang spesifik berupa sifat-sifat mudah marah. Meski demikian, ada beberapa gangguan mental seperti borderline personality disorder dan intermittent explosive disorder yang gejalanya termasuk mudah marah.

Kapan mudah marah jadi berbahaya?

Apabila kebiasaan mudah marah terus-menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan terekskalasi hingga ke titik ekstrem.

Perilaku yang paling umum terjadi adalah kekerasan. Contohnya, seseorang yang mudah marah hingga memukul orang lain meski tidak bermaksud melakukannya.

Itulah mengapa sifat mudah marah harus segera dikonsultasikan kepada profesional. Bisa jadi, mudah marah yang dialami merupakan gejala terjadinya gangguan mental tertentu.

Seseorang perlu mendapatkan pertolongan profesional apabila sifat mudah marahnya sudah berujung destruktif. Mulai dari melakukan kekerasan dalam rumah tangga, menghancurkan barang-barang, hingga membahayakan diri sendiri seperti menyetir kebut-kebutan saat sedang marah.

Bukan tidak mungkin orang yang mudah marah akan melakukan kekerasan yang bisa melukai orang lain. Di tahap ini, kebiasaan mudah marah adalah situasi yang serius.

Pertolongan medis bisa berupa sesi konseling hingga kelas untuk mengelola rasa marah. Mengelola emosi akan memberi Anda jembatan untuk mengidentifikasi rasa frustrasi dan bagaimana menghadapinya.

Tak hanya itu, pertolongan medis akan membantu Anda mengidentifikasi pemicu rasa marah dan bagaimana bahasa tubuh ketika akan meluapkan emosi. Apabila mudah marah terdeteksi sebagai gejala gangguan mental, pihak konselor akan membantu mengendalikannya.

Cara mengatasi kebiasaan mudah marah

Selain mencari bantuan dari profesional, cara mengatasi kebiasaan mudah marah juga bisa dilakukan sendiri di rumah. Beberapa langkah yang dapat Anda lakukan adalah:

1. Pelajari teknik relaksasi

Pada dasarnya, teknik relaksasi mengajarkan seseorang untuk bernapas dalam-dalam sembari berpikir tentang hal-hal yang mendamaikan jiwa.

Coba tekniknya dengan menarik napas dari paru-paru, dan perlahan menghembuskannya. Bernapas dalam akan menenangkan saraf-saraf Anda yang tegang. Anda juga bisa mengulang kata-kata yang membuat emosi lebih terkendali.

Kenangan atau imajinasi tentang aktivitas yang menyenangkan dan membantu rileks juga bisa membantu. Olahraga seperti yoga pun dapat membuat Anda lebih tenang.

2. Ubah pola pikir

Mengubah pola pikir tentu berpengaruh pada cara Anda mengekspresikan rasa marah. Ketika seseorang merasa marah, kecenderungannya adalah berpikir secara dramatis. Perlahan ubah pola pikir ini dan fokus pada hal-hal yang lebih rasional.

Hindari kata-kata seperti “selalu” atau “tidak pernah” dalam pikiran Anda. Pemikiran tersebut dapat membuat kemarahan Anda semakin meluap-luap.

3. Selesaikan masalah

Terkadang, seseorang bisa menjadi mudah marah karena masalah yang sedang dihadapinya saat itu. Ingat, marah bukan solusi untuk mengatasi masalah. Fokuslah pada solusi dan bagaimana menyelesaikannya.

Apabila sesuatu berjalan tidak sesuai dengan harapan, jangan kecewa. Cari solusi atau alternatif lain untuk mengatasinya.

4. Komunikasi

Kebiasaan mudah marah juga kerap membuat seseorang langsung mengambil kesimpulan tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Akurasinya pun dipertanyakan. Artinya, ketika Anda merasa marah, coba berpikir lebih dulu sebelum marah.

Dengarkan orang lain yang memberi masukan terhadap pemicu yang Anda alami. Dengan berkomunikasi, Anda bisa menyelesaikan masalah sebelum rasa marah terus meningkat.

Dengan berusaha mengendalikan emosi, maka kebiasaan mudah marah perlahan bisa ditinggalkan. Ingat, kemarahan tidak akan membawa manfaat pada hidup. Semakin terkendali emosi, semakin baik pula kualitas hidup seseorang.

Healthline. https://www.healthline.com/health/why-am-i-so-angry#outlook
Diakses 22 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/intermittent-explosive-disorder/symptoms-causes/syc-20373921
Diakses 22 Oktober 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/evil-deeds/200904/anger-disorder-what-it-is-and-what-we-can-do-about-it
Diakses 22 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed